Makna Tsiqoh yang Tereduksi

Iklan Advertisement
Majelissirah.com - Oleh: Abu Hisymah Al-Madani

1. Tsiqoh adalah salah satu rukun dari Arkanul Bai'ah yang sangat penting dalam membangun soliditas jamaah. Ia seperti semen perekat di antara batu bata bangunan jama'ah yang kokoh.

2. Dengan tsiqoh lah, ketaatan menjadi padat tak terurai. Yang mana sekuat apa pun kepemimpinan, akan menjadi lemah tanpa tsiqoh dan ketaatan. Ini seperti khutbah Abu Bakar As-Shiddiq saat didaulat menjadi Khalifah.

3. Dari sini sepertinya musuh-musuh dakwah (termasuk intelijen) menengarai, bahwa cara yang paling ampuh untuk mengobrak-abrik barisan dakwah adalah dengan memutus tali tsiqoh antara jundi dan qaadah.

4. Maka dimulailah berbagai operasi tasykik (membuat ragu) dan tasywih (memburukkan) image para qiyadah. Seperti dengan menebar vonis sepihak: "tidak kompeten dan kapabel".

6. Hasan Al-Banna menjelaskan: "Yang saya maksud dengan tsiqoh adalah  tenangnya seorang prajurit kepada pimpinannya akan kompetensi dan keikhlasannya. Ketenangan mendalam yang akan membuahkan cinta, pengakuan, penghormatan dan ketaatan."

7. Perlu diingat kembali, tsiqoh adalah rukun terakhir dari Arkanul Bai'ah. Sebelumnya ada rukun-rukun lain yang harus dipenuhi: Fahm, Ikhlas, 'Amal, Jihad, Tadhiyyah, Taat, Tsabat, Tajarrud, dan Ukhuwah.

8. Maka ketenangan hati disini adalah ketenangan hati yang paham dan ikhlas. Bukan kepuasan logika dan hawa yang tidak jelas ukurannya. Apalagi jika ternoda dengan tendensi dan proyek dunia.

9. Maka jika ketenangan itu belum juga tumbuh, ada baiknya kita muhasabah, sejauh mana karya nyata ('amal), pengorbanan (tadhiyyah) dan jihad yang telah kita lakukan. Pantaskah dibandingkan dengan para Qiyadah yang kita ragukan?

10. Maka jika kepuasan itu belum juga hadir, ada baiknya kita berkaca, sekuat apa keteguhan (tsabat) dan totalitas (tajarrud) kita dalam perjuangan. Pantaskah dipadankan dengan para Qiyadah yang (sadar atau tidak sadar) sedang kita lukai harga dirinya?

11. Perlu dipahami juga, bahwa tsiqoh memang akan membuahkan ketaatan. Namun, ketaatan tidak selalu harus menunggu hadirnya ketenangan hati dan kepuasan akal. Jangan dibolak-balik.

12. Karena kadang kala rasionalisasi keputusan tidak bisa dengan gamblang disampaikan. Mungkin karena alasan amniyah (keamanan) atau karena alasan etika (seperti kewajiban menutup aib).

13. Juga kadang kala rasionalisasi keputusan terkendala oleh jarak dan waktu. Sedangkan banyaknya agenda, membuat tak ada jeda untuk menjelaskan dengan detail setiap dinamika yang ada. Inilah mengapa rukun taat didahulukan sebelum tsiqoh.

14. Penting juga untuk dimengerti, proses untuk meraih ketenangan dan kepuasan itu, juga harus dibingkai dengan Rukun Ukhuwah. Disana ada aturan main, ada adab tandzimi dan adab islami yang harus dipenuhi.

15. Bukan dengan menggalang mosi tidak percaya di publik atau mengumbar aurat dan jeroan yang harusnya ditutupi. Disini komitmen manhaji kita akan teruji.

16. Sekali lagi, tsiqoh adalah ketenangan hati yang faham dan ikhlas. Bukan kepuasan hawa yang tidak ada ujungnya.

17. Jangan sampai kita menjadi seperti Bani Israil yang tak pernah merasa tenang dan puas dengan argumentasi dan mukjizat Nabi Musa. Bahkan mereka menuntut bisa melihat Alloh dengan kasat mata dulu baru percaya. Wal 'iyadzu billah...

18. Saat lautan menghadang di hadapan dan di belakang ada tentara Fir'aun yang berjumlah ribuan, tetap saja ragu dengan keputusan Nabi Musa untuk menyeberang lautan.

19. Padahal, kompetensi dan ketulusan Nabi Musa tak teragukan. Telah diturunkan bagi mereka makanan dari surga, bernama Manna dan Salwa, tapi tetap belum subur tsiqoh-nya.

20. Seandainya memang benar para Qiyadah kita lemah seperti yang dikatakan, maka belajarlah dari pemilihan khalifah antara Abu Bakar atau Umar. Sebuah dilema antara keutamaan dan kekuatan.

21. Dr. Muhammad Al-Khathib dalam Nazharat fi Risalatit Ta'alim, pada point tsiqoh, menukil dialog keduanya. Umar berkata kepada Abu Bakar: "Julurkan tanganmu, aku akan berbaiat kepadamu". Abu Bakar menjawab, "Justru aku yang ingin berbait kepadamu!".

22. Lalu Umar berkata: "Engkau yang lebih afdhol dariku!". Abu Bakar pun menjawab: "Engkau lebih kuat dariku!". Hingga dialog itu ditutup dengan kata-kata Umar: "Kekuatanku untukmu bersama keutamaanmu!".

23. Itu jika para Qiyadah benar-benar lemah dan tidak cakap. Lalu bagaimana jika faktanya mereka jauh lebih unggul dalam kemampuan, pengorbanan dan keilmuan?!

24. The last but not least, janganlah menjadi seperti orang-orang yang mengeluhkan berbagai kemunduran dan banyaknya perselisihan di masa Khilafah 'Ali bin Abi Thalib dan membandingkan dengan masa-masa Khalifah sebelumnya.

25. Soalnya kalau dijawab dengan statement 'Ali: "Itu semua karena yang dipimpin di zaman mereka adalah orang-orang sepertiku, dan yang aku pimpin sekarang adalah orang-orang sepertimu",

Kota Nabi, 5 Rabiul Akhir 1438 H.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Makna Tsiqoh yang Tereduksi"

Post a Comment