Masjid Agung Sumut, Pusat Perjuangan dari Masa ke Masa

Iklan Advertisement
Majelissirah.com -Ketika Aksi-Aksi Bela Islam,  Masjid Agung Sumatera Utara adalah tempat titik kumpul ummat Islam.  Tidak hanya itu, ternyata sejarah memang membuktikan Masjid Agung sedari dulu menjadi titik perjuangan ummat.

Sedikit Sejarah Perjuangan Masjid Agung

Dalam Makalah dari Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU Dr Budi Agustono dalam Diskusi Diskusi Fokus Masjid Agung Medan 2016 yang juga telah dipublish Harian Waspada, terungkap sedikit sejarah Masjid Agung yang jarang dipublish. Bahwa pada Masa formasi berdirinya Masjid Agung tahun 1960-an tidak saja sebagai periode kencangnya pertarungan ideologis, juga masa sulit perekonomian bangsa Tahun 1950-an Sumatera Utara memasuki masa dekolonisasi, suatu masa republik muda mulai menata pemerintahan sembari berupaya keluar dari warisan sisa kolonialisme.

Kala itu sebagaimana di daerah lain, pemberontakan daerah memengaruhi lanskap politik Sumatera Utara. Para pendukung pemberontakan daerah di Sumatera Utara bergerilya melakukan perlawanan terhadap republik. Pemberontakan daerah yang berlangsung di beberapa daerah berhasil dipatahkan kekuatan republik. Keutuhan bangsa dapat ditegakkan kembali. Meski keutuhan dan kesatuan bangsa ditegakkan, tetapi pemberontakan daerah tetap memengaruhi psikologi masyarakat, yaitu bayang-bayang perpecahan bangsa.

Memasuki masa demokrasi terpimpin di tahun 1960-an konflik politik dan ideologis semakin mengemuka. Kaum kiri semakin menguat. Menguatnya kaum kiri ini semakin meningkatkan tensi politik antara kaum kiri dengan kalangan Islam. Di Sumut di tahun yang sama ketegangan ideologis antara kaum kiri dan umat Islam semakin dirasakan. Demikian pula dengan tentara yang menjadi salah satu aktor politik berpengaruh masa itu tidak bisa melepaskan diri dalam pusaran politik. Bahkan menjadi bagian melawan kaum kiri.

Ini berefek pada terbatasnya pemasokan bahan material pembangunan masjid kala itu. Kesulitan lain adalah keterbatasan fasilitas yang berdampak terha-dap pembangunan masjid. Alat tulis seperti kertas sebagai kelancaran administrasi pekerjaan sangat sulit didapat. Karena selalu kosong panitia selalu meminta alat tulis ke instansi pemerintah. Alat tulis diperlukan untuk surat menyurat. Fasilitas masjid kala itu, panitia hanya memiliki tiga buah mesin tik, satu mesin stensil, dan sepuluh meja tulis. Kepala surat Panitia telah berlogo Masjid Agung dicetak di rumah Ghazali Hassan. Surat keluar masuk panitia tidak disimpan di sekretariat, demi menjaga ketertiban administrasi, dokumen surat menyurat disimpan di rumah pemilik percetakan ini.

Tahun 1960-an Sumut berada di bawah penguasa perang daerah. Situasi politik yang demikian membuat berbagai kelompok masyarakat, termasuk pengusaha lokal mendekat ke panguasa perang daerah (Pangdam I/Bukit Barisan). Dengan kedekatan relasi sosial ini Pangdam I/Bukit Barisan meminta pengusaha lokal mendonasikan dananya ke Masjid Agung. Meski pengusaha lokal menyokong pendanaan dan umat memakafkan sumbangan, tetapi pelaksana pembangunan masjid masa 1963-1969 diserahkan ke CV. Lima Fajar, milik Li Fung.

Meski diserahkan ke pelaksana pembangunan, tetapi karena keadaan politik masa itu, berpengaruh atas pengerjaan masjid. Menjelang tahun 1964-1965 pengerjaannya dapat dikatakan mandek, masjid belum bisa digunakan shalat berjamaah. Namun karena Masjid Agung tempat berkumpulnya pimpinan penguasa darurat militer, sipil dan pemuka umat Islam, di tempat ini selalu digelar pengajian. Pada 1963 panitia mengundang Presiden Soekarno. Saat melakukan kunjungan kerja ke Sumut tahun 1964, Presiden Soekarno meninjau Masjid Agung. Selang berapa lama, Abdul Harris N asution melakukan kunjungan kerja Sumut tahun 1965. Meskipun belum selesai, mantan petinggi militer di tahun 1950-an ini tetap berkunjung ke Masjid Agung.

Sejak berdirinya 1963-1967 Masjid Agung belum juga selesai dan belum dapat dipakai shalat berjamaah. Pada Juni 1967 dalam kunjungan kerjanya ke Sumut, Presiden Soeharto menyempatkan waktu ke Masjid Agung. Menyaksikan keadaan masjid Presiden Soeharto mengatakan jika umat Islam mempunyai kesadaran tinggi dan tanggung jawab dan persatuan
yang kuat dalam tempo singkat Masjid Agung secara diam-diam bisa selesai.

