Saudaraku, Mari Utamakan Ukhuwwah!

Iklan Advertisement
Majelissirah.com -

Oleh : Ustadz Qosim Nursheha Dzulhadi

Saudaraku, mari utamakan ukhuwwah! Karena dengan ukhuwwah ini kita bisa jaga _marwah_. Dengannya pula kita dapat gapai _‘izzah_. Lihatlah bagaimana Rasulullah Saw persaudarakan _Muhajirin dan Anshar_. Ingat pula bagaimana Baginda Nabi persaudarakan dua klan yang selalu sengit berseteru: Aus dan Khazraj. Semuanya melebur dalam satu kata indah nan magis: _ukhuwwah_.

*Saudaraku, mari utamakan ukhuwwah!* Agar kita tak lagi lemah. Supaya kita kompak bagai lebah. Itulah yang diinginkan oleh Rasulullah.

Untuk itu, dalam tulisan sederhana dan penuh kelemahan ini, izinkan aku kembali mengingatkan diriku dan dirimu tentang _ukhuwwah_ ini. Dan aku mulai dengan pesan penting Baginda Nabi, _uswatun hasanah_ kita berikut ini,

لا تحاسدوا، ولا تناجشوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا، ولا يبع بعضكم على بيع بعض، وكونوا عباد الله إخوانا
_Janganlah engkau saling-dengki, jangan saling-ungkit keburukan orang lain, jangan saling-benci, jangan saling- bermusuhana, dan jangan seorang dari kalian menawar barang yang sedang ditawar oleh saudaranya. Namun, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara!_

المسلم أخو المسلم: لا يظلمه، ولا يخذله، ولا يكذبه، ولا يحقره، التقوى هاهنا ويشير إلى صدر ثلاث مرات، بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم
_Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain. Maka, ia tidak boleh menzaliminya, tidak boleh mengecewakannya, tidak boleh membohonginya, dan tidak boleh merendahkannya. Seseorang patut dinilai jahat (buruk) ketika ia merendahkan saudaranya yang Muslim._

كل المسلم على المسلم حرام: دمه، وماله، وعرضه
_Seorang Muslim haram menumpahkan darah merampas harta, dan menodai kehormatan Muslim lainnya._ (HR. Muslim).

*Saudaraku, mari utamakan ukhuwwah!* Diantara caranya adalah dengan mengamalkan sabda Nabi Saw di atas. Kita harus aplikasikan, agar kita dapat merasakan lezatnya ukhuwwah. Jika tidak, _bulshit_ kita bicara kekuatan dan kemenangan. Maka, cobalah kita hidupkan semangat *saling-menghargai dan saling skrng hormati*: tenggang-rasa dan tepa selira.

Kata Imam al-Fudhail ibn ‘Iyadh,
ومن شرط صدق الأخوة أن يكرم الشخص أخاه إذا افتقر أكثر مما كان حال الغنى
_Diantara syarat menggapai kemurnian ukhuwwah adalah: seseorang harus menghargai saudaranya ketika membutuhkan bantuannya._

Beliau juga menegaskan,
الأخوة الدينية أعظم من الأخوة النسبية، لأن الأولى ثمرتها أخروية باقية، والثانية ثمرتها دنيوية فانية
_Ukhuwwah diniyyah (persaudaraan karena dasar agama) lebih agung ketimbang ukhuwwah nasabiyah (persaudaraan karena ikatan nasab/darah). Karena ukhuwwah diniyyah buahnya ukhrawi (akhirat) dan kekal. Sementara ukhuwwah nasabiyah sifatnya duniawi dan fana (musnah, sirna)._ (Lihat, Dr. Hisyam al-Kamil Hamid Musa as-Syafi‘i al-Azhari, _*Tuhfatul Kiram: Syarh al-Arba‘in fi Mabani al-lslam wa Qawa‘id al-Ahkam*_ (Kairo: Dar Jamawi‘ al-Kalim, 2017), hlm. 122).

