Sofia, Istri Nabi dari Bangsa Yahudi

Iklan Advertisement


Majelissirah.com -Di antara istri istri Rasulullah Saw, ada sosok yang belum banyak diketahui oleh sebagian besar ummat Islam. Namun Ia memiliki keistimewaan, yaitu Ummul mukminin Sofia, (Shafiyyah binti Huyaiy bin Akhtab ra.). Sebagai seorang istri yang memiliki nasab kenabian dalam dirinya, Sofia memiliki banyak kelebihan yang patut kita teladani.

Nama lengkapnya adalah Shafiyya binti Huyaiy bin Akhtab bin Syub'ah bin Amir bin 'Ubaid bin Ka'ab bin Al-Khazraj bin Abi Habib bin Nadhir bin Al-Kham bin Yakhurn dari Bani Israil. Nasab Nadhir bin Khan sendiri menyambung kepada Nabi Harun bin Amran as.( Imam Adz-Dzahabi mengatakan, dia adalah ummul mukminin Sofia (Shafiyyah binti Huyaiy bin Akhtab) bin Sa'yah, cucu dari Al-Lawiy, anak Nabi Ya'kub (Israil) bin Ishaq bin Ibrahim, dia juga masih cucu keturunan Nabi Harun as. (Siyar A'Lam Al-Nubala {2:132})

Berdasarkan catatan sejahrawan, Sofia termasuk keturunan Nabi Harun bin Imran as., Saudara Nabi Musa  as. Ayah Sofia merupakan pemimpin Kaum Yahudi Bani Nadhir.

Sofia, merupakan wanita yang mulia, cerdas, berparas cantik, memiiki kehormatan dan kedudukan yang terpandang, juga taat beragama. Ia juga dikenal dengan kelembutan dan kewibawaannya.

Selain itu, Sofia memiliki kelebihan kelebihan yang tidak dimiliki istri istri Rasulullah Saw lainnya. Sehingga Aisyah pun sangat mencemburuinya.
Sebelum Islamnya beliau menikah dengan Salam bin Abi Al-Haqiq, kemudian setelah itu dia menikah dengan Kinanah bin Abi Al-Haqiq. Keduanya adalah penyair yahudi. Kinanah terbunuh pada waktu perang Kaibar, maka beliau termasuk wanita yang di tawan bersama wanita-wania lain. Bilal "Muadzin Rasululllah" menggiring Shafiyyah dan putri pamannya mereka meleweti tanah lapang yang penuh dengan mayat-mayat orang Yahudi. Shafiyyah diam dan tenang dan tidak kelihatan sedih dan tidak pula meratap mukanya, menjerit dan menaburkan pasir pada kepalanya.

Kemudian keduanya dihadapkan kepada Rasulullah saw, Shafiyyah dalam keadaan sedih namun tetap diam, sedangkan putri pamanya kepalanya penuh pasir, merobek bajunya karena maresa belum cukup ratapannya. Maka Rasulullah saw bersabda sedangkan tersirat rasa tidak suka pada wajah beliau : "Enyahkanlah syetan ini dariku." Kemudian beliau saw mendekati Shafiyyah kemudian mengarahkan pandangan atasnya dengan ramah dan lembut, kemudian bersabda kepada Bilal : "Wahai Bilal aku berharap engkau mendapat rahmat tatkala engkau bertemu dengan dua orang wanita yang suaminya terbunuh."

Selanjutnya Shafiyyah dipilih untuk beliau dan beliau mengulurkan selendang beliau kepada Shafiyyah, hal itu sebagai pertandan bahwa Rasulullah saw telah memilihnya untuk dirinya. Hanya kaum muslimin tidak mengetahui apakah Shafiyyah di ambil oleh Rasulullah sebagai istri atau sebagai budak atau sebagai anak ? Maka tatkala beliau berhijab Shafiyyah, maka barulah mereka tahu bahwa Rasulullah saw mengambilnya sebagai istri. Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas r.a bahwa Rasulullah tatkala mengambil Shafiyyah binti Huyai belaiu bertanya kepadanya, "Maukah engkau menjadi istriku?" Maka Shafiyyah menjawab,"Ya Rasulullah sungguh aku telah berangan-angan untuk itu tatkala masih musyrik, maka bagaimana mungkin aku tidak inginkan hal itu manakala Allah memungkinkan itu saat aku memeluk Islam ?"

Tatkala Shafiyyah telah suci Raslullah saw menikahinya, sedangkan maharnya adalah merdekanya Shafiyyah. Setelah beliau perkirakan rasa takut telah hilang pada diri Shafiyyah, beliau mengajaknya pergi menuju ke sebuah rumah yang berjarak enam mil dari Khaibar. Nabi saw menginginkan diri Shafiyyah ketika itu, namun dia menolaknya. Ada rasa kecewa pada diri Nabi karena penolakan tersebut. Kemudian Rasulullah saw melanjutkan perjalanannya ke Madinah bersama bala tentaranya, tatkala mereka sampai di Shabba' jauh dari Khaibar mereka berhenti untuk beristirahat. Pada saat itulah timbul keinginan untuk merayakan walimatul 'urs. Maka didatangkanlah Ummu Anas bin Malik r.a, beliau menyisir rambut Shafiyyah, menghiasi dan memberi wewangian hingga karena kelihaian dia dalam merias, Ummu Sinan Al-Aslamiyah berkata bahwa beliau belum pernah melihat wanita yang lebih putih dan cantik dari Shafiyyah. Maka diadakanlah walimatul 'urs, maka kaum muslimin memakan lezatnya kurma, mentega dan keju Khaibar hingga kenyang.

