Meruntuhkan Stigma Pernikahan Nabi

Iklan Advertisement
Majelissirah.com -

Oleh : Datuk Imam Marzuki
Dosen UMSU
Sekretaris Jenderal Pemuda Muhammadiyah Kota Medan

Belakangan muncul kajian kritis menyoroti usia Aisyah r.a saat menikah dengan Nabi SAW. Meski mulanya bermotifkan semangat pembelaan dan pembersihan atas diri Nabi SAW dari stigma dan dakwaan keji. Mereka yang kebanyakan berlatar pendidikan Barat, atau hidup dalam lingkungan kultural Barat, merasa risih jika Nabinya dituding mempelopori praktik perkawinan anak di bawah umur (nikah al-shaghirah atau child marriage). Sejarawan muslim klasik, Ibnu Jarir al-Thabari (838-923 M/224-310 H), menulis dalam Tarikh-nya bahwa seluruh anak Abu Bakar, termasuk Aisyah r.a, dilahirkan di era Jahiliyyah (pre Islamic period). Begitu juga menurut Abu Thahir ‘Irfani, jika Aisyah r.a dilahirkan sebelum Islam, maka itu artinya ia dilahirkan sebelum tahun kenabian, yakni tahun 610 M. Seorang kolektor hadis terkenal, Muhammad bin ‘Abdullah al-Khathib yang wafat 700 tahun silam, menulis biografi singkat tentang para periwayat hadis dalam bukunya Misykat al-Mashabih. Al-Khathib mencatat tentang diri Asma’, puteri tertua Abu Bakar, “Asma’ adalah saudara perempuan dari Aisyah al-Shiddiqah (isteri Nabi SAW), dan ia 10 tahun lebih tua darinya”

Data ini menunjukkan bahwa Asma’ berusia antara 27-28 tahun pada 1 H, tahun di mana peristiwa hijrah ke Madinah terjadi, dan Aisyah r.a saat itu berusia antara 17-18 tahun. Jadi, Aisyah r.a setidaknya berusia 19 tahun saat mulai memasuki kehidupan rumah tangganya pada tahun 2 H, dan berusia 14 atau 15 tahun ketika menikah (tahun ke-10 dari kenabian atau 3 tahun sebelum hijrah). Itu juga berarti bahwa waktu kelahirannya adalah 4 atau 5 tahun sebelum kenabian. Begitu juga Maulana Muhammad Ali dalam buku- berikut, yakni The Prophet of Islam yang diterbitkan Ohio USA 1924, Menurut kesimpulan Muhammad Ali, tidak ada keraguan sedikit pun bahwa Aisyah r.a setidaknya berusia 9 atau 10 tahun pada saat menikah, dan berusia 14 atau 15 tahun ketika mulai berumah tangga.

Begitu juga ada dua laporan peristiwa yang mengindikasikan bahwa Aisyah r.a tidak mungkin lahir setelah tahun kenabian (610 M). Pertama, penuturan Aisyah r.a sendiri dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Kafalat perihal memorinya saat orang tuanya telah menjadi pemeluk Islam, “Saya sama sekali tidak ingat (masa kecilku) kecuali pada saat itu kedua orang tuaku telah memeluk Islam.” Menurut Muhammad ‘Ali, Aisyah r.a tentunya lahir beberapa waktu sebelum orang tuanya memeluk Islam (pada awal tahun kenabian), sehingga ia dapat mengingat saat mereka mempraktikkan Islam sedari awal. Jika Aisyah r.a lahir setelah orang tuanya menerima Islam, tentunya ia tidak akan mengatakan bahwa ia selalu ingat orang tuanya sebagai pengikut Islam. Sebaliknya, jika ia lahir sebelum mereka menerima Islam, maka sungguh masuk akal baginya untuk mengatakan bahwa ia hanya dapat mengingat orang tuanya telah menjadi Muslim, karena ia terlalu muda untuk mengingat hal-hal sebelum mereka memeluk Islam.

Berbicara soal pernikahan maka itu tidak terlepas dari budaya. Banyak diantara suku-suku tradisional di dunia masih melangsungkan pernikahan dibawah umur, yang mana itu lebih karena faktor budaya. Jadi bila memaksa untuk menganalogikan (qiyas) usia pernikahan Aisyah pada zamannya dengan usia pernikahan perempuan pada masa sekarang adalah analogi yang keliru (qiyas ma`al fariq). Karena setiap zaman ada keadaan, adat, dan ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan. Pada masa itu, yakni lebih dari 14 abad silam, Aisyah bukan remaja puteri satu-satunya yang nikah dengan pria seumur ayahnya. Itu sudah menjadi kelumrahan yang banyak terjadi di dalam masyarakat, dan masih banyak lagi kenyataan-kenyataan serupa di kalangan masyarakat pada zaman itu.

