Fenomena Dilan dan Tragedi Guru Budi

Iklan Advertisement
Majelissirah.com -

Oleh : Bintang Senja



DILAN, yang menjadi trending topik dua Minggu belakangan. Bahkan banyak hal hal yang dihubungkan dengan DILAN, hanya sekedar untuk menaikkan traffic penjualan atau strategi marketing. Namun, siapa sangka film romansa remaja ini juga mampu menciptakan dampak negatif khususnya pada anak usia remaja.

Kamis (1/2/2018), dunia pendidikan di Indonesia dikejutkan dengan berita tewasnya seorang guru honorer Ahmad Budi Cahyono (26) di SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Diberitakan bahwa guru ini meninggal akibat perlakuan penganiayaan yang dilakukan oleh siswanya sendiri HI (17).

Kejadian bermula saat Guru Budi memberikan materi pelajaran melukis, namun pelaku malah asyik mengganggu teman temannya di kelompok lain. Melihat kelas yang tidak kondusif, guru Budi menasihati pelaku. Namun nasihat itu tak juga diindahkan pelaku. Dan guru Budi pun memberikan peringatan sehingga wajah pelaku dicoret dengan kuas cat. Hal ini membuat pelaku merasa tidak senang, lalu pelaku berdiri dan mencekik leher korban dan memukul leher korban hingga tersungkur.

Kenapa saya menghubungkan kejadian ini dengan film DILAN...???
Kemarin, tepatnya hari Selasa (3/2/2018) saya dan suami menebus rasa penasaran seperti apa film DILAN hingga bisa se-fenomenal ini. Ternyata, selain market penjualan yang sangat bagus, juga di dongkrak dari Novel Dilan the series yang sudah lama beredar. Tapi kenyataannya, diri ini benar benar DILAN-da rasa prihatin, bagaimana kalo anak anak didik, keponakan, juga remaja remaja yang diluar sana mengambil "pesan" moral dari film ini. Karena yang tergambar dalam film itu tak lebih hanyalah sekedar roman picisan, bagaimana DILAN membuat Milea merasa nyaman saat ada di dekatnya. Termasuk soal "kekerasan pada guru" yang jelas scene nya tanpa sensor sedikitpun.

Dalam scene itu, saat upacara berlangsung, Dilan pindah barisan ke deretan kelas Milea dan guru Dilan yang saat itu tengah bertugas di lapangan, begitu mengetahui Dilan baris di tempat yang tak sesuai, langsung menarik kerah baju Dilan, dan DILAN Menyerang dengan serangan yang bertubuh tubi.. ditambah lagi tawuran besar, dengan senjata tajam tanpa sensor, dan bagaimana Dilan mengatur strategi untuk melakukan serangan balasan.

Jiwa saya tergelitik lagi gitu melihat meme yang beredar, "siswa zaman old, penampilan aja yang necis, namun hati tetap melankolis, sama guru hanya bermasalah sebatas lemparan penghapus papan tulis".
Nah, disini peran produser Film dan Lembaga Sensor Film Indonesia harus menjalankan tugasnya dengan baik. Bagaimana menyeleksi sebuah film yang tak hanya sebatas romantisme remaja, namun juga membawa perubahan untuk bangsa.

Scene "kekerasan" dalam film DILAN yang digambarkan sebagai peristiwa pada zaman 90an, jelas dijadikan contoh sama generasi zaman now. Dan saya katakan, dari film DILAN ga ada satupun pesan positif yang disampaikan selain penggambaran kasih sayang yang luar biasa, yang seharusnya hanya boleh di tonton oleh orang yang telah berumah tangga.

Dalam kasus ini, saya sepakat dengan pendapat kak Seto dalam harian Kompas (5/2/2018-16:41), "Ada undang-undang peraturan pidana pada anak sehingga mereka bagaimanapun juga, selain sebagai pelaku keji, kalau dilihat latar belakangnya juga adalah korban dari lingkungan yang tak kondusif yang kemudian menjerumuskan mereka menjadi pelaku-pelaku kekerasan itu," kata Kak Seto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/2/2018).

Jadi, menurut hemat saya, segala perilaku kejahatan dan tindak asusila yang dilakukan anak zaman sekarang, tak lepas dari peran orang orang tua di negeri ini, termasuk pemerintahan dan juga lingkungan yang menjamin konsumsi bermutu untuk anak anak negeri. Kita tidak bisa menjatuhkan hukuman pada anak di bawah umur, juga tak bisa memberikan hukuman yang berat, karena sejatinya anak anak sekarang adalah korban dari teknologi yang diciptakan untuk menghancurkan kekuatan negeri.

Semoga, tidak ada lagi tragedi tragedi Guru Budi yang lain di Negeri ini..
Dan Film Dilan, menurut saya baiknya tidak ditonton, sangat sangat tidak recommended.. 😊😊

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Fenomena Dilan dan Tragedi Guru Budi"

Post a Comment