Pendidikan Indonesia Mau Dibawa Kemana?

Iklan Advertisement
Majelissirah.com - Oleh : M.H.Chaniago (Ketua DKP KAMMI Medan)

_Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, *mencerdaskan kehidupan bangsa*, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial_

Demikianlah salah satu bunyi dari UUD 1945 tentang tujuan didirikannya negara Indonesia tercinta ini.

Menjelang momen hari pendidikan nasional tepat 2 Mei nanti, maka redaksi *mencerdaskan kehidupan bangsa* menjadi sebuah redaksi yang menggelitik. Dengan satu pertanyaan besar yang pasti menjajah seluruh nalar dan sanubari, sudahkah kehidupan bangsa ini cerdas dan mencerdaskan?

Ditengah momen bonus demografi dan berbagai pergeseran zaman, terbentuk era baru yang saat ini di kenal dengan revolusi industri ke 4.0, ditandai dengan persaingan semakin ketat, produktivitas semakin tinggi namun daya kerja manusia semakin minim. Maka pertanyaan tentang bagaimana sistem pendidikan Indonesia hari ini menjadi sangat sexi, sensi dan terus membumbui berbagai wacana pembangunan kebangsaan. Karena output sistem pendidikan indonesia hari ini menentukan survive atau tereliminirnya bangsa ini pada kompetisi-kompetisi revolusi industri ke 4.0

Jika kita membedah tentang sistem pendidikan Indonesia maka seyogiyanya ada banyak aspek yang harus benar-benar kita kuliti, bagi penulis yang menjadi aspek paling mendasar dan harus terkontruksi dengan benar yaitu aspek sejarah, kebijakan, dan implementasi kebijakan.

Aspek sejarah akan menuntun kita bagaimana membaca dan berdialektika dengan berbagai narasi dan implementasi di masa lalu namun mensintesanya menjadi sebuah narasi besar nan solutif untuk perbaikan hari ini dan nanti.

 Namun satu kesalahan yang paling mendasar saat ini , bahwa narasi sejarah tentang pendidikan yang terbangun hari ini bernilai sangat tendensius dan cenderung sepihak. Sejarah seolah-olah hanya menempatkan Ki Hajar Dewantara sebagai sosok sentral pendidikan Indonesia, padahal ketika kita melihat secara jernih sejarah Indonesia, ada banyak tokoh pendidikan dengan pemikiran serta praktek pendidikannya yang senantiasa berjalan bahkan terus berkembang sampai saat ini seperti Tan Malaka dengan sekolah rakyatnya, KH.Muhammad Dahlan dengan perpaduan pesantren dan sistem sekolah modernisnya sehingga kita banyak melihat ada berbagai institusi pendidikan bernafaskan muhammadiyah, para kiyai-kiyai yang senantiasa mengabdi dalam heningnya pesantren, ada juga Rahmah El Yunussiyah pencetus madrasah wanita pertama di Indonesia tepatnya di thawallib Padang  panjang sekaligus penerima gelar syeikhah Al Azhar pertama wanita.


Pandangan sejarah serta penulisan sejarah yang terkesan kurang adil ini lah yang menyebabkan narasi masa depan Indonesia terkesan Miss sampling dan referensi. Hanya terbatas pada satu sosok dan satu sumber. Maka satu hal yang harus di luruskan adalah penulisan sejarah , agar kita dapat membangun masa depan Indonesia tanpa membiaskan luka.

 bukankah Pramoedya dalam romannya pernah menuliskan sebuah quotes yang melegenda "seorang terpelajar harus sudah adil sejak dalam fikiran apalagi dalam perbuatan".

Ketika kita benar-benar sudah mampu melihat secara jernih bagaimana sejarah maka kita akan dengan sendirinya mampu mengkontruksi arah terbaik pendidikan Indonesia, karena ini akan membantu kita memahami berbagai penyimpangan sistem pendidikan Indonesia saat ini.

Kebijakan besar pemerintah Indonesia saat ini tentang pendidikan termaktub dalam dua undang-undang yaitu UU SISDIKNAS NO.20 TAHUN 2003 dan UU PT NO.12 tahun 2012. Ada banyak analisa kebijakan-kebijakan dari berbagai perspektif, tapi ada dua kritik penulis terhadap dua kebijakan tersebut yaitu tetap memfasilitasi liberalisasi dan komersialisasi dunia pendidikan secara masif.

Salah satu efek diberlakukannya GATS (General Agreement on Trade ini Service) yang juga di tandatangani oleh Indonesia pada tahun 2005 adalah dibuka keran liberalisasi berbagai sektor khususnya sektor pendidikan, hal ini menyebabkan secara tidak langsung sistem pendidikan nasional negeri ini harus menyesuaikan ritme terhadap permintaan kapitalisme global tersebut.

Sehingga sistem pendidikan Indonesia yang seyogiyanya berjiwa kolektifisme dan menjadi tanggung jawab negara sekarang di lemparkan kepada masyarakat itu sendiri bahkan lebih parahnya pihak swasta turut berperan aktif dalam pendidikan negeri ini.

Ini menjadi kontradiksi kebijakan akut yang tak sesuai dengan jiwa UUD 1945, maka wajar ketika kita lihat output dari pendidikan Indonesia bukanlah orang-orang yang mampu mengabdi secara tulus kepada bangsa namun cenderung menjadi tenaga kerja dengan bensinnya bernama rupiah.

Lagi-lagi dalam momentum hari pendidikan nasional ini kita masih dalam gelora yang sama, kita ingin pendidikan yang memiliki orientasi jelas, humanis, demokratis serta memanusiakan kembali manusia.

Dan pertanyaan besar bagi kita semua terkhususnya pemerintah, mau dibawa kemana pendidikan Indonesia?


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pendidikan Indonesia Mau Dibawa Kemana? "

Post a Comment