Pada saat itu memang syariat belum diturunkan oleh karenanya yang Rasulullah lakukan memang belum dilarang oleh Allah SWT akan tetapi Allah tetap menjaga Nabi Muhammad saw dengan cara membuat Rasulullah Saw baru berkumpul dengan Aisyah ketika beliau memasuki usia baligh atau masa puber. Fakta bahwa tidak ada penolakan sama sekali antara pernikahan Rasulullah Saw dengan Aisyah ra merupakan salah satu bukti bahwa pernikahan dengan wanita merupakan bagian dari budaya masyarakat arab diwaktu itu. Bahkan pemikir orientalis bernama Nabia Abbot menegaskan hal itu: Tidak ada versi cerita memberi komentar terhadap perbedaan umur pernikahan antara Muhammad dan Aisyah atau pada umur waktu pengantin wanita diajukan. Di samping itu, Aisyah dinikahi oleh Rasulullah SAW karena adanya petunjuk dari Allah SWT yang dibawa malaikat Jibril dalam mimpi beliau. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis: "Diperlihatkan dirimu selama tiga malam berturut-turut dalam mimpiku, malaikat mendatangiku sambil membawamu dalam kain sutera. Lalu ia mengatakan: 'Ini adalah calon istrimu', maka aku buka penutup diwajahnya dan ternyata itu adalah dirimu. Sehingga aku berkata: 'Kalau sekiranya mimpi ini datang dari sisi Allah, pasti akan benar terjadi". Berdasarkan petunjuk ini, Pernikahan Rasulullah saw dengan Siti Aisyah merupakan perintah langsung dari Allah. Nabi Muhammad saw kemudian menikahi Aisyah tiga tahun setelah wafatnya Khadijah. Namun, Nabi SAW tidak langsung menggaulinya pada tahun pernikahannya itu, karena situasi dan kondisinya belum memungkinkan.

Kontroversi Poligami Rasul

Berabad-abad sebelum Islam diwahyukan, masyarakat di berbagai belahan dunia telah mengenal dan mempraktekkan poligami. Poligami dipraktekkan secara luas di kalangan masyarakat Yunani, Persia, dan Mesir Kuno. Poligami sama tuanya dengan sejarah kehidupan manusia, malah sebelum agama Islam datang. Orang-orang Eropa yang sekarang kita sebut Rusia, Yugoslavia, Jerman, Cekoslovakia, Belgia, Belanda, Denmark, Swedia dan Inggris semuanya adalah Negara-negara yang dahulunya berpoligami. Karena itu tidak benar apabila ada tuduhan bahwa Islamlah yang melahirkan aturan tentang berpoligami. Di jazirah Arab sendiri jauh sebelum Islam, masyarakat telah mempraktekkan poligami, malahan poligami yang tak terbatas. Sejumlah riwayat meceriterakan bahwa rata-rata pemimpin suku ketika itu memiliki puluhan istri, bahkan tidak sedikit kepala suku mempunyai isteri sampai ratusan.

Dalam konteks inilah, Islam tidak memutar jarum jam sejarah untuk kembali ke masa purba, tapi memperbaiki keadaan yang ada dengan menekankan persamaan, persaudaraan dan keadilan. Karena itu ketika terjadi krisis sosial akibat banyaknya orang yang gugur di medan perang, Nabi tidak berperan sebagai kepala suku yang menyantuni janda dan anak-anak yatim yang mereka tinggalkan, tapi sebagai kepala negara yang harus menjamin kesejahteraan warganya. Karena kas negara terbatas atau bahkan tidak ada, maka warganya yang memiliki kemampuan secara mental dan materiil dihimbau untuk menanggulangi krisis itu dengan melakukan poligami sebagai katup pengaman sosial.

Seperti Saudah binti Zam’ah, janda sahabat dekat Rasulullah bernama Sakran bin Amir yang wafat ketika hijarah ke Abesenia, Ia sudah tua bahkan Monopouse sehingga ia tidak berniat kawin, Ia tidak ada pelindung (wali) dan keluarganya masih beda keyakinan, kalau tidak ada yang mengawininya ada kemungkinan ia harus kembali kepada kaumnya yang masih beda keyakinan dan menjadi muetad, dengan 6 anak diantaranya masih yatim, untuk menyelamatkan melindungi Saudah, maka Rasulullah tampil mendampinginya.  Atau Maimunah atau terkenal dengan nana Juwariyah bnti Harist, wanita rampasan perang dari tokoh yahudi dari Bani Mustalik, menjadi budak, dimerdekakan oleh Rasulullah supaya pulang kepada kaumnya, tetapi ia memilih bersama Nabi, Perkawinan ini bertujuan syar’i agar para sahabat memerdekakan budak dari rampasan perangnya (Q.S. An-Nur 31). Shafiyah binti Hujaiy dan Raihanah binti Zaid, kedunya juga para janda yang menanggung anak-anak yatim dan menderita. Hindun Binti Umayyah, (Umi Salamah), janda dari sahid akibat luka perang uhud (Abdullah Al-Makhzumi), beranak banyak (6 orang) diantaranya yatim.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Meruntuhkan Stigma Pernikahan Nabi"

Post a Comment