KARTU MERAH UNTUK SOEHARTO, KUNING UNTUK JOKOWI

Iklan Advertisement
Majelissirah.com -

Sumber foto: tribunnews

Oleh : Dr. Ir. Masri Stanggang
(Ketum GIP-NKRI)

Dalam dunia sepak bola, kartu kuning dari wasit dimaknai sebagai peringatan keras terhadap pemain  yang melakukan pelanggaran secara sengaja, yang jika terulang lagi akan dikeluarkan dari pertandingan. Si penerima kartu kuning memang masih punya kesempatan untuk ikut menyelesaikan pertandingan secara sportif dan sesuai aturan, tapi kalau tidak juga sportif, ya itu tadi, dikeluarkan dari Arena pertandingan : kartu merah !

Jangan mimpi menjadi bintang pertandingan. Kalau sudah kena kartu merah, berharap menang pun jauh panggang dari api.  Sebab, tim tidak lagi menjadi kesebelasan, melainkan kesepuluhan. Mampu bertahan pada skor sebelum kartu merah saja itu sudah bagus sekali, tapi kebanyakan yang terjadi adalah kalah. Si penerima kartu merah pun menjadi tumpahan amarah anggota tim dan suporter fanatik dan dituding sebagai biang kekalahan. Tragis !

Tetapi tidak selalu demikian, memang.  *Zinedine Zidane*, kapten kesebelasan Prancis,  yang diberi kartu merah oleh wasit *Horacio Elizondo* di final Piala Dunia 2006 karena menanduk dada bek Italia, *Marco Materazzi*, malah mendapat simpati dan penghormatan – tidak hanya dari timnya, tetapi juga dari hampir semua pencinta sepak bola di dunia.  Ia, setelah pertandingan itu, bersama timnya diundang oleh Presiden Prancis dan dijamu makan bersama. Banyak club sepak bola kelas dunia mengharapkan pemain berdarah Aljazair itu menjadi pelatih di club mereka.  Zidane memang pengecualian; bukan hanya karena ia mampu mengusai bola di kakinya yang lincah, mendistribusikannya ke teman dalam timnya secara tepat, tapi ia juga memiliki kemampuan memadukan keterampilan bermain dengan seni yang memukau penonton. Banyak orang mengibaratkan Zidane seperti Muhammad Ali, Sang petinju legendaris. Enak ditonton, begitulah pendeknya. Lebih dari itu, Zidane memang punya alasan untuk menanduk dada Materazzi: membela kehormatan keluarga.  Materazzi menghina, menyebut Zidane anak pelacur teroris dan adik perempuannya sebagai pelacur. Memang, saat itu orang Islam sedang mendapat perlakuan tidak mengenakkan, tidak adil, dan dicitrakan sebagai “teroris”.

"Saya hanya akan meminta maaf kepada sepak bola, para suporter dan tim, tapi bukan kepada Materazzi. Saya lebih baik mati daripada meminta maaf kepadanya”, katanya kepada surat kabar Spanyol, El Pais, beberapa waktu setelah peristiwa itu. Orang-orang pun kemudian mengaguminya.  Horacio Elizondo sendiri kemudian mengakui bahwa memberi kartu merah pada Zidane adalah keputusan yang sangat sulit.

Jum’at, 2 Februari 2018, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia *Zaadit Taqwa*  meniup peluit dan mengacungkan “kartu” kuning ke Presiden Joko Widodo yang  hadir berpidato di acara Dies Natalis ke-68 UI. Layaknya permainan sepak bola, Joko Widodo diberi peringatan keras. Dalam bahasa mahasiswa, “masih banyak tugas yang belum diselesaikan”. Tiga persoalan diajukan mahasiswa  untuk mendapat perhatian : kelaparan  dan gizi buruk di Asmad Papua, Plt gubernur dari Polisi aktif dan draf Permendikti tentang organisasi mahasiswa.

Tiga item yang diajukan mahasiswa tersebut sesungguhnya hanyalah simbol belaka dari apa yang dikatakan  “masih banyak tugas yang belum diselesaikan” itu. Masalah besarnya adalah, apa yang diributkan selama ini : kedaulatan dan kesejahteraan rakyat serta  penegakan hukum. Secara lebih spesifik (selain yang menjadi tanggungjwab utama sebagai Presiden) –untuk mengukur kerja yang belum atau tidak dikerjakan oleh joko Widodo sampai dengan usia pemerintahannya lebih dari tiga tahun ini, adalah janji janji kampanye. Dari sisi ini, kita dapat melihat khalayak dalam keadaan kecewa. Berbagai komentar bernada miring tentang Joko Widodo berkaitan dengan janji-janjinya muncul hampir setiap hari di media social.

Gagasan Joko Widodo, yang kemudian membuat namanya melejit di masa kampanye adalah Revolusi Mental. Tulisannya di Harian KOMPAS, 10 Mei 2014, mendapat respon positif dari  kalangan luas. Di situ Joko Widodo menunjukkan sikap anti liberalisme; ingin membangun paradigma, budaya politik dan pendekatan nation building yang lebih manusiawi. Revolusi Mental menggunakan konsep Trisakti Sukarno, yang dijabarkan Joko Widodo antara lain sbb:

(1)  Indonesia yang berdaulat secara politik. Negara dan pemerintahan harus benar-benar bekerja bagi rakyat dan bukan untuk segelintir golongan kecil. Harus diciptakan sistm politik yang transparan, akuntabel serta bersih dari praktik korupsi dan intimidasi. Memperbaiki cara merekrut pemain politik dengan lebih mengandalkan ketrampilan dan rekam jejak ketimbang kekayaan dan kedekatan dengan pengambil keputusan. Penegakan hukum demi wibawa hukum.