Saudaraku, alangkah indahnya nasihat Buya Hamka di bawah ini. Izinkan aku menukilnya untuk sama-sama kita renungkan. Ini beliau tulis ketika menjelaskan Firman Allah dalam Qs. Al-Hujurat: 13. Kata Buya Hamka,

“Ayat ini pun akan jadi peringatan dan nasihat sopan santun dalam pergaulan hidup kepada kaum yang beriman. Itu pula sebabnya maka di pangkal ayat orang-orang yang beriman juga diseru, _“Janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain.”_

Mengolok-olok, mengejek, menghina, merendahkan dan seumpamanya, janganlah semua itu terjadi dalam kalangan orang beriman. _“Boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan).”_

Inilah peringatan yang halus dan tepat sekali dari Allah. Mengolok-olok, mengejek, dan menghina tidak layak dilakukan kalau orang merasa dirinya orang yang beriman. Sebab orang yang beriman akan selalu menilik kekurangan yang ada pada dirinya. Maka dia akan tahu kekurangan yang ada pada dirinya itu. Hanya orang yang tidak beriman jualah yang lebih banyak melihat kekurangan orang lain dan tidak ingat akan kekurangan yang ada pada dirinya sendiri. _“Dan janganlah pula wanita-wanita mengolok-olokkan kepada wanita yang lain; karena boleh jadi (yang diperolok-olokkan itu) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan).”_

Daripada larangan ini tampaklah dengan jelas bahwasanya orang-orang yang kerjanya hanya mencari kesalahan dan kekhilafan orang lain, niscaya lupa akan kesalahan dan kealpaan yang ada pada dirinya sendiri. Nabi Muhammad Saw bersabda,
الكبر بطر الحق وغمط الناس
_Kesombongan itu ialah: menolak kebenaran dan memandang rendah manusia_. (HR. al-bukhari).

Mengolok-olokkan, mengejek dan memandang rendah orang lain, tidak lain adalah karena merasa bahwa diri sendiri serba lengkap, serba tinggi, dan serba cukup. Padahal awaklah yang serba kekurangan. Segala manusia pun haruslah mengerti bahwa dalam dirinya sendiri terdapat segala macam kekurangan, kealpaan, dan kesalahan.” (Lihat Buya Hamka, _*Tafsir Al-Azhar*_ (Jakarta: Gema Insani Press, 1436 H/2015), 8/425-426).

*Saudaraku, mari utamakan ukhuwwah!* Agar jangan lagi ada saling-merendahkan, saling-mengecilkan, apalagi *saling-menafikan* sekaligus *saling-menepikan*. Apalagi sampai berlarut-larut komunikasi kita terganggu, bahkan _not connected_ alias gak nyambung. Padahal, Rasulullah Saw jauh-jauh hari (14 abad silam) telah ingatkan kita,
لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث
_Tidaklah halal bagi seorang Muslim untuk menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari._ (HR. Muslim).

*Saudaraku, mari utamakan ukhuwwah!* Agar kita tak bersitegang urat leher dan urat syaraf. Letih kita berselisih. Apapun tak dapat, kecuali setan bahagia dan kaum munafiq bersuka-ria. Karena dalam pertengkaran yang lahir hanya ingin saling-mengalahkan dan mematahkan argumentasi kawan sendiri. Seolah-olah dia jadi musuh yang nyata.

Buya Hamka kembali menasihati kita, saudaraku! Katanya,

“Bertengkar, sampai bermerah-merahan muka, asalnya mencari mana yang salah dan mana yang benar. Akhirnya, berganti menjadi merendahkan orang lain dan tidak menghargakan pendapatnya. Perkataan telah keluar dari pokok kata, kemarahan timbul, kebenaran hilang. Persahabatan berganti jadi permusuhan. Renggang hati kedua belah pihak.

Atau mematahkan kata kawan, merendahkan pendapatnya, tidak dihargai, dicemuhkan, dikecilkan. Bagi tukang cemuh ini, tidak ada pendapat yang berharga, tidak ads buah fikiran yang benar. Kerjanya hanya mencari mana yang salah, di mana cacat dan celanya. Budi begini sangat rendah, tidak bisa dibawa ke tengah. Pekerjaan mencela mudah. Tidak ada yang semudah mencela di dunia ini.

Penyakit bertengkar dan mencemuh ini menular. Mulanya dua tiga orang, setelah itu satu pergaulan. Lama-lama menjadi penyakit penduduk umum. Sehingga boleh disebut penduduk negeri anu suka bertengkar. Orang di kampung anuh suka mencemuh. Akhirnya, nama negeri itu diberi gelar “Negeri P C I, negeri (P)erkumpulan (C)emuh (l)ndonesi.”

