Psikolog: Pendidikan Indonesia Kartu Kuning

Iklan Advertisement
Majelissirah.com -
sumber : Aktual.com
Pendidikan di Indonesia telah mendapat kartu kuning. Hal itu disebabkan guru dan murid sebenarnya sama-sama tertekan di ruang kelas dan merasa tidak merdeka serta tidak berdaya terkait praktek belajar mengajar. Demikian disampaikan  Psikolog pendidikan Najeela Shihab, Senin (5/2/2018).

"Perasaan tertekan dan ketakutan tidak merdeka dan tidak berdaya terkait dengan praktik belajar-mengajar yang dilakukan sepanjang tahun ajaran. Data menunjukkan kekerasan terjadi bukan hanya pada jam pelajaran, tapi dalam perjalanan ke dan dari sekolah, bahkan di acara-acara di luar kurikuler, yang diselenggarakan organisasi kesiswaan atau yang berkaitan," sebagaimana dirilis Antara.

Hubungan guru dan murid, menurut sosok yang juga seorang pendidik ini hanya dilihat sebagai bonus demografi atau sumber daya. Selama ini, anak tumbuh berdasarkan pemahaman nilai moral dan perilaku sosial dari apa yang dipelajari dari lingkungan. Misalnya dengan mendisiplinkan dengan ancaman, dan sebagainya. 


"Lihat, di sekeliling kita penggunaan zat terlarang, permainan digital yang mengenalkan pada darah, kemiskinan yang menekan. Makanya tak perlu kaget saat anak-anak kita menjadi korban. Pola pergaulan murid di sekolah, tingkat kerusakan atau kehilangan barang, jumlah murid yang absen dari pelajaran dan guru yang absen dari pekerjaan, seharusnya semua ini kartu kuning untuk pendidikan yang selalu diabaikan," kata dia.

Selain itu, penanganan kekerasan dalam pendidikan, jarang berdampak berkelanjutan.  "Pada saat marah, kita bertekad meningkatkan pengawasan, yang seringkali menjadi ajang melabel (kelompok) murid yang beresiko tinggi. Padahal analisa data menunjukkan, pengelompokkan murid yang bermasalah justru mengakibatkan turunnya kepercayaan diri dan meningkatnya kelompol tidak sehat,” jelas anak Quraish Shihab itu.

Menegakkan hukuman berlebihan terjadi bukan hanya di pengadilan tapi juga di peraturan sekolahan. Padahal riset terbaru membuktikan, ancaman dan ketakutan berpengaruh jangka panjang pada perkembangan otak individu sepanjang usia dan budaya lingkungan.

Menurut dia, peraturan di sekolah juga bukan sekadar peraturan yang dipaksakan."Disiplin positif yang dipraktikan guru lah yang akhirnya menggerakkan perubahan, bukan sekadar pencanangan dokumen yang menghabiskan anggaran. Ini kunci guru yang merdeka dan murid yang berdaya, yang kita butuhkan," cetus dia.

Disiplin positif tujuannya bukan patuh, tapi anak sadar dan bertanggungjawab, jadi anak bisa berpikir bukan hanya menurut. 


Anda Caleg? Calon Walikota ? Klik di Sini

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Psikolog: Pendidikan Indonesia Kartu Kuning"

Post a Comment