(2). Indonesia yang mandiri secara ekonomi. Indonesia harus berusaha melepaskan diri dari ketergantungan diri pada investasi/modal/bantuan luar negeri serta impor pangan dan bahan pokok lainnya.  Ekonomi liberal, kata Joko Widodo, telah menjebak Indonesia sehingga begitu tergantung pada modal asing, sementara sumberdaya alam Indonesia dikuras oleh perusahaan multinasional bersama para “komprador” Indonesianya.  Joko Widodo secara khusu mengeritik kebijakan pemerintahan –pemerintahan sebelumnya yang dikatakannya begitu mudah membuka kran impor pangan dan kebutuhan lain demi memburu kekayaan elit politik dengan tidak memikirkan akibatnya kepada petani. Begitu pula soal investasi luar negeri. Kata Joko Widodo, kita harus tinjau ulang karena angkanya (ingat, tulisan ini disiarkan Joko Widodo sebelum ia jadi Presiden, tepatnya masa-masa pencalonan) sudah menembus rekor dan ternyata sebahagian besar dibenamkam di sector padat modal, tidak banyak menciptakan lapangan kerja tetapi mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

(3). Inonesia yang berkepribadian secara kebudayaan. Sitem pendidikan harus diarahkan untuk membangun identitas bangsa Indonesia yang berbudaya dan beradap yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral agama yang hidup di Indonesia.

Luar biasa memang, gagasan yang jadi janji pokok Jokowi masa itu. Wajar bila ada sebahagian masaryakat yang menilai Joko Widodo memenuhi syarat sebagai “Ratu Adil”. Tetapi, hidup ini memang begitu : Makin besar harapan, makin besar pula rasa kecewanya.  Zaadit Taqwa sepertinya tidak salah. Dia mewakili banyak orang yang kecewa menyaksikan perjalanan pemerintahan Joko Widodo lebih dari tiga tahun ini. Banyak yang dinilai tidak konsisten dalam penegakan kebijakan dan hukum. Belum terang, bagian mana dari Trisakti itu yang sudah menampakkan wujudnya. Impor pangan (malah garam) bahkan menjadi perdebatan. Investasi dan utang luar negeri memnajadi persoalan. Tenaga kerja Indonesia belum terserap, datang pula dari luar negeri. Liberalisme pasar tak terbendung. Politik uang yang tergambar dalam pilkada (contoh, timbunan sembako di pilkasa DKI) terus berlangsung. Hukum masih sangat terasa tajam ke bawah. Aktivis dan ulama merasa dikriminalisasi; dan sebagainya, dan sebagainya… yang berujung pada rasa kecewa dan perlunya kartu kuning buat Joko Widodo.

Masih beruntung Joko Widodo. Suharto, Presiden RI ke-3 (ke-2 adalah Syafruddin Prawiranegara), langsung diberi kartu merah oleh mahasiswa. Tidak ada ampun. Mei 1998. Ia tidak punya kesempatan untuk memperbaiki kinerjanya. Ia harus keluar dari lapangan permainan.
Apakah Joko Widodo juga akan segera mendapat kartu merah ?  Itu sangat tergantung kenerja beliau setelah menerima kartu kuning Jumat di UI Depok itu. Yang pasti, bila dapat kartu merah, nasib Joko Widodo tidak akan semujur Zinedine Zidane.

Orang yang mendapat kartu merah setelah terlebih dahulu mendapat kartu kuning, menunjukkan tingkat kesalahan yang hampir pasti. Bisajadi kesalahan disebabkan kesengajaan, atau bahasala lain ugal-ugalan, bisa juga karena ketidak fahaman sehingga mengulang kesalahan. Dan untuk pemain seperti ini, yang mungkin diterimanaya adalah  tumpahan amarah, baik amarah timnya maupun suporternya. Beerbeda bila orang mendapat kartu merah sekaligus, tanpa pernah mendapat kartu kuning, maka kesalahannya –meski fatal, bisajadi karena terpaksa atau kesilapan yang fatal. Rekan satu tim dan para supporternya sering bisa memahaminya. Bahkan dalam peristiwa tertentu, justeru mengundang simpati. Di sinilah nilai Zinedine Zidane.

Bagaimana Suharto dengan kartu merahnya ? Sayup-sayup, memang angin datang berhembus membawa kenangan masa lalu. Banyak orang yang mulai menikmati kerinduan masa Pak Harto, terutama di masa-masa akhir jabatannya. Bukan karena Suharto _is the best_, melainkan karena belum ada Presiden yang mampu melampaui kepemimpinan beliau. Begitu kata tetangga saya.

Pekan Pertama Pebruari 2018



Ingin omset usaha anda melejit ? Klik di Sini

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KARTU MERAH UNTUK SOEHARTO, KUNING UNTUK JOKOWI"

Post a Comment