Buat golongan ini, anak kecil dengan orang dewasa sama saja. Kawan pergaulan dan yang sebaya umur tidak ada perbasaan-budi. Mukanya keruh, perbuatannya busuk. Di waktu pekerjaan yang patut diurus dengan sempurna, mereka tak bisa mengerjakan.

Dalam kalangan ini mudah sekali hina-menghinakan, jatuh-mrnjatuhkan, dengki-mendengki dan dekat sekali kepada pertumpahan darah. Atau hilang segala ke sungguh-sungguh. Semuanya menghilangkan kasih-sayang, memutuskan persahabatan, menghilangkan kepercayaan, dan menghilangkan rasa malu.” (Buya Hamka, _*Tasauf Modern*_ (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2005), hlm. 159-160).

*Saudaraku, mari utamakan ukhuwwah!* Agar benih-benih permusuhan kita bunuh sejak awal. Jangan kasih ruang-lebar bagi setan dalam aliran darah kita. Karena kita ini Mukmin: orang beriman. Dengan iman ini kita muda bersaudara.

Ketika menafsirkan Qs. al-Hujurat: 10, Buya Hamka menjelaskan,

“Maka ayat 10 surah ini menjelaskan yang lebih positif lagi, bahwasanya kalau orang sudah sama-sama tumbuh iman dalam hatinya, tidak mungkin mereka akan bermusuhan. Jika tumbuh permusuhan lain tidak adalah karena sebab lain saja, misalnya salah paham, salah terima. Maka itu pula sebabnya maka di ayat 6 pada surah ini diberi peringatan kepada orang yang beriman, kalau ada orang membawa berita yang buruk dari pihak sebelah kaum Muslimin hendaklah diselidiki dahulu dengan seksama, supaya jangan sampai suatu kaum ditimpa oleh musibah hanya karena kejahilan kita saja. Ini adalah menjaga jangan sampai timbul permusuhan di antara dua golongan kaum Muslimin.

Kita teringat perkataan Abdullah ibn Abbas ketik ditanya orang mengapalah sampai terjadi perkelahian yang begitu hebat antara golongan Ali dengan Mu’awiyah. Ibn Abbas menjawab setelah kejadian itu lama lampau. Kata beliau, _“Sebabnya ialah: karena dalam kalangan kami tidak orang yang seperti Mu’awiyah dan dalam kalangan Mu’awiyah tidak ada orang yang seperti Ali.”_ Alangkah tepatnya jawaban ini.

Oleh sebab itu, diperingatkan kembali bahwasanya di antara dua golongan orang yang beriman pastilah bersaudara. Tidak ada kepentingan diri sendiri yang akan mereka pertahankan. Pada keduanya ada kebenaran, tetapi kebenaran itu telah robek terbelah dua: di sini separuh, di sana separuh. Maka, hendaklah berusaha *golongan ketiga*: _“Damaikanlah di antara kedua saudaramu!”_ Lalu, tunjukkan pula bagaimana usaha perdamaian agar berhasil dan berjaya: _“Dan bertakwalah kepada Allah!”_.

 Artinya bahwa di dalam segala usaha mendamaikan itu tidak ada maksud lain, tidak ada keinginan lain melainkan semata-mata karena mengharapkan ridha Allah, karena kasih sayang yang bersemi diantara Mukmin dengan Mukmin, di antara dua yang berselisih dan di antara pendamai dengan kedua yang berselisih.

_*Supaya kamu mendapat rahmat*_ (ujung ayat 10)

Asal niat itu suci, berdasar iman dan takwa, kasih dan cinta, besar harapan bahwa rahmat Allah akan meliputi orang-orang yang berusaha mendamaikan itu.” (Buya Hamka, _*Tafsir Al-Azhar*_, 8/424).

Saudaraku, semoga dengan mengutamakan ukhuwwah hati kita makin lapang, tenang, dan nyaman. Karena kita telah menomor “sekiankan” selain ukhuwwah.

Silahkan pilih partaimu, silahkan tentukan pilihanmu, silahkan kibarkan benderamu, silahkan dakwahkan harakahmu! Tapi itu semua hanya “wasilah” (media, cara) dan bukan “ghayah” (tujuan). Intinya di sana-sini kita hidupkan _spirit ukhuwwah_. Agar ketika engkau bertemu aku masih mudah kita bertegur-sapa sembari bibir berucap indah, _“Akhi!”_. Indah bukan? []

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Saudaraku, Mari Utamakan Ukhuwwah!"

Post a Comment