Daud Sagita: Kaderisasi KAMMI Gagal Kalau Tak Lahirkan Politisi

Iklan Advertisement


Majelissirah.com -Aktivis Dakwah harus masuk ke percaturan politik karena sejatinya dakwah dan politik itu sejalan. Demikian disampaikan Sekjen PPP Sumut, Daud Sagita dalam Kajian Public Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) PK Merah Saga UIN Sumut, Sabtu (24/3/2018).

"Siyasi adalah bentuk strategi sedangkan dakwah adalah menurut syaikh mahfudz adalah menyeru, mengajak. Jadi, tujuan sebenarnya kita didunia ini adalah dakwah, maka oleh sebab itu jangan pisahkan dakwah dengan politik, politik itu adalah strategi," ujarnya.

Bahkan, Daud menegaskan bahwa jikalau kaderisasi KAMMI dan organisasi Islam lain dapat dikatakan gagal jika tidak mengerti politik.

"Maka kamu selaku aktivis dakwah kata beliau harus masuk dalam percaturan politik, kalau tidak maka kalian akan tersingkir dari negara ini, kalianlah harapan bangsa. Bayangkan kalau kalian semua terjun di dunia politik, maka cita-cita dakwah kalian itu akan tercapai," ujarnya.

Di Negara mayoritas islam, ummat Islam kini tak mampu berbuat apa-apa, dikarenakan yang memimpin di instansi yudikatif, legislatif, eksekutif adalah orang-orang yang tak kuat imannya, sholat masih bertinggalan dan orang kafir masih ¼ kursi menguasai di instansi di indonesia.

"Kita tak bisa berbuat apa-apa, karena separuh kursi DPR RI banyak di isi oleh orang-orang munafik," ujarnya.

Secara lokal, Daud mencontohkan di Sumatera Utara tepatnya Asahan, Batu Bara, Tanjung Balai, masyarakatnya mayoritas islam, tapi masih ada 3 sampai 4 kursi orang-orang kafir itu memimpin.

"Bagaimana mau terlaksana Perda Syariah kalau masih ada mereka, kan ini mustahil. Tapi coba di Tapanuli, berastagi, mereka mayoritas kristen dan DPRD kristen semua, maka apa terjadi, mereka membuat perda miras itu halal," ujarnya.

Sedangkan di Kota Medan, awalnya etnis Tionghoa tahun 2015 belum jadi anggota DPRD Kota Medan. Akan tetapi, sampai saat ini setidaknya telah 4 orang dari etnis Tionghoa yang bisa masuk ke dalam parlemen.

"Kalian harus sudah berbedanah dan sadar bahwa kalian karus mau atau tidak mau kalian harus terjun ke politik, termasuk wanita, wanita itu harus tangguh dan jangan lemah, kuasai politik itu. Kalau kalian aktivis KAMMI tutur beliau tidak bisa melahirkan pemimpin yang pandai politik, maka perkaderan kalian itu gagal," tegasnya.

Sebagai politisi yang juga aktivis dakwah, Daud juga menerangkan bagaimana sifat dai dalam berpolitik. Meskipun PPP mendukung Djarot, akan tetapi dirinya tegas memilih pemimpin yang muslim-muslim.

"Tak boleh idealisme itu dikorbankan demi kepentingan sesaat. Oleh sebab itu meskipun saya dan kawan-kawan dari PPP di suruh milih Djarot, tapi kami tetap, konsisten, kami siap di pecat, asal idealis kami tidak hilang, bayangkan 14 juta penduduk Sumatera Utara, 4 juta penduduk medan 65 % muslim di DPR itu dan 35 % kafir DPR itu," ujarnya.

Sebelumnya, Ketua umum KAMMI Mega UIN Sumut Hasan Basri, S.H menjelaskan bahwa materi yang diterima sangat luar biasa dan sangat memotivasi bahwa data di lapangan kita secara kuantitas kurang.

"Saya berharap dari kader KAMMI inilah lahir pemimpin yang bisa membuat aturan islam itu berlaku kuat di indonesia," pungkasnya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Daud Sagita: Kaderisasi KAMMI Gagal Kalau Tak Lahirkan Politisi"

Post a Comment