Ini Pandangan Hasan Basri Tentang KAMMI

Iklan Advertisement
Majelissirah.com -Ketua Umum KAMMI Merah Saga UIN Sumut, Hasan Basri, S.H mengatakan KAMMI bukanlah agama, sehingga menjadi nilai-nilai acuan dan menjadi syarat kewajiban berbai’at untuk mentauhidkan Allah swt. Namun kendatinya KAMMI adalah bentuk wasilah (sarana) yang dengannya kelak agama Islam dapat terinternalisasi dalam setiap jiwa-jiwa umat muslim.

“Dan apabila sesuatu itu dapat menyebabkan tertunainya sesuatu kewajiban, maka menjadi wajib atas nya (sesuatu itu).” Salah satu kesimpulan dalam isti’ab perekrutan karya Fathi Yakan. Memahami letak dan fungsi strategis KAMMI adalah kewajiban setiap orang yang menjadi kadernya.

Sesungguhnya KAMMI adalah wasilah strategis yang dapat menyentuh semua aspek dan lapisan. KAMMI berada di posisi tengah antara kaum elit dan rakyat, ini adalah bentuk selain kepada Mahasiswa, kaum elit dan rakyat pun memiliki hak atas kebermanfaatan KAMMI.

Jelas, sehingga dapat disimpulkan KAMMI menjadi wasilah besar yang dengannya KAMMI harus mampu membesarkan kadernya, pemikirannya, kerjanya, menaikkan taraf wawasannya, meningkatkan kefokusan kinerja output/cita-citanya, dan meningkatkan kedekatan, kebergantungan, keberharapan pada Allah Swt.

“Dan sungguh untuk mewujudkannya, setiap kita kader KAMMI harus berani menghadapi segala bentuk resiko (baik yang bersifat internal maupun eksternal)", ujarnya.

Hal di atas adalah sunnatullah, “Ketika sahabat ingin menunjukkan kecintaannya pada Allah dan rasulnya, tidak jarang para sahabat rela mengorbankan bahkan seluruh harta nya (Abu Bakar ra), mengorbankan nyawanya (Ali ra), dan masih banyak sahabat dan pendakwah lain (organisasi) yang bahkan mati di medan pertempuran/menghadapi segala siksa agar kalimat ilahi dapat tegak terlebih di hati dan hidup setiap muslim", ungkap sosok yang bergelar S.H ini.

Hingga akhirnya, melalui merekalah Allah izinkan agama Islam dapat menjadi nikmat terbesar dalam hidup kita, lalu menjadi orientasi pertama kita hingga dakwah dengan wasilah KAMMI dapat memberi manfaat langsung khususnya pada kader-kadernya.

Hasan menambahkan lagi bahwa isti’ab (perekrutan) yaitu sebuah sistem mengajak mahasiswa untuk bergabung di KAMMI dan mempertahankannya agar kelak kader KAMMI dapat menjadi pemimpin-pemimpin muslim yang setiap harinya dipenuhi ibadah, jihad, dan tawakal, dan setiap harinya memikirkan bagaimana langkah efektif selanjutnya agar cita-cita besar KAMMI dapat tercapai yaitu islamisasi di setiap lapisan dan aspek kehidupan.

"Kita telah mencapai pada beberapa tahap perekrutan saudaraku, tapi isti’ab kita belumlah selesai, bahkan ini akan baru di mulai", jelasnya.

Setiap kader harus mampu memiliki jiwa kaderisasi rasulullah saw, di antaranya;
1. Mencintai sesama kader sebagaimana mereka mencintai dirinya.
Point pertama ini adalah bentuk ibadah kita pada Allah, sebagaimana Allah swt akan mencintai kita ketika kita dapat mencintai saudara kita layaknya diri kita. Ada perbedaan antara mencintai karena Allah swt dengan mencintai karena keduniaan. Yang pertama, ketika kita mencintai saudara kita karena Allah maka akan kita dapati senantiasa mencintai nya apapun kondisinya, apapun sifatnya, apapun jurusannya, apapun sukunya, apapun tahtanya, apapun kelemahannya, dan apapun kecendrungannya. Kedua, ketika kita mencintainya karena dunia; cinta kita akan lemah/hilang karena perbedaan (yang telah disebutkan sebelumnya), cinta kita kan hilang/lemah; karena kesalahannya (membuat kita kecewa, sakit hati dsb), karena mungkin ia tidak seperti yang kita ingin kan.
Cintamu pada sudaramu karena cinta pada Allah swt. akan tumbuh, kepedulian mu akan mengembang terhadap sesuatu yang membuat saudara mu dekat dengan Allah swt.

