Seandainya Rasulullah Melihatmu, Dia Pasti Mencintaimu !

Iklan Advertisement
Majelissirah.com -

Oleh : Qosim Nursheha Dzulhadi



Sahabatku! Izinkan aku berbagi kebahagiaan kepadamu hari ini. Aku baru saja membaca kembali buku yang pernah beli ketika kuliah di Al-Azhar dulu. Judul bukunya aku jadikan judul tulisanku. Dan isi awal tulisan ini pun dari buku ini. Buku ini aku beli pada 7 September 2006.

Judul bukunya لو رآك لأحبك, ditulis oleh dai terkenal, Syekh ‘Abdurrahman al-‘Arifi. Kira-kira secara bebas makna judulnya adalah judul artikelku ini.

Kata Syekh al-‘Arifi,
_“Orang paling agung yang harus engkau raih cintanya adalah Rasulullah. Ya, hendaknya Rasulullah mencintaimu. Jika engkau bicara dia suka kata-katamu. Jika engkau bertindak apapun, dia suka tingkah-lakumu. Dia sampaikan aura kerinduan jika melihatmu. Dia memberikan syafaatnya di saat engkau dalam huru-hara kiamat. Dan, dia puji engkau di dalam surga. Sehingga penampilanmu seperti penampilannya. Pakaianmu seperti pakaiannya. Janggutmu seperti janggutnya. Dan kata-katamu seperti kata-katanya._

_Ya! Poinnya adalah: bukan engkau yang mencintai Rasulallah. Karena ini bukan hal yang menakjubkan. Karena Rasulullah lah yang berjihad menjaga agama dan berdiri tegak membela hak Allah. Dan, dialah yang sampaikan munajatnya kepada rabbnya untukmu: رب أمتي أمتي (Ya Rabb, ummatku, ummatku!) (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibn Majah dari Abu Hurairah)._

_Tapi... Kesuksesan dan kemenangan besar itu adalah: ketika Rasulullah mencintaimu! Dan sekarang, coba tanya diri masing-masing: “Apakah jika nabi Muhammad melihatmu dia mencintaimu?”_ (Syekh ‘Abdurrahman al-‘Arifi,  📙 _*Lau Ra’aka La’ahabbaka*_ (Maktabah Salsabil, 2005), hlm. 4).

Saudaraku! Aku jujur tak sanggup untuk jawab pertanyaan itu: *Apakah jika hari ini Rasulullah datang dan melihatku dia mencintaiku?*

Apalagi jika datang bertamu ke rumahku, lalu bertanya ini itu: mana Mushaf, mana Kiblat, mana buku Sirah, mana shalawat, mana kesederhanaan? Ya Allah, jika dia datang dan melihatku hari ini, aku yakin dia akan marah padaku. Ya Allah!

Sahabat, ‘Abdullah ibn ‘Abbas bertutur, _“Aku pernah masuk ke rumah Rasulullah, lalu aku angkat tanganku ke langit-langit rumah beliau. Dan, tanganku menyentuhnya.”_ Itu artinya rumah Rasulullah rendah sekali. Tidak seperti rumah kita hari ini. Ya Allah. Ampuni kami!

Saudaraku! Izinkan aku melanjutkan pembacaanku terhadap buku Syekh al-‘Arifi.

‘Abdullah ibn Mas‘ud jika melihat ar-Rabi‘ ibn Khatsyam mendapati sangat bagus akhlaknya, lemah-lembut kata-katanya, ucapannya manis, dan baik pergaulannya. Akhlaknya ibarat akhlak para nabi.

Lalu, Ibn Mas‘ud berkata, _“Demi Allah,  hai Abu Yazid! *Seandainya Rasulullah melihatmu, pasti dia mencintaimu!* Dia juga akan mendudukkanmu di sebelahnya. Melihatmu, aku teringat orang-orang taat kepada Allah.”_

Ya, karena Ibn Mas‘ud adalah Sahabat Rasulullah selama 23 tahun. Jadi dia tahu betul apa yang disukai Rasulullah dan apa yang dibencinya. Dia juga tahu akhlak yang baik dari manusia, kelembutan sikapnya, kebaikan pergaulannya. Karena Rasulullah adalah baik, dan hanya cinta kepada yang baik-baik. Sehingga sangat wajar jika para Sahabat berusaha meraih cinta Rasulullah.

Bahkan, saudaraku, Rasulullah beri “bocoran” kepada kita siapa yang dicintainya:
إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحاسنكم أخلاقا
_Orang paling aku cintai dari kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku nanti di hari Kiamat adalah yang paling baik akhlaknya._ (HR. At-Tirmidzi).