Rasulullah saw masuk ke kamar Shafiyyah sedangkan masih terbayang pada beliau penolakan Shafiyyah tatkala ajakan beliau yang pertama, maka Shafiyyah menerima Nabi untuk menjalani manjalani malam pertama dengan lembut beliau menceritakan sebuah cerita yang menakjubkan. Beliau bercerita bahwa tatkala malam pertamanya dengan Kinanah bin Rabi', pada malam itu beliau bermimpi bahwa bulan telah jatuh kekamarnya. Tatkala bangun beliau ceritakan hal itu kepada Kinanah. maka dia berkata dengan marah: "Mimpimu tidak ada takwil lain melainkan kamu berangan-angan mendapatkan raja Hijaz Muhammad. Maka dia tampar wajahnya beliau dengan keras sehingga bekasnya masih ada, Nabi saw mendengarnya sambil tersenyum kemudian bertanya, "Mengapa engkau menolak dariku tatkala kita menginap yang pertama? "Maka beliau menjawab,'Saya khawatir terhadap diri anda karena dekat Yahudi Maka menjadi berseri-serilah wajah Nabi yang mulia serta lenyaplah kekecewaan hatinya maka Nabi melewati malam pertamanya tatkala Shafiyyah berumur 17 tahun.

Rasulullah saw masuk ke kamar Shafiyyah sedangkan masih terbayang pada beliau penolakan Shafiyyah tatkala ajakan beliau yang pertama, maka Shafiyyah menerima Nabi untuk menjalani manjalani malam pertama dengan lembut beliau menceritakan sebuah cerita yang menakjubkan. Beliau bercerita bahwa tatkala malam pertamanya dengan Kinanah bin Rabi', pada malam itu beliau bermimpi bahwa bulan telah jatuh kekamarnya. Tatkala bangun beliau ceritakan hal itu kepada Kinanah. maka dia berkata dengan marah: "Mimpimu tidak ada takwil lain melainkan kamu berangan-angan mendapatkan raja Hijaz Muhammad. Maka dia tampar wajahnya beliau dengan keras sehingga bekasnya masih ada, Nabi saw mendengarnya sambil tersenyum kemudian bertanya, "Mengapa engkau menolak dariku tatkala kita menginap yang pertama? "Maka beliau menjawab,'Saya khawatir terhadap diri anda karena dekat Yahudi Maka menjadi berseri-serilah wajah Nabi yang mulia serta lenyaplah kekecewaan hatinya maka Nabi melewati malam pertamanya tatkala Shafiyyah berumur 17 tahun.

Tatkala rombongan sampai di Madinah Rasulullah perintahkan agar pengantin wanita tidak langsung di ketemukan dengan istri-istri beliau yang lain. Beliau turunkan Shafiyyah  di rumah sahabatnya yang bernama Haritsah bin Nu'man. Ketika wanita-wanita Anshar mendengar kabat tersebut mereka datang untuk melihat kecantikannya. Nabi saw memergoki 'Aisyah keluar sambil menutupi dirinya serta berhati-hati (agar tidak dilihat Nabi) kemudian beliau masuk kerumah Haritsah bin Nu'man. Maka beliau menunggunya sampai 'Aisyah keluar. Maka tatkala beliau keluar, Rasulullah memegang bajunya seraya bertanya dengan tertawa, "bagaimana menurut mendapatmu wahai yang kemerah-merahan?" 'Aisyah menjawab sementara cemburu menghiasi dirinya, "Aku lihat dia adalah wanita Yahudi." Maka Rasulullah membantahnya dan bersabda : "Jangan berkata begitu, karena sesungguhnya dia telah Islam dan bagus keislamannya."

Selajutnya Shafiyyah berpindah ke rumah Nabi menimbulkan kecemburuan istri-istri beliau yang lain karena kecantikannya. Mereka juga mengucapkan selamat atas apa yang telah beliau raih. Bahkan dengan nada mengejek mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Quraisy, wanita-wanita Arab sedangkan dirinya adalah wanita asing. Bahkan suatu ketika sampai keluar dari lisan Hafshah kata-kata, "Anak seorang Yahudi" hingga menyebabkan beliau menangis. Tatkala itu Nabi masuk sedangkan Shafiyyah masih dalam keadaan menangis. Beliau bertanya,"Apa yang membuatmu menangis? "Beliau menjawab, Hafshah mengatakan kepadaku bahwa aku adalah anak seorang Yahudi. Rasulullah saw bersabda "Sesungguhnys engkau adalah seorang putri seorang Nabi dan paman mu adalah seorang Nabi, suamipun juga seorang Nabi lantas dengan alasan apa dia mengejekmu?" Kemudian beliau bersabda kepada Hafshah, "Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah!"
Maka kata-kata Nabi itu menjadi penyejuk, keselamatan dan keamanan bagi Shafiyyah. Selanjutnya manakala dia mendengar ejekan dari istri Nabi yang lain maka diapun berkata: "Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad, ayahku adalah Harun dan pamanku adalah Musa?" Shafiyyah r.a wafat tahun 50 H tatkala berumur sekitar 50 tahun, ketika masa pemerintahan Mu'awiyah. Beliau dikuburkan di Baqi' bersama Ummuhatul Mukminin. Semoga Allah meridhai mereka semua.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sofia, Istri Nabi dari Bangsa Yahudi"

Post a Comment