2. Mendahulukan kepentingannya.
Ini adalah bentuk Itsar. Yaitu kriteria/ ciri terakhir dalam ukhuwah islamiyah.

3. Dimana yang pertama adalah taaruf yaitu saling mengenal (Jasad/ jasmani, fikrah/ aktivitas dan kegiatan, nafs/ karakter kepribadian). Kedua, tafahum yaitu proses penyatuan faham (ta’liful khuluq/ memadukan hati, ta’liful afkar/perpaduan pemikiran, ta’liful amal/(penyatuan kerja). Ketiga, ta’awun yaitu saling menolong. Ditandai munculnya keinginan keikhlasan untuk menolong walau saudara kita tidak mengatakannya. Keempat, takaful yaitu hendaknya kita memiliki rasa senasib sepenanggungan atau saling menanggung beban. Tidak meninggalkan saudara-saudara kita dalam keadaan mereka bekerja/mengemban amanah sendiri. Kelima, ini adalah puncak dari ukhuwah islamiyah yaitu Itsar/ mendahulukan saudaranya dan mendahulukan kepentingan nya. sungguh hati macam apa ini, islam telah mengajari kita menyempurnakan akhlak sesama umat muslim, kendati kita masih dalam proses yang belum sempurna. Semoga Allah swt merhidoi usaha kita.

4. Menasehati jika saudara kita berbuat khilaf/kesalahan (mungkar)
Telah banyak ayat terkait mengingatkan dan menasehati saudara kita ketika mereka dalam kekhilafan, sejatinya ini adalah ujian; bahwa manusia itu lemah sehingga ketika ia khilaf adalah ujian untuk kita, apakah kita dapat mengembalikannya dan menasehatinya dalam kebaikan dan kesabaran.

5. Mengajak saudara kita pada yang makruf
Salah satu investasi bagi umat muslim adalah; ketika kita dapat mengajaknya kepada yang makruf atau kebaikan. Baik dalam hikmah (contoh), atau persuasi (ajakan). Banyak hal yang membuat kita kehilangan saudara kita membersamai kita di jalan dakwah ini, saat kita tergesa-gesa inginkan perubahan pada mereka, saat kita meninggalkan mereka dalam kali pertama, kali kedua mereka menolak ajakan kita (baik ibadah syariat, akhlak, berbagi ilmu, mengikuti kajian/agenda KAMMI). Sehingga kita putus asa lalu meninggalkan mereka. Teruslah mengajak, karena hati adalah milik Allah, ketika Allah izinkan maka ia akan mudah menerima ajakan kita. Dan pakailah pendekatan-pendekatan yang efektif agar mereka tidak merasa tersinggung bahkan membuatnya semakin menjauh.

6. Inovatif dalam bertukar fikiran.
Kreatifitas merupakan ciri kader yang produktif, selalu memunculkan inovasi-inovasi dalam permasalahan yang di analisis. Teman adalah tempat yang potensial untuk merumuskan sesuatu, hingga Berdiskusi terkait bacaan apa saja yang telah ditamati agar direpresentasikan dengan gerakan KAMMI.

7. Komunikasi walau dalam kondisi apapun.
Salah satu syarat apapun hubungan adalah dengan kita menjaga komunikasi. Kendati kesibukan apapun yang melanda kita. Karena komunikasi dapat merapatkan ukhuwah, mendekatkan yang jauh. Perhatian pada saudara kita, adalah bentuk efektif dalam menjalin silaturahim. Jangan sampai ketidak pedulian kita mendominasi.

Insya Allah, ini adalah bentuk isti’ab KAMMI agar mempertahankan kader yang telah terekrut.

Hasan Basri, S. H mengatakan jangan sampai kader KAMMI menelan bulat pernyataan ini, “Sesungguhnya dakwah akan terus berjalan walau tanpa kita. Karena kerugian akan kita dapati, sekalipun itu adalah kebenaran. Katakanlah 'jika ada 1000 orang yang berdakwah, berjihad karena Allah dan rasulnya maka saya adalah salah satu nya, jika ada 100 orang yang berdakwah, berjihad karena Allah dan rasulnya maka saya adalah salah satu nya, jika ada 10 orang yang berdakwah, berjihad karena Allah dan rasulnya maka saya adalah salah satu nya, jika ada satu orang yang dengan nya tidak ada orang lain selain nya, MAKA SAYA PASTIKAN ITU ADALAH SAYA,"

"Maka dari itu kepada para mahasiswa dan mahasiswi ayo gabung bersama KAMMI, dengan bergabungnya Anda di KAMMI, maka Anda akan merasakan perjuangan dakwah islam itu melekat di hati Anda. Jangan lupa catat tanggalnya yaitu tanggal 20-22 april 2018 hari jumat-minggu di KAMMI Mega UINSU", tambahnya. (Ds)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ini Pandangan Hasan Basri Tentang KAMMI"

Post a Comment