Saudaraku, Mengapa Kita Bela Ulama?

Iklan Advertisement
Majelissirah.com -
✍Qosim Nursheha Dzulhadi
__________
Sejak Aksi Bela lslam (ABl) pada 411 dan 212, spirit membela lslam dan ulama terus menggelora sampai hari ini. Para ulama pun bermunculan untuk kemudian “ditenggelamkan”. Ya, “dibungkam” suaranya. Atau “dihambat” gerak-geriknya. Seolah musuh islam tahu benar bahwa ulama ibarat singa, dan ummat ini adalah laksana hutan. Maka, agar hutan tak lagi seram dan tak menakutkan, maka singanya harus “dibunuh”. Dengan begitu, orang bebas mengeksploitasi hutan.

Tapi, saudaraku! Para ulama kita bukan singa yang dungu. Mereka adalah benar-benar raja hutan. Ummat ini pun bukan sembarang hutan, yang mudah dirambah dan dijarah. Tidak! Singa dan hutan ini akan terus menyatu, bersinergi, dan menggentarkan musuh-musuhnya. Namun, hutan memang harus benar-benar “melindungi” sang singa.

Saudaraku, mengapa kita menjaga para ulama? Mari lihat jawabannya dalam sabda Nabi Muhammad Saw sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir ibn ‘Abdillah,

أكرموا العلماء فإنهم ورثة الأنبياء، فمن أكرمهم فقد أكرم الله ورسوله

```Muliakanlah para ulama, karena mereka adalah pewaris para nabi. Maka, siapa saja yang memuliakan mereka sama dengan memuliakan Allah dan rasul-Nya (nabi Muhammad). ``` (Lihat, Syekh Zainuddin ibn ‘Abd al-‘Aziz ibn Zainuddin al-Malibari, _*Irsyad al-‘Ibad ila Sabil ar-Rasyad*_ (Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1431 H/2010 M), hlm. 19)

Saudaraku, bagaimana mungkin _pewaris para nabi_ kita singkirkan, kita jauhi, kita lecehkan, dan perbuatan tak beradab lainnya. Tidak mungkin! Apalagi jika mereka dikriminalisasi kita diam saja. Tidak mungkin!

Saudaraku, coba hayati dan renungkan pernyataan Nabi Saw berikut ini,

من لم يحزن بموت العالم فهو منافق، فإنه لا مصيبة أعظم من موت العالم

```Siapa yang tak bersedih terhadap kematian seorang ulama, maka dia munafiq. Karena tidak ada musibah yang lebih besar dari kematian seorang ulama.``` (Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Banteni, _*Maraqi al-‘Ubudiyyah*_ (Jakarta: Dar al-Kutub al-lslamiyah, 1431 H/2010 M), hlm. 10)

Maka, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak membela ulama. Apalagi akhir-akhir ini para ulama kita jadi target kriminalisasi, intimidasi, bahkan pembunuhan. Tentu dengan segala daya dan upaya kita harus bentengi, lindungi, dan jaga mereka. Bisa dengan pena kita, dengan lisan kita, dengan harta kita, bahkan dengan nyawa kita. Ayo, raihlah kemuliaan membela ulama kita, saudaraku! Jangan terlambat! Allahu Akbar! (Medan, Jum’at: 2 Februari 2018).[]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Saudaraku, Mengapa Kita Bela Ulama?"

Post a Comment