Berbeda Boleh, Bersatu Harus

Iklan Advertisement


Majelissirah.com -By:  Majelis I’tibar

Sampai sekarang, banyak broadcast dimedia sosial (copas dari group sebelah, hanya copas jangan baper dll) yang isinya mengkiritisi pendapat sebagian ulama dan menganggapnya menyelisihi manhaj. Misalnya, mengkritik UAS dalam pendapatnya seputar isbal, mencukur jenggot, doa tahlilan, pembahasan buku 37 Masalah Populer dll, serta mengkritik UAD dalam pendapatnya seputar pembagian bid’ah, fatwa seputar musik dll. Poin demi poin tersebut tentu akan menyita pembahasan yang panjang, toh kami juga tidak memiliki kapasitas memadai untuk menelaah secara detil dan mendalam. Namun semoga tulisan ringan berikut ini sedikit banyak bisa mendewasakan kita semua.

Pertama, perbedaan itu kadang terjadi dan diajarkan langsung oleh rasulullah saw. Doa iftitah dalam shalat, itu versinya banyak, dan semuanya diajarkan sendiri oleh rasulullah. Membaca Al Qur’an dengan beragam dialek itu diajarkan oleh rasulullah sendiri, dan bahkan diajarkan oleh malaikat Jibril sendiri kepada rasulullah. Hingga akhirnya dilakukan penyeragaman bacaan Al Qur’an dimasa Utsman bin ‘Affan, yakni dengan dialek Quraisy.

Kedua, perbedaan itu terjadi dan dibiarkan oleh rasulullah. Maknanya jelas, yakni boleh pakai yang ini boleh juga pakai yang itu. Kisah perbedaan amaliah shahabat dalam memahami perintah shalat ‘ashar di Bani Quraizhah adalah contoh yang paling terkenal. Termasuk kasus perbedaan shalat diantara shahabat, ada yang mencukupkan diri dengan tayamum, ada yang mengulangi lagi shalatnya karena setelah melanjutkan perjalanan bertemu dengan air.

Ketiga, perbedaan pendapat terjadi dikalangan sahabat yang sama – sama ‘alim dan faqih. Ibnu Abas membolehkan memungut upah dari mengajarkan (baca tulis) Al Qur’an sedang Ibnu Umar dengan tegas mengharamkannya. Ibnu Abas membolehkan jual beli mushaf Al Qur’an, Ibnu Umar menolak keras. Prinsipnya, kalau dua orang alim dan faqih berbeda pendapat, berarti harus kita terima sebagai bentuk keragaman. Tidak boleh kita yang awam lalu menggiringnya hanya ke salah satu pendapat saja. Paling – paling, kita bisa menerima dan menerapkannya melihat dari situasi dan konteks yang melingkupinya.

Keempat, perbedaan pendapat memang terjadi, namun ada arus besar dan ada arus kecil. Kita boleh saja mengambil arus besar, tapi tidak boleh menafikan arus kecil. Misalnya, Abu Dzar yang memang zuhud berpendapat bahwa kekayaan itu ada batasnya. Sedangkan mayoritas shahabat berpendapat bahwa kekayaan itu tidak ada batasnya. Fatwanya Abu Dzar jelas tidak bisa kita nafikan begitu saja karena beliau adalah shahabat nabi yang memiliki banyak keutamaan. Meskipun kita sendiri lebih condong pada pendapat mayoritas shahabat.

Kelima, perbedaan cara belajar seringkali menyebabkan perbedaan gaya pembahasan. Orang yang belajar tauhid cenderung akan berpandangan hitam putih dan benar salah (halal atau haram, sunah atau bid’ah). Hal ini sebenarnya tidak ada masalah. Masalah muncul saat kacamata belajar tauhid juga tetap dibawa – bawa saat belajar atau mengkaji persoalan yang bukan tauhid. Akibatnya, semua persoalan dimatanya hanya memiliki 2 alternatif hukum dan sangat sulit baginya menerima pendapat yang berbeda.

