Camerlengo Carlo Ventresca: Agama, Politik dan Ambisi Setan

Iklan Advertisement
Majelissirah.com -

Oleh : Ustadz Yusuf Al-Amien

Media tiba-tiba kembali gempar sesaat setelah adanya serangan di gereja Santa Lidwina di Bedog, Sleman-Jogjakarta, Ahad 11 Februari kemarin. Syahdan, para aktifis lintas-agama ber-KTP Islam seperti biasanya, mereka kompak berteriak memekikkan kecaman, tuduhan intoleransi, radikalisme dan fundamentalisme kepada tindakan itu. Mereka menuntut agar teror tersebut harus diusut sampai ke akar-akarnya. Anehnya, para aktifis “gado-gado agama” tersebut kemarin-kemarin suaranya tak kedengaran sama sekali saat maraknya “orang-orang gila” yang beroperasi begitu massif dalam mengincar, meneror dan membunuh para Ustadz dan Kiyai di beberapa daerah.

Saya tidak mau mengomentari watak hipokrit ini, saya kira itu sudah tabiat alami yang susah dihilangkan; kalem dan pendiem saat puluhan leher kaum muslimin dipenggal, namun ganas dan beringas saat kuku non-muslim kejepit pintu pagar tetangga. Ini hal basi yang tidak mau saya bahas, dan saya kira dunia ini tidak akan alpa dari makhluk-makhluk semacam itu…

Saya justru tertarik dengan bagaimana aparat memperlakukan pelaku serangan tersebut. Saat membaca beritanya, saya bertanya-tanya dalam hati; mengapa sih pelakunya tidak dilumpuhkan saja, diinterogasi lalu digali informasinya? Begitu sulitkan membekuk seorang pemuda 22 tahun yang “hanya” bersejata tajam padahal pihak aparat menggunakan senjata api? Mengapa sang pelaku ditembak mati dan tidak ditangkap hidup-hidup saja? Pelaku hanya sendirian, tidak membawa sandera, tidak membawa bom, tidak ber-senpi, posisinya sangat telanjang untuk bisa dibidik di anggota tubuh mana pun, tapi mengapa yang ditembak adalah bagian vitalnya? Benar, sudah ada tembakan peringatan, tapi mengapa ujung-ujungnya di-dor mati juga? Apakah keadaannya sudah begitu darurat saat menghadapi penjahat amatiran seperti itu?

Melihat kasus itu, Entah Mengapa Saya Tiba-tiba Teringat dengan novel Dan Brown berjudul “Angels and Demons” yang kemudian diangkat ke layar lebar tahun 2009 silam. Dalam film tersebut dikisahkan bagaimana Robert Langdon mengungkap pembunuhan berantai yang dilakukan oleh seorang penculik sekaligus pembunuh profesional yang bekerja begitu rapi, cekatan dan sigap. Ia bekerja sendiri, tanpa bantuan dan melakukan penculikan serta upaya pembunuhan terhadap 5 preferiti (calon paus) dengan selalu meninggalkan simbol ambigram “Illmuninati” dalam setiap aksinya.

Penculik tersebut telah berhasil melancarkan aksi-aksinya, namun ia gagal untuk membunuh preferiti ke-5, yaitu Camerlengo Carlo Ventresca, asisten dekat mendiang paus yang baru saja meninggal, yang karena itulah para kardinal gereja dalam waktu dekat tersebut akan menggelar konsili untuk mengangkat paus yang baru.

Namun cerita belum berakhir dengan selamatnya Camerlengo, bom Anti-Materi dengan ledakan sedahsyat nuklir telah mengancam Vatikan. Camerlengo pun dengan inisiatifnya akhirnya melakukan aksi heroik dengan membawa “Bom Anti-Materi” itu ke angkasa mengunakan helikopter, saat helikopter itu sudah berada pada titik maksimal, Camerlango pun melompat menggunakan parasut. Bom meledak begitu dahsyat dan Camerlango pun mendarat dengan selamat sebagai pahlawan agama dan negara.

Lalu di sisi adegan lain, pelaku pembunuhan berantai terhadap para kandidat paus tadi, ia mendapatkan pesan bahwa transferan uang dengan jumlah fantastis telah masuk ke rekeningnya. Misinya telah selesai dan upahnya pun telah didapatkan. Ia kemudian mengambil kunci mobil yang telah disiapkan “Majikan”nya yang baru saja kirim duit kepadanya. Namun sesaat mobilnya dibuka, tiba-tiba “Buum!!!…” mobil itu meledak dan jasad pembunuh itu pun hancur berkeping-keping. Dengan demikian, kejahatan pun tertutup rapi. Eksekutor lapangan telah musnah, dan tidak ada orang yang tahu siapa dalang sebenarnya dibalik penculikan dan pembunuhan berantai terhadap para preferiti tersebut.

Singkat cerita, Robert Langdon akhirnya berhasil menguak tabir di balik teka-teki kasus tersebut, dan otak utama di balik pembunuhan para preferiti itu, sekaligus bos dari pembunuh bayaran yang telah dibunuhnya itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Camerlango itu sendiri! Siasatnya begitu rapi dan nyaris sempurna, tapi di balik wajah relijinya tersimpan ambisi menggebu untuk menjadi paus dan menguasai gereja dengan membunuh seluruh pesaingnya! Camerlango sangatlah cerdik, tapi dia terlampau licik! Dan setelah terdedahnya konspirasi yang dilakukannya, Camerlango pun bunuh diri dengan cara membakar tubuhnya sendiri secara hidup-hidup.

****

Kisah fiktif tulisan Dan Brown di atas menunjukkan kepada kita, bahwa ada kalanya untuk menutup rapat-rapat sebuah propaganda jahat, seorang “Otak Utama” yang mendalangi sebuah adegan sandiwara terorisme harus tega untuk membunuh partner dan anak buahnya sendiri. Dalam kisah di atas, pembunuh bayaran tersebut sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan dibunuh oleh majikannya sendiri setelah nanti misinya selesai. Camerlengo Patrick McKenna (aka. Carlo Ventresca) di sini digambarkan sebagai sosok pembunuh di atas pembunuh. Jahat di atas jahat. Iblis berwajah malaikat. Sosok yang selalu berupaya menunggangi agama demi syahwat pribadi, menunggangi politik kotor guna meraih kekuasaan penuh ambisi.

Jadi, selalu ada dalang di balik setiap wayang. Selalu ada komandan di balik setiap pasukan. Selalu ada otak di balik setiap tangan.

Trus, apa hubungannya kasus di Santa Lidwina dengan cerita Angels and Demons di atas?
Gak ada!
Karena yang satu di Jogja, dan satunya lagi di Vatikan.
Yang satu kisah nyata, satunya lagi kisah bohongan.

Selain itu, sedari awal sudah saya bilang, bahwa “…Entah mengapa saya tiba-tiba teringat dengan novel Dan Brown berjudul ‘Angels and Demons’…”
Jadi ibaratnya anda lagi naik Bajaj mau ke KPU (Komplek Perumahan Umat) lalu tiba-tiba ingat mobil Esemka.
Apa hubunganya antara Bajaj dengan Esemka? Gak ada!
Namanya juga lintasan pikiran, gak harus selalu ada hubungannya, kan? 😅😝

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Camerlengo Carlo Ventresca: Agama, Politik dan Ambisi Setan"

Post a Comment