Setelah kedatangan Presiden, pembangunan masjid yang mandek dimulai lagi. Tiang-tiang bangunan mulai dipancangkan. Persatuan Penghulu seSumut menjanjikan akan mengerahkan tenaga rakyat nuat gotong royong. Ada yang menjanjikan nasi bungkus berapapun yang diperlukan untuk makan massa rakyat yang dikerahkan itu. Tetapi tetap saja fasilitas dan bantuan sumbangan atau wakaf yang diterima panitia terlalu sedikit jika dibanding jumlah total yang harus ada. Sejak 26-30 Agustus 1968 dan 5 September sampai selesainya penimbunan pasir memperoleh bantuan kendaraan truk dari Kodam II dan kendaraan lainnya dari Walikota Medan, Bupati Deliserdang, Angkatan Kepolisian dan PNP2 VII, VIII dan PNP IX serta Purnawirawan ABRI.

Adapun bantuan tenaga gotong royong Medan guna memunggah dan menurunkan pasir dari kalangan masyarakat dari Kesatuan Men Armed Kodam IIBB, masyarakat Sei Mati, Ormas FP4MI, Pemuda Al Ittihadijah Silalas, PPUI Sumut, Pemuda Muhammadiyah, Angkatan Muda Kampung Durian, P3I, Pemuda Mahasiswa Alwasliyah, IIMI, KM I, Pomdan II Bukit Barisan dan Pemuda Batak Islam.

Di tahun 1968 pengerjaan masjid lebih intensif, apalagi Panglima Kodam II/Bukit Barisan Brigjen Leo Lopulisa membantu sebab ini menjadi perbincangan umat Islam karena merasa malu karena masjid tidak kunjung selesai. Masyarakat agar masjid segera selesai, bahkan dipatok rampung pengerjaannya tahun 1969. Ternyata memasuki tahun 1969, belum juga selesai. Baru tahun 1971 Masjid Agung mulai dapat dipakai shalat berjamaah.

Pada tahun 1970-an Gubernur Marah Halim Harahap membantu pembangunan masjid. Pada masa Gubernur EWP Tambunan, tanah yang berdekatan dengan masjid dijual ke PT. Malino yang kemudian ingin menyulap tanah yang berlokasi di sekitar masjid ini untuk kepentingan bisnis. Mendengar itu, Gubernur tidak memberi izin dan menyarankan Masjid Agung sebaiknya membeli tanah PT. Malino tersebut. Masjid Agung tidak memiliki uang membelinya hingga Gubernur langsung membantu.

Pembangunan masjid terus berlangsung. Tahun 1996 sewaktu Gubernur Raja Inal Siregar membangun Kantor Gubernur di Jalan Diponegoro, saat yang sama ia memberi bantuan keramik, aula, dan kantor masjid. Lantai masjid yang sebelumnya tegel berganti keramik. Pelaksana pengerjaan keramik, aula dan kantor adalah perusahaan pembangunan. Setelah Masjid Agung beralas keramik, memiliki aula, kantor, dan pelataran Masjid Agung tampak rapi dan bersih. Hingga seperti penampilan sekarang.


Akan Jadi Masjid dengan Menara Tertinggi di Asia

BKM Masjid Agung Sumatera Utara kini sedang proses pembangunan Masjid sejak awal tahun 2017. Hal ini diungkapkan Ketua Umum BKM Agung, Ustadz Azwir ibn Aziz, beberapa waktu yang lalu.

Ustadz Azwir mengungkapkan Masjid Agung sendiri direncanakan akan memiliki menara tertinggi di Asia setinggi 199 meter. Itu artinya menjadi menara tertinggi di Asia dan tertinggi nomor tiga di dunia setelah Masjid Mohammadia Mega Mosque Aljazair; dan menara Masjid Hasan II di Casablanca, Maroko. Selain itu, akan dibangun juga Islamic Centre tempat belajar dan tahfiz Quran.

Selama ini Masjid Agung Medan mampu menampung sekitar 1.700 jamaah, baik di dalam dan di luar gedung. Dengan rencana pembangunan ini akan diperlebar menjadi 5.000 meter persegi dan mampu menampung 7.000 jamaah, baik di dalam dan halaman masjid.

“Keseluruhan Dana yang kita butuhkan untuk membangun ialah sekitar 450 Miliyar.” Ujar Azwir.

Masjid yang berada di antara kantor Gubernur dan juga sebuah Plaza ini dari segi bangunan memang masih kalah megah ketimbang dua gedung yang mengapitnya. “Kita akan memuliakan rumah Allah serta memperindahnya lebih daripada rumah pejabat dan pebisnis dunia," pungkasnya.

Masjid Agung Medan Sumut Sejuk Didatangi Pejabat dan Pebisnis

Masjid Agung Sumut terletak di Jalan Diponegoro. Letaknya berada tepat di antara gedung pemerintahan Sumatera Utara dan sebuah plaza.

Berdekatan dengan kantor Gubernur dan Pusat perbelanjaan yang cukup besar maka tidak jarang pegawai dari kantor gubernur maupun staff serta pengunjung Sun Plaza sholat di Masjid Agung Medan ini.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Masjid Agung Sumut, Pusat Perjuangan dari Masa ke Masa"

Post a Comment