Muzakarah Kepalestinaan, MUI Sumut: Persatuan Awal Kemerdekaan Palestina

Iklan Advertisement
Majelissirah.com - Palestina dalam Alquran disebutkan dalam secara implisit, tidak secara eksplisit. Hal itu seperti sebutan al-Masjidil Aqsha, maupun sebutan Nabi Ibrahim 'alahissalam maupun ayat 1-3 surah Ar-Rum.



Demikian disampaikan oleh Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara Prof Dr H Ramli Abdul Wahid dalam Muzakarah Ilmiah yang membahas Palestina yang digelar Komisi Fatwa MUI,  Ahad (28/1/2018) di Aula MUI Jalan Majelis Ulama, Medan.

"Masjidil Aqsha jelas menunjukkam Palestina karena berada di Palestima. Demikian juga halnya dengan sebutan Nabi Ibrahim as, secra tersirat menjadi sebutan bagi Palestina karena Nabi Ibrahim datang ke Makkah dari Palestina dan ketika itu ia meninggalkan istrinya Sarah di Palestina," jelasnya.



Prof Ramli membawakan materi Palestina dalam Alquran. Guru Besar UIN Sumut ini juga menjelaskan bentuk sebutan kedua tentang Palestina ialah berkenaan dengan aktifitas agama.

"Bentuk sebutan kedua adalah berkaitan dengan aktifitas agama, seperti sebutan Masjidil Aqsha yang terletak di tanah Palestina. Ini berkaitan dengan peristiwa Isra Mikraj sebagaimana disebutkan dalam al-Isra' ayat 1," ujarnya.

Sedangkan, sebutan ketiga, lanjut Prof Ramli, adalah bermulanya Palestina jatuh ke tangan kaum Muslim sebagaimana yang dijelaskan dalam surah Ar Rum ayat 1- 3.

"Di dalam berbagai tafsir dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan negeri yang terdekat (dalam ayat) adalah Syam dan Palestina," ujarnya.



Dalam sejarah Syam dan Palestina ketika itu di bawah kekuasaan Romawi Timur. Pada tahun 636 M Romawi Timur kalah di tangan tentara Islam pada masa Umar bin Khattab, maka sejak itu Palestina menjadi negeri Islam. Sejak tahun 636-2017 berarti selama 1.381 tahun secara de jure dan de facto Palestina menjadi negeri Islam.

Terkait upaya pembebasan Palestina, Prof Ramli meminta agar orang-orang Palestina  mutlak harus bersatu. Tidak boleh ada perpecahan dan friksi-friksi di antara mereka.

"Seberapa bantuan yang kita kirim bahwa tiiga kapal kemanusiaan sejatinya tida untuk membebaskan Palestina tetapi untuk membela kemanusiaan. Sebab orang Palestina belum memiliki perangkat-perangkat memerdekakan Palestina," ujarnya.

Selain itu, ummat Islam harus berjihad membebaskan Palestina. Negara negara Islam harus mandiri dan mempersiapkan kekuatan seperti nuklir serta penguasaan sains dan teknologi.

Adapun narasumber lain dalam muzakarah yang dihadiri pengurus MUI se-Sumatera Utara dan para cendikiawan Islam ini adalah Nurhayati Baheramsyah.

Nurhayati ialah sosok yang fokus menulis mengenai Kepalestinaan. Ia membawakan materi tentang Palestina : Dahulu, Sekarang dan Masa Depan.

"Meskipun Palestina seudah diterima di lembaga lembaga internasional baik PBB, UNESCO, UNHCR dan Pengadilan Pidana Internasional, akan tetapi lebih cenderung simbolik dan tidak bermanfaat bagi rakyat Palestina," jelas Nurhayati.

Nurhayati juga berharap persatuan baik di internal Pelstina dengan rekonsiliasi Hamas dan Fatah, maupun  negara Arab, dunia Islam dan seluruh dunia yang peduli dengan kemanusiaan dan membenci penjajahan.

"Mukjizat (Keajaiban) dari Allah yang akan membebaskan Palestina," pungkasnya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Muzakarah Kepalestinaan, MUI Sumut: Persatuan Awal Kemerdekaan Palestina"

Post a Comment