Dalam satu riwayat Rasulullah berkata kepada Asyaj ibn ‘Abd Qais,
إن فيك لخصلتين يحبهما الله ورسوله
_Dalam dirimu ada dua perkara yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya_

Ya, dicintai oleh Rasulullah. Apakah yang dua perkara itu?: Qiyamul-Lail? Puasa, sunnah di siang hari? Lihat, Asyaj begitu sangat gembira, lalu bertanya: وما هما يا رسول الله؟
_Apakah itu, hai Rasulallah?_

Rasulullah kemudian menjawab: الحلم والآناة _Lemah lembut dan kehati-hatian_. (HR. Muslim dan at-Tirmidzi).

Ketika Rasulullah ditanya tentang hakikat kebaikan _(birr)_, beliau menjawab:
البر حسن الخلق
_Kebaikan itu adalah akhlak yang baik_. (HR. Muslim dan at-Tirmidzi).

Sahabatku! Ketika Rasulullah ditanya tentang apa saja yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, beliau menjawab:
تقوى الله وحسن الخلق
_Bertakwa kepada Allah dan akhlak yang baik_. (HR. At-Tirmidzi).

Dan dalam riwayat Imam at-Tirmidzi yang lain, Rasulullah Saw bersabda,
أكمل المؤمنين أيمانا أحاسنهم أخلاقا، الموطئون أكنانا، الذين يألفون ويؤلفون، ولا خير فيمن لا يألف ولا يؤلف
_Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah: yang paling baik akhlaknya dan membuat nyaman orang yang berada di sekitarnya. Yaitu mereka yang: menyatukan persaudaraan dan dipersatukan. Maka, tidak ada kebaikan bagi orang yang tak menyatukan dan tak disatukan hatinya._ (HR. At-Tirmidzi).

Dalam kitab _al-Adab al-Mufrad_ Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,
ما شيء أثقل فى الميزان من حسن الخلق
_Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat timbangannya di hari Kiamat dari akhlak yang baik._

Bahkan, orang yang berakhlak yang baik itu, kata Rasulullah:
إن الرجل ليبلغ بحسن خلقه درجة قائم الليل صائم النهار
_Sungguh, dengan keindahan akhlaknya, seseorang dapat mencapai derajat orang yang senantiasa qiyamul-lail dan puasa sunnah di siang hari._ (HR. Ahmad dan al-Hakim).

Saudaraku! Lihatlah ibunda kita, Ummu Salamah! Ketika duduk bersama Nabi dan mengingat akhirat serta apa yang telah Allah siapkan di dalamnya, beliau bertanya kepada Rasulillah:
يا رسول الله، المرأة يكون لها زوجان فى الدنيا، فإذا ماتت وماتا ودخلوا جميعا إلى الجنة، فلمن تكون؟
_Hai Rasulullah, ada seorang wanita yang ketika hidup di dunia punya dua suami (menikah dua kali). Lalu, mereka meninggal dan semua masuk surga, perempuan tadi jadi milik siapa?_

Apa jawaban Rasulullah?: Untuk yang lebih tinggi? Untuk yang lebih banyak puasa? Atau, untuk yang ilmunya lebih luas? Ternyata tidak, saudaraku!

Rasulullah jawab,
لأحسنهما خلقا
_Untuk yang akhlaknya lebih baik_

Ummu Salamah terkejut. Ketika menyaksikan hal itu, Rasulullah pun bersabda,
يا أمة سلمة، ذهب حسن الخلق بخيري الدنيا والآخرة
_Hai Ummu Salamah, sungguh akhlak yang baik itu meraup semua kebaikan dunia dan akhirat._ (📙 _*Lau Ra’aka La’ahabbaka*_, hlm. 5-7).

Sahabatku! Yang menjadikan kita dicintai Rasulullah adalah: keindahan perangai kita, kemuliaan akhlak kita, dan bukan yang lainnya. Karena risalah puncak Rasulullah adalah ‘menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia’.

Untuk itu, mari kita berusaha membersihkan lisan kita dari dusta, dari sumpah serapah, dari caci-maki, dari kata kasar, dan yang lainnya.

Bukankah Allah ajarkan tiga tingkatan teknik dakwah kepada: hikmah (bijaksana), _ma‘izhah hasanah_ (nasihat yang baik), dan adu-argumen, bukan sentimen (Qs. 16:125).

Mari kita jaga ukhuwwah kita. Mulailah saling-merangkul, bukan saling-pukul. Mulailah saling-mengajak, jangan saling-ejek. Sambutlah kehadiran sahabatmu, jangan sambit dia! Dahulukan _husnuz-zhann_, bukan _su’uz-zhann!_

Dengan begitu, semoga kita termasuk umat Nabi Muhammad yang dicintainya.
لو رآك لأحبك
_Seandainya dia melihatmu, pasti dia mencintaimu!_ (Ibn Mas‘ud).

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Seandainya Rasulullah Melihatmu, Dia Pasti Mencintaimu !"

Post a Comment