PDPM Kota Medan Sukses Gelar Seminar Nasional Bahas Kepemimpinan Berdasar Quran

Iklan Advertisement


Majelissirah.com -Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Medan menggelar Seminar Nasional dengan tema Peradaban Kepemimpinan Islam Menurut Tafsir Al-Quran pada hari Sabtu (24/3/2018) di Garuda Plaza Hotel Jalan Sisingamangaraja Kota Medan.

Acara yang dihadiri oleh ratusan orang kader Muhammadiyah dan masyarakat umum ini menghadirkan lima narasumber yang membahas peradaban kepemimpinan Islam menurut tafsir Quran.

Dua tokoh nasional sebagai narasumber yakni Tifatul Sembiring (Anggota DPRRI) dan  HM Rden Syafi'i (Anggota DPRRI). Selain itu, kegiatan juga akan diisi oleh Prof Dr Nawir Muslem (Akademisi), Dr. Torang Rambe (Kanwil Kemenagsu), Dr. Ardiansyah (MUI Sumut).  Seminar nasional dibuka langsung oleh Walikota Medan Drs T. Dzulmi Eldin S, MSi.

Dalam penyampaiannya, Tifatul Sembiring menyampaikan bahwa karakter pemimpin dalam Islam ialah pemimpin yang aktif dalam nahi mungkar menjalankan misi umum yakni menzahirkan agama dan bersifat wala terhadap Islam.

"Dari berbagai tafsir, Awliya' dapat bermakna penolong, pembantu, sahabat, dan kerabat," ujarnya.

Tifatul mengingatkan bahwa dalam al-Quran ditegaskan bahwa orang kafir merupakan auliya bagi yang lain saling menolong. Oleh karena itu, ummat Islam harusnya saling membantu dan tidak memilih kafir sebagai auliya sebagaimana dalam QS Al-Maidah 51.

Realita dunia islam hari ini dimana semenjak runtuhnya Khilafah Turki Utsmani, kemudian setelah Concert of Europe. Ummat Islam kini dibagi bagi sehingga kondisi dunia seperti remote control imperialisme.

"Solusi bagi ummat Islam ialah pertama persatuan ummat atau ukhuwah yang  intinya komunikasi dan silaturahum. Tawhidul aqidah-tauhidus shaff-tauhidul 'amal inilah yang membuat persatuan dan kemajuan ummat Islam ," ujar mantan Menteri Kominfo ini.

Sementara itu, pembicara dari PW Muhammadiyah Sumut,  Prof. DR. H. Nawir Yuslem, MA mengingatkan bahwa dalam membahas Islam setidaknya melewati tiga tahapan kajian.

Pertama, Islam sebagai sumber (Islam as a source) yakni islam yang terdapat di dalam sumbernya yakni  yakni Alquran dan Sunnah. Kedua, Islam sebagai pemikiran (Islam as thought), Islam dalam tataran pemikiran atau pemahaman. Hal ini berpeluang menghasilkan adanya variasi atau perbedaan. Selanjutnya adalah Islam itu diamalkan. Islam for practices. Hal inilah yang berkaitan dengan civiliatation dan cultural.

"Sementara, terkait al-Maidah 51 sudah dibahas khususnya pada saat pilgub DKI oleh Prof Yunahar Ilyas. Sudah clear terkait makna auliya atau wali dalam ayat tersebut," ujarnya.

Sedangan Romo Syafii menyampaikan bahwa hanya Islam agama yang bisa membangun peradaban. "Jika ummat Islam yang memimpin atau menjadi mayoritas maka nonmuslim terayomi. Tapi lihatlah, negara mana yang ummat Islam jadi minoritas yang mengayomi ummat Islam," jelasnya.

Sekretaris Umum MUI Sumut, Dr H Ardiansyah juga mengingatkan bahwa MUI sudah lama mengeluarkan fatwa yakni sejak 2009 agar memilih pemimpin seakidah.

Sementara itu, Kanwil Kemenag Sumut, Dr Torang Rambe menegaskan bahwa tidaklah benar bahwa Menteri Agama menginstruksikan perubahan makna auliya dari pemimpin menjadi kawan setia di Al-Maidah 51.

"Sesungguhnya Kemenag hanya sekedar fasilitator apapun tafsir itu berasal dari tim yang terdiri dari para ulama. Sementara kata 'Auliya memang lafaz yang memiliki banyak arti," ujarnya.

Torang menerangkan bahwa sejatinya NU dan Muhammadiyah menjadi sentral Indonesia, sebab mereka menjadi penyeimbang antara ekstrim kiri dan kanan.

"Ada tiga kelompok Islam saat ini, Pertama, Liberalis Sekuler, kelompok ini yang berusaha mengeliminir agama dalam bangsa ini. Kedua, Fundamentalis, selalu bermimpi dan mengidam idamkan masa lalu. Dan yang terakhir adalah Garis Tengah (Moderat), inilah penyeimbang antara dua ekstrim kiri dan kanan," ujar Torang.

Sebelumnya Ketua PDPM Kota Medan, Eka Putra Zakran menjelaskanmaksud dan tujuan dari kegiatan Seminar Nasional ini yaitu untuk mendiskusikan dan merekomendasikan kepada instrumen terkait yaitu kementerian Agama Republik Indonesia terkait adanya kontroversi tafsir Al-Quran khususnya Surat Al-Maidah Ayat 51 tentang Aulia sebagai Pemimpin atau Teman Setia.

Ketua Panitia, Hadi Saputra Panggabean menerangkan bahwa peserta acara selain dari Pemuda Muhammadiyah juga dari perwakilan ormas sekota medan termasuk guru-guru dan Ortom Pemuda Muhammadiyah Sekota Medan.

"Awalnya peserta kita batasi sebanyak 250 namun dengan animo masyarakat yang luar biasa. Akhirnya peserta melebihi apa yang kami targetkan," ujar Hadi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PDPM Kota Medan Sukses Gelar Seminar Nasional Bahas Kepemimpinan Berdasar Quran "

Post a Comment