Rinduku Pada Muallim, Mas'ud Abidin At-Tambungy

Iklan Advertisement
Majelissirah.com - Oleh : Sabar Sitanggang

Membaca kepala berita Harian Mimbar Umum 7 Maret 2018, aku seperti tersentak. Di Judul itu tertulis,
“Diundang Makan di Istana: Ulama Sumut Harap Jokowi Lanjut”.

Baca juga ini :
Ulama Sumut Dukung Jokowi?

Ada yang bergetar dalam dadaku. Dan tiba-tiba aku teringat dengan sosok salah seorang Guruku di Madrasah, dulu hampir 30 tahun lalu.
*****

Sebagai Anak Tembung, bagian dari Sumatera Utara, aku beruntung.  Di Desa kecil ini aku pernah mengaji, kepada para guru yang kami sebut Muallim. Mualllim-muallim, yang belakang hari, setelah aku pandai dan mengerti arti apa yang kubaca, adalah Muallim-muallim hebat!
Aku ingat, sebagian Muallimku itu: Muallim Mahmud, Muallim Abdul Halim Ombak, Muallim Jambang, Muallim Maradingin, Muallim Syafii, Muallim Alamsyah.
Tapi, satu nama ini sungguh fenomenal, dan tak akan kulupa. Dia adalah MUALLIM MAS'UD ABIDIN.

Kenapa?
Inilah ceritaku, cerita tentang Gurunya Guruku!

Muallim Mas’ud adalah murid dari gurunya yang fenomenal. Dan itu aku tahu  belakang. Dia, Muallim Mas’ud, adalah murid dari Syeikh Arsyad Thalib Lubis.

Muallimku memulai ceritanya.
“Beliau (Arsyad Thalib Lubis, pen), merupakan anggota Masyumi. Beliau juga adalah  seorang  ulama  yang  berani dan  teguh  dalam  pendirian.  Ketika  terjadi  pergolakan di  berbagai daerah  di Indonesia, ia menulis artikel berjudul “Menyelesaikan Perang Saudara dalam  Islam” yang  dimuat  dalam  majalah  Departemen  Agama.  Tulisan  ini menimbulkan berbagai  kritikan  dan kesibukan  di  kalangan  Kejaksaan  Agung dan  Badan  Intelijen  Pusat,  karena  kandungannya  dipandang  tidak  selaras dengan keinginan    penguasa   yang  hendak    menumpas    habis    setiap pemberontakan. Akibatnya, ia dicopot dari jabatannya di Departemen Agama Wilayah Sumatera Utara dan dimutasikan ke pusat.”

Muallimku diam sejenak. Saat itu aku agak malas-malasan mencatat. Tapi, ingatanku masih berjalan, meski tinggal 75 persen.

“Hanya itu Muallim?”komentarku sambil pura-pura serius.
Muallimku tak marah. Dia Muallim yang baik. Entah kenapa, Muallimku senang betul menceritakan peristiwa sejarah berbau politik padaku. Entah, dialah yang tahu.
“Masih banyak. Tapi ini engkau harus ingat, dan nanti engkau cari yang lengkapnya, yo!”kata Muallim dengan logat Melayu Tembung.

Aku mengangguk sambil pura-pura mencatat. Aku tahu Muallim tahu kelakuanku.
*****

Ia terus bercerita.
“Dulu, di zaman orde lama, pada  saat ulama  ramai  mendukung  pemberian  gelar “Wali  al-amri adh-dharuri bisy-syaukah”,”kata Muallim.

“Apa pulak artinya itu Muallim?”tanyaku memotong.

“Engkau dengarlah baik-baik dulu! Kira-kira artinya adalah ‘Penguasa    yang    secara darurat dianggap mempunyai kekuasaan menetapkan  hukum’,”terang Muallim.

Aku kembali mengangguk.

“Nah, gelar itu rencananya akan diberikan kepada Presiden  Soekarno.  Muallim Arsyad Thalib menurunkan tulisan-tulisan  tentang  syarat-syarat ulil amri  yang  menurut  dia sedikit pun  tidak  ditemukan  pada  diri  Presiden  Soekarno.  Hal  ini  menambah kejengkelan penguasa  Orde Lama  kepadanya  sehingga  kepulangannya  ke daerah  tertunda-tunda. Akhirnya,  ia dikembalikan  ke  daerah  dengan  jabatan guru besar yang diperbantukan sampai masa pensiun,”terang Muallimku.

