Al-Fahmu, Pilar Dakwah yang Terabaikan

Iklan Advertisement
Majelissirah.com -Oleh: MH Chaniago

Ikhwah, sadarkah engkau bahwa yang menjadi rukun Bai'ah pertama dan utama dalam dakwah itu adalah Al Fahmu. Al Fahmu memiliki definisi terminologi yang berarti kepahaman. Pertanyaan terbesarnya apakah yang harus dipahami?

Jawabannya adalah semua tentang Islam dan tujuan Islam. Seyogiyanya Islam meletakkan Al-Fahmu menjadi landasan beragama jauh sebelum Islam mengenal ibadah maghdah seperti shalat, puasa dan zakat.

Hal ini ditandai dengan surat pertama yang diturunkan dalam Al-Qur'an merupakan perintah "Iqra", yang artinya "bacalah". Membaca merupakan sebuah metode untuk mencapai kepahaman yang utuh tentang Islam karena itu Al-Quran dibentuk dalam mushaf-mushaf agar dapat dibaca dan dipahami maknanya. Ayat "Iqra" ini turun jauh sebelum ayat perintah solat turun dan menyapa.

Ini menjadi Ibrah tersendiri bagi Islam, bahwa sebelum beribadah maka kita harus memahami secara komperehensif, integral serta paripurna. Ibadah kita untuk siapa, bagaimana, dan tujuan apa? Pemahaman yang benar nanti maka akan terkulminasi pada satu pemahaman bahwa ALLAHUGHAYATUNNA, Ar-Rasul Qudwatunna, Al-Quran Dusturuna.

Kita akan mencapai pemikiran bahwa Islam adalah agama yang paripurna dan kita diperintahkan oleh ALLAH dalam surat cintanya untuk menjadi insan yang paripurna dengan masuk ke agama yang paripurna ini dan memparipurnakan diri dengan sistem paripurna itu sendiri. Ayat tersebut berbunyi dengan sangat indah
"ya ayyuhallazi na amanuddghulu fiissilmi kaffah, walau tattabiut khutuwatissyaithon, innahulakum aduwwummubin"

Ketika kita sudah mencapai pemahan itu maka kita akan menjadi seperti yang dikatakan oleh Hasan al-banna dalam penjelasannya tentang Al Fahmu bahwa "Islam adalah system yang syamil (menyeluruh) mencakup seluruh aspek kehidupan. Ia adalah Negara dan tanah air, pemerintahan dan umat, moral dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang, ilmu pengetahuan dan hukum, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, serta pasukan dan pemikiran. Sebagaimana ia juga aqidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih

Al-Fahmu inilah yang menjadi pintu masuk menuju pintu masuk selanjutnya yaitu Al-Ikhlas. Karena hakikatnya Ikhlas itu bukan datang sendiri atau memang Ilham dari yang maha tinggi, namun merupakan pencarian yang berdasarkan pemahaman yang utuh , tidak parsial namun integral.

Maka wahai ikhwah berdialektika lah dengan agama ini, carilah kepahaman yang utuh tentang Islam ini dengan sungguh-sungguh. Agar engkau Islam se-islam Islamnya, dan engkau sadar jalan yang engkau tempuh ini hendak kemana

Bukan kah imam syahid Hasan Al Banna berkata bahwa waktu yang ALLAH berikan lebih sedikit dibanding kewajiban kita sebagai seorang hamba? Maka efisienkan dan sederhanakan kerjaan

Maka sudah berapa banyak buku yang engkau baca? Sudah seberapa banyak syekh tempat engkau talaqqi? Sudah seberapa  terbuka akal dan hati untuk berdiskusi? Sadarlah ikhwah bahwa tak ada waktu berleha-leha demi cita-cita.

Jadilah faqih agar setan bingung menggodamu dari celah mana seperti sabda Rasul kita, “Satu orang faqih itu lebih berat bagi syetan daripada seribu ahli Ibadah” [At-Tirmidzi: 5/46. Nomor:2641]

waalahu a'lam bisshawab



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Al-Fahmu, Pilar Dakwah yang Terabaikan"

Post a Comment