Reformasi in Memoriam: Pergerakan Mahasiswa Zaman Now, Belenggu Atau Apatis?

Iklan Advertisement
Majelissirah.com - Oleh: Desi Permata Sari

Dunia kampus dan kehidupan mahasiswa pasti memiliki pergulatan cerita yang berbeda dari masyarakat biasa. Ibarat prisma dan bangun datar segi banyak lainnya, ada beragam sisi pandang mahasiswa melihat fenomena di sekitarnya. Masing-masing sisi membawa pandangan dan tanggapan yang berbeda atas fenomena yang terjadi di sekitarnya. Tergantung bagaimana mahasiswa memilih sebuah sudut pandang yang mampu membawa arah cerita kehidupannya di dunia kampus. Apakah mahasiswa memilih untuk bercengkrama, berdiskusi, berpolitik kampus, ataupun hanya sekedar datang dan pulang tanpa membawa kesan.

Mengenang dua dasawarsa reformasi, 20 Mei yang diperingati sebagai hari kebangkitan nasional layaknya agenda tahunan yang manis juga pahit untuk dikenang oleh rakyat Indonesia terkhusus aktivis mahasiswa. ‘Parlemen-Parlemen Jalanan’ dengan gagah berani menyuarakan aspirasi rakyat, sebagaimana parlemen semestinya. Setelah tumbangnya Orde Baru, gerakan mahasiswa perlahan semakin memudar. Meskipun sejak era reformasi tidak ada lagi kebijakan seperti NKK/BKK, tetapi bekas-bekas kebijakan itu masih ada meskipun dengan kebijakan dan cerita berbeda yang mengarah kepada pembelengguan mahasiswa.

Pergerakan mahasiswa tidak semasif dahulu. Aktivis mahasiswa zaman sekarang mengalami kelesuan gerakan. Minat mahasiswa kekinian untuk aktif dalam organisasi pergerakan semakin menurun. Mereka cenderung lebih suka berhimpun sesuai minat bakat yang lebih praktis. Misal saja fotografi, olahraga, musik, traveling, kuliner dan sebagainya. Tren kekinian mahasiswa lebih suka berkecimpung dalam industri kreatif daripada pergerakan. Hal ini sesuai dengan teori generasi Strauss-Howe, sejarawan yang menelusuri sejarah Amerika Serikat secara mendalam, di mana penelitiannya mencetuskan suatu teori bernama Teori Generasi. Bahwasanya setiap generasi memiliki kepribadian yang berubah-ubah selama perkembangannya.

Seiring perkembangan zaman, aksi unjuk rasa turun jalan sudah mulai  dianggap usang. Aksi unjuk rasa turun jalan yang menjadi konsistensi gerakan pada dasarnya adalah salah satu cara yang menjadi cara terakhir mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi. Namun kini unjuk rasa bukan lagi sarana utama dalam menyampaikan aspirasi agar cepat didengar. Sejak beberapa tahun terakhir, penyampaian aspirasi secara terbuka telah bergeser dari turun jalan ke media sosial seiring semakin mudahnya masyarakat mengakses internet. Beraspirasi di media sosial nyatanya dianggap lebih efektif dan efisien. Tak perlu mengumpulkan banyak massa di jalan, aspirasi sudah bisa diketahui pemegang kebijakan. Bahkan dari media sosial, telah banyak lahir kebijakan-kebijakan pemerintah.

Meski begitu pergerakan mahasiswa tetap ada peminatnya. Walaupun lebih cenderung kepada kegiatan berdiskusi, menulis tulisan mendalam tentang satu isu kemudian mengkajinya, lalu mengunggah di website dan menyebarkannya di media sosial. Cara ini dianggap jauh lebih efektif mengkritik dan memberikan solusi kepada penguasa sekaligus mengedukasi masyarakat dibandingkan aksi turun jalan. Arah pergerakan mahasiswa sekarang mulai berubah. Wajar saja, pergerakan mahasiswa terdahulu yang diagung-agungkan itu memang dilakukan oleh generasi yang berkarakteristik jauh berbeda dengan generasi sekarang. Masa dan kondisi serta tekanan sosial yang berbeda melahirkan generasi yang berbeda karakteristiknya.

Membaca karakteristik generasi milenial, pemaknaan yang timbul adalah karakteristik yang pragmatis atau apatis. Dengan dalih amanah yang diemban mahasiswa adalah Tri Dharma, bukan Tritura ataupun enam visi reformasi. Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ada adalah pendidikan, penelitian, dan pengabdian bukan organisasi atau aksi. Pendidikan dan penelitian dianggap lebih tepat untuk mengisi waktu kuliah yang relatif singkat. Toh syarat kelulusan adalah tugas akhir, bukan LPJ organisasi, nilai IPK, bukan banyaknya ikut aksi massa.

Mahasiswa milenial mengalami digitalisasi pergerakan. Peduli dan kontribusi tidak harus berupa demonstrasi turun ke jalan. Tetapi tetap saja, mahasiswa sebagai kaum intelektual dan independen lebih memahami keadaan bangsa karena pendidikan yang diperolehnya berbeda dengan masyarakat biasa. Sudah selayaknya membela kepentingan rakyat demi terciptanya kesejahteraan sosial bukan apatis melihat kesenjangan sosial yang diciptakan kaum-kaum kapitalis rakus yang menggerogoti kedaulatan dari tangan rakyat. Reformasi yang sudah 20 tahun berlalu, nyatanya belum berhasil memperbaiki tatanan kesejahteraan sosial masyarakat, hanya memperbaiki tatanan pemerintahan.

Saatnya gerakan mahasiswa bertransformasi di era kuantum yang menembus ruang dan waktu. Perjuangan gerakan mahasiswa di era digital tidaklah lagi sama dengan zaman old. Realita ini harus ditangkap sebagai peluang, bukan sebagai ancaman atas gerakan mahasiswa mainstream. Riset dan kajian dikuatkan. Kemampuan menulis dan berkomunikasi ditingkatkan. Sociopreneur dan pemberdayaan masyarakat disebarluaskan. Teknologi informasi dikuasai, isu dimainkan. Pendidikan karakter, value dan sense of crisis ditanamkan. Selanjutnya tinggal menciptakan dan menjaga momentum gerakan mahasiswa yang lebih kekinian. Peran mahasiswa sebagai creator of change tidaklah berubah, karenanya gerakan mahasiswa seharusnya adaptif dengan perubahan. Peran sebagai social control juga tetap harus terus berjalan. Mahasiswa adalah konseptor sekaligus pemimpin pergerakan perubahan sosial.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Reformasi in Memoriam: Pergerakan Mahasiswa Zaman Now, Belenggu Atau Apatis? "

Post a Comment