“Wah, seberani itukah Muallimnya Muallim itu, ya?”tanyaku heran.

Muallimku tersenyum.

“Ya, dalam   berpolitik, beliau sangat   berani   dan   kritis terhadap siapa saja yang bersikap tidak sesuai dengan konsep kebenaran memang. Baiklah, satu cerita lagi, dan ini cukup buat engkau nanti,”terang Muallimku.
*****

Entah kenapa, meski awalnya malas-malasan di titik tertentu cerita Muallimku itu menarik, dan aku menikmatinya.

“Nanda, berani   dan   kritis terhadap siapa saja, apalagi penguasa, beliau buktikan dengan sikapnya yang menentang Belanda dalam pembentukan Negara Sumatera  Tim ur  (NST). Sekalipun  sikapnya  ini  bertolak  belakang dengan  pihak  Kesultanan  Deli  yang  selama  ini menjadi sahabatnya dalam membesarkan organisasi yang dipimpinnya, Al-Washliyah. Termasuk juga sikap   kritisnya   terhadap pemerintahan  orde  lama seperti kepada Presiden Soekarno tadi. Beliau adalah  orang  yang siap  menerima  resiko  atas segala  tindakannya, Ananda!”terang Muallimku mengakhiri ceritanya.
*****

“Tapi, akhirnya belaiu wafat juga, kan Muallim!”tanyaku berani.

Muallim tersenyum.

“Ya, pastilah. Setiap yang bernyawa pasti mati. Hmm.. Baiklah Ananda, ini cerita tentang wafatnya Muallim Arsyad. Rasanya perlu pula engkau tahu,"tutur Muallimku.

Aku kembali khusyu' mendengarkan.

"Saat  beliau  berusia  63 tahun ia berpulang   ke rahmatullah,   setelah   menderita penyakit  beberapa  hari.  Pada  hari  itu  juga tersiar  berita  tentang  berpulangnya seorang  ulama  besar.  Ia dimakamkan  di  perkuburan Muslim Jalan  Mabar. Pemakamannya dihadiri beribu-ribu umat Islam laki-laki dan perempuan serta pembesar berganti-ganti menyembahyangkannya, di rumah dan di mesjid jalan Malaka   serta   berebut untuk mengangkat   kerenda   jenazahnya sampai   ke perkuburan,  begitu banyaknya orang yang datang bertakjiah. Buka hanya itu, Ananda, keesokan  harinya,  hari Jumat tahun 1972  di  beberapa  mesjid  di Jakarta dilakukan salat ghaib atas meninggalnya Muallim, yaitu di Mesjid al-Jihad Jalan Jend. A.  Yani,  di  Mesjid  Istiqlal  Taman  Wijaya  Kusuma,  di  Mesjid al-Azhar Kemayoran, di Mesjid al-Munawarah dan di beberapa mesjid lainnya,”terang Muallimku dengan wajah sendu.

Aku terdiam, hanyut dalam keharuan.

“Muallim khawatir, bila nanti Muallim matin adakah orang yang akan bertakjiah? Apalagi sampai di shalat Ghaibkan! Tak usahlah sebanyak orang yang mentakjiahi dan menshalati Muallim Arsyad!”pungkas Muallimku.
*****

Cerita itu sudah berusia  hampir 30 tahun. Tapi begitu lekat dalam ingatanku. Karenanya, saat membaca judul kepala berita di harian yang terbit di Medna itu, aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.

Belakangan hari setelah aku mengerti apa yang kubaca,
Aku tahu bahwa Arsyad Thalib Lubis dikenal dengan ungkapan yang satire,
“Lebih baik kurus asal tetap lurus!”
*****

Untuk kalian,
Muallimku Mas’ud Abidin,
Muallimnya Muallimku Syeikh Arsyad Thalib Lubis
Al-Fatihah!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rinduku Pada Muallim, Mas'ud Abidin At-Tambungy"

Post a Comment