Ya Rasulullah, Izinkan Aku Belajar Mencintaimu!

Majelissirah.com -

Oleh : Ustadz Qosim Nursheha Dzulhadi




Ya Rasul, aku tak pernah sedikitpun meragukan ketulusan cintamu pada umat ini. Akhir pesanmu sebelum menghadap ar-Rafiq al-A‘la (Tuhan yang Maha Tinggi) adalah: ummati, ummat!

Dan, ketika engkau bangkit dari barzakh, melihat Padang Mahsyar engkau pun bertanya, Maa haadzaa yaa Jibril? (Hai Jibril, ini apa?) Sang malaikat  Ruhul Amin dan Ruh Quds itu pun menjawab, “Haadzaa Mahsyar, yaa Muhammad! (Inilah Mahsyar, hai Muhammad). Lalu, engkau pun bertanya, “Mana umatku? Bagaimana keadaan umatku?”

Ya Nabiyallah, aku tak mungkin meragukan cintamu kepada umat ini, apalagi kepadaku. Pesanmu sebelum wafat dan pertanyaanmu di Mahsyar cukuplah jadi bukti tak terbantahkan akan kesucian cintamu pada kami.

Ya Habiballah, duhai kekasih Allah! Cintamu paling Agung adalah ketika: engkau begitu dahsyat ketika mengajarkan Al-Quran dan Sunnahmu. Agar umat ini sesuai dengan sabdamu, “Selama kalian berpegang kepada Kitabullah dan sunnah rasul-Nya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya.”

Meskipun aku tahu bahwa sudah banyak umatmu yang jauh meninggalkan Wahyu dan “membunuh” sunnahmu. Ya Nabi, itu kondisi terkini. Ya Allah, ampuni kami!

Meskipun begitu, mengapa cintaku padamau belum terpupuk dengan baik. Mengapa Cinta itu belum juga tumbuh dengan kukuh. Mengapa ia belum kuat terpatri dalam hati. Ya Nabiyallah, ternyata aku masih belajar mencintaimu. Maka, izin aku belajar mencintaimu, meskipun secara bersahaja.

Ya Khatamun-Nabiyyin! Hai sang penutup rantai nabi dan kenabian, aku tahu mencintaimu adalah satu kelaziman. Karena, jika kami lebih mencintai bapak kami, anak kami, saudara kami, pasangan hidup kami, keluarga besar kami, bisnis kami, rumah kami, daripada Cinta kepada Allah dan kepadamu: ia tak ada gunanya (Qs. At-Taubah:24).

Realitanya, itu pula yang paling kami cintai. Meskipun akan kami tinggalkan, tetap saja kami pertahankan.

Apalagi jika sabdamu yang disampaikan oleh Sahabat sekaligus pembantumu yang mulia selama 10 tahun, Anas ibn Malik, perih rasanya hati ini. Sabdamu itu,
لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين
Tidak sempurna imanmu, sampai aku menjadi orang yang paling dia cintai daripada anaknya, bapaknya, bahkan dari manusia seluruhnya.

Sekarang aku baru mengerti mengapa lman masih terasa getir, pahit, dan belum manis.

ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرأ لا يحبه إلا لله، و أن يكره أن يعود فى الكفر كما يكره أن يقذف فى النار

Tiga perkara jika ia ada dalam hati seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman: menjadikan Allah dan rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya, mencintai seseorang karena Allah, dan benci kembali kafir sebagaimana tak suka jika dicampakkan ke dalam neraka.

Ya Rasulallah! Masukkan aku ke dalam golongan yang engkau sebutkan:
من أشد أمتي لي حبا ناس يكونون بعدي، يود أحدهم لو رآني بأهله وماله
Umatku yang paling besar cintanya kepadaku adalah: kelompok orang yang datang setelahku (setelah wafatku), dimana dia sangat ingin melihatku, meskipun harus bawa keluarga dan keluarkan harta.

Ya Rasulallah! Aku baru membaca kita Indah tentang dirimu. Tajuknya الشفا بتعريف حقوق المصطفى yang ditulis oleh al-Qadhi Abu al-Fadhl ‘Iyadh al-Yahshubi (w. 544 H). Di dalamnya aku dapati ciri-ciri orang yang mencintaimu, yaitu:

Pertama, menjadikanmu sebagai qudwah (panutan), mengaplikasikan sunnahmu, mengikuti kata-katamu, perilakumu, mengamalkan perintahmu dan meninggalkan laranganmu, beradab dengan adabmu dalam suka maupun duka (hayati Qs. Al ‘Imran:31).

Kedua, mendahulukan segala yang engkau syariatkan dan memerangi hawa nafsu dengan syariatmu itu (Qs. Al-Hasyr:9).

Ketiga, selalu menyebut namamu, mengagungkanmu, khusyuk dan tunduk ketika namamu disebut.

Indah benar apa yang disampaikan oleh Imam Ishaq at-Tujibiy,
كان أصحاب النبي رضي الله عنهم بعده لا يذكرونه إلا خشعوا واقشعرت جلودهم وبكوا، وكذلك كثير من التابعين منهم من يفعل ذلك محبة له وشوقا إليه، ومنهم من يفعله تهيبا وتوقيرا
Para Sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum sepeninggal beliau setiap kali menyebut nama beliau mereka khusyuk dan bergetar kulit mereka, lalu mereka pun menangis. Hal yang sama dilakukan oleh banyak generasi Tabi’in, sebagai bentuk kecintaan dsn kerinduan mereka kepadamu. Ada pula yang melakukannya karena penghormatan dan pengagungan terhadapmu.

Keempat, mencintai siapa saja yang mencintaimu. Termasuk mencintai keluargamu dan para sahabatmu dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Lalu, membenci siapa saja yang membencimu. Karena siapa yang mencintai sesuatu, dia akan mencintai orang yang mencintainya.

Kelima, sayang kepada umatmu, menasihati mereka dan berusah membantu kebutuhan mereka dan menghilangkan mudharat (bahaya) yang mengancam mereka. (Lihat, al-Qadhi Abu al-Fadhl ‘Iyadh al-Yahshubi, _*As-Syifa bi Ta‘rif Huquq al-Mushtafa*_, ed. ‘Abdussalam Muhammad Amin (Beirut-Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2009), 2/16-19).

Semoga aku bisa belajar mencintaimu, ya Habiballah!

Meskipun tak sempurna, izinkan aku belajar mencintaimu. Dan, catatlah cintaku yang “minus” ini sebagai syarat mendapat syafaatmu. Ya Rasulallah, ya Habiballah, izinkan aku mencintaimu!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ya Rasulullah, Izinkan Aku Belajar Mencintaimu!"

Post a Comment