Sebaliknya, orang yang belajar fikih cenderung akan memandang semua hal dalam kacamata yang pelangi dan gradasi. Sejak awal, dia memang berineraksi dengan banyak pendapat dari para ulama ahli fikih, yang beristibath dengan dalil pegangannya masing – masing. Dia bukan hanya kenal halal dan haram atau sunnah dan bid’ah saja, tapi dia juga akan kenal hukum makruh, halal/boleh, tidak mengapa, diperintahkan tapi tidak diwajibkan dll. Ini berlaku dari urusan ibadah yang sifatnya kecil – kecil dan nafsi – nafsi, hingga urusan besar yang melibatkan banyak orang (sistem pemerintahan, sistem negara dll)

Keenam, persoalan – persoalan khilafiyah tidak akan menemukan titik temu meskipun dibahas 7 hari 7 malam. Dari dulu, para ulama memang berbeda pendapat seputar hukum musik, hukum bid’ah, hukum tahlilan dll. Jika ada pihak yang menggiring umat ke satu pendapat, pasti ada pihak lain juga yang menggiring umat kependapat yang satunya. Bolak balik diketemukan dalam forum mudzakarah juga tidak membuat pihak A berpindah ke kubunya pihak B, dan atau sebaliknya.

Paling bagus, kita pelajari semua dalil, kita pegang dalil yang kita anggap lebih dekat dengan kebenaran, kita berlapang dada jika orang lain mengikuti dalil yang berbeda. Jangan sekali – kali memposisikan diri sebagai hakim, kecuali ilmu anda memang lebih tinggi dari para ulama ahli fikih dan para mujtahid. Kita biasa mendoakan Ali dan Mu’awiyah sama – sama masuk surga, jadi semestinya jauh lebih mudah pula mendoakan agar kita dan pihak seberang sama – sama diamuni dan sama – sama masuk surga.

Ketujuh, seorang penuntut ilmu tidak akan pernah bisa mendapatkan ilmu dan segala kebaikannya jika dia menentang gurunya. Anggap saja kita sejak kecil (atau sejak hijrah) belajar agama dengan metode A, memegang dalil A dan mengikuti fatwanya ulama golongan A. Jika suatu saat kita bertemu dengan orang alim yang mengikuti pendapat B, memegang dalil B dan mengikuti fatwanya ulama golongan B, jangan langsung kita posisikan sebagai musuh debat. Jangan pula kita pancing dengan pertanyaan – pertanyaan khas seperti ; dimana Allah, apa definisi bid’ah dll untuk kemudian kita debat jawabannya atau kita sebarluaskan pemahamannya dengan caption yang negatif. Pelajari saja dalil – dalilnya dan pahami tokoh ulama yang menjadi sandarannya.

Kedelapan, jangan cepat su’udzan kepada ulama yang pendapatnya ringan dan longgar. Jangan dianggap bahwa ulama yang berfatwa shalat berjama’ah hukumnya sunah (atau tidak wajib) berarti dia jarang menegakkan shalat berjama’ah. Jangan dianggap bahwa ulama yang membolehkan musik (alias tidak mengharamkan) berarti dia sehari – harinya rajin mendengarkan musik dan jarang tilawah. Karena kebiasaan para ulama biasanya akan memberi fatwa yang ringan dan longgar kepada umat (sepanjang tidak melanggar syari’at), tapi akan memberlakukan fatwa yang ketat dan berat bagi dirinya sendiri.

Kesembilan, mari bersyukur jika diantara ulama terjadi perbedaan pendapat. Artinya, kita jadi memiliki alternatif untuk memilih ini atau itu, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada pada kita. Karena jika semua persoalann pilihannya hanya 1, itu sesuatu yang sangat berat. Umar bin Abdul Azis malah bersyukur jika diantara shahabat terjadi perbedaan pendapat, sehingga beliau punya keleluasaan untuk memilih pendapat A atau B. Padahal Umar bin Abdul Azis disebut – sebut oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai mujadid abad pertama. Jika levelnya beliau yang mujadid saja begitu, semestinya levelnya kita yang kategori orang awam lebih bersyukur lagi kan?

Kesepuluh, jika diantara ulama ada salah data, salah informasi dll, tidak harus kita mentahkan atau tolak semua ilmunya. Salah dan lupa itu sesuatu yang manusiawi. Jangankan mereka, nabi Muhammad saw saja pernah lupa jumlah raka’at shalatnya kan? Nabi Muhammad saw pernah salah pertimbangan hingga terjadilah tragedi birr ma’unah. Nabi Muhammad saw pernah salah mengambil keputusan hingga beberapa kali turun ayat yang menegurnya. Tetapi semua hal itu tidak mengurangi keutamaan beliau, tidak mengurangi hormat dan cinta kita kepada beliau dll. Iya kan? Belajarlah kepada Imam Muslim yang tetap menghormati dan mengambil ilmu dari dua gurunya yang saling berselisih satu sama lain.

Ditulis dengan bahasa ringan, agar mudah dipahami oleh semua pihak. Semoga bermanfaat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Berbeda Boleh, Bersatu Harus"

Post a Comment