Masjid Lama Gang Bengkok, Simbol Kerukunan dan Pusat Dakwah

Iklan Advertisement
Majelissirah.com -Masjid Lama Gang Bengkok beralamat di Jalan Mesjid, Kelurahan Kesawan. Kecamatan Medan Barat, Kota Medan. Disebut Masjid Gang Bengkok, karena pada awal pembangunannya masjid ini berada di dalam sebuah gang sempit. Ruas gang tersebut memiliki tikungan atau bengkokan pas di depan lokasi masjid ini berdiri. Berbeda dari kebanyakan masjid lainnya. Masjid memang tak memiliki nama Arab ,maka masyarakat setempat menyebutnya sebagai masjid di Gang Bengkok. 



Masjid Gang Bengkok pun kemudiam disebut masjid lama karena merupakan salah satu dari tiga masjid tertua di kota Medan. Dua masjid lain adalah Masjid Al Osmani yang terletak di Jalan Yos Sudarso Kilometer 17,5 dan Mesjid Raya Al-Mashun yang lebih dikenal dengan Mesjid Raya di Jalan Sisingamangaraja. Dari sisi usia, Masjid Lama Gang Bengkok merupakan masjid tertua kedua di Kota Medan setelah Masjid Al Osmani yang didirikan 1854. Masjid Lama diperkirakan berdiri pada tahun 1874. Sedangkan Masjid Raya Al Mashun didirikan pada tahun (1909).

Sejarah berdirinya Masjid Lama Gang Bengkok memiliki keunikan sendiri. Masjid ini dibangun di atas tanah wakaf Datuk Muhammad Ali atau dikenal sebagai Datuk Kesawan dan keseluruhan proses pembangunan masjidnya sendiri ditanggung sepenuhnya oleh Tjong A Fie. Tjong A Fie adaah seorang saudagar tionghoa yang dermawan. Dipercaya hal tersebut dilakukan Tjong A Fie sebagai bentuk penghormatan kepada muslim melayu. 

Awalnya pembangunan tersebut menuai kontroversi. Namun, seiring dengan waktu, pembangunan itu diizinkan oleh Sultan Ma’mun Al-Rasyid bahkan peletakan batu pertama pembangunan masjid ini bahkan dilakukan sendiri oleh Sultan. 

Setelah pembangunan Masjid Lama Gang Bengkok selesai, Tjong A Fie menyerahkan kepengurusan Masjid ke pihak Kesultanan Deli yang di mana pada saat itu, sedang dalam pemerintahan Ma’mun Arrasyid. 

Pengurus awal Masjid Lama Gang Bengkok adalah sosok-sosok pendakwah Islam. Sosok Said Bakri dan Abu bakar Yacub yang merupakan anak dari seorang ulama Islam Syekh Mohd. Yacub yang merupakan ketua Badan Kenaziran Masjid Lama Gang Bengkok pertama ialah dai yang menyebarkan agama Islam di Kota Medan. 

Masjid Bengkok dijadikan tempat pusat aktivitas dakwah kala itu. Selain itu pula, dakwah Islamiyah itu dibantu juga oleh orang yang beretnis Mandailing atau Tapanuli. Mereka, tokoh-tokoh dari Tapanuli itu mendirikan Madrasah Islamiyah Tapanoeli Medan.

Madrasah Tapanoeli inilah tempat ummat Muslim ketika itu memikirkan bagaimana mempersatukan kaum muda dan kaum tua. Hingga akhirnya mereka mendirikan sebuah organisasi Islam yang bertujuan sebagai penghubung kaum muda dan tua yakni al-Jamiyat al-Washliyah yang berkembang hingga sekarang.  
Masjid ini juga dilengkapi perpustakaan yang berisi buku-buku karya ulama Sumatera Utara zaman berzaman dan kitab-kitab lainnya. 

Arsitek Masjid Perpaduan dari Berbagai Unsur

Sedikit banyaknya, Masjid Lama Gang Bengkok berperan menjaga perdamaian antar umat beragama di kota Medan. Arsitektur Masjid merupakan perpaduan antara Tionghoa, Persia, Romawi dan juga Melayu. 

Jikalau dilihat secara sepintas bangunan Masjid ini mirip Klenteng, Atapnya yang melengkung, dan terdapat empat tiang setebal setengah meter yang menopang seluruh bangunan ini yang menjadikan Masjid ini seperti Klenteng. 

Akan tetapi, perspektif itu berubah jika memperhatikan secara seksama. Unsur Melayu tampak jelas pada plafon mesjid yang terdapat umbai-umbai yaitu semacam hiasan yang disebut "lebah bergantung". Ukiran ini terbuat dari kayu, berbentuk semacam tirai berwarna kuning, warna khas Melayu. Sedangkan gapuranya bernuansa Islam Persia.

Bila memasuki bagian dalam, unsur keislaman terlihat jelas dari mimbar yang mempunyai anak tangga sebanyak 13 yang digunakan sebagai tempat Khutbah Sholat Jumat. Selain itu, keunikan masjid ini ialah tempat mimbar bilal adzan. Selain itu,  tiang bangunan utama yang sampai sekarang dijaga keasliannya, ornament lingkaran yang saling berkaitan serta sumur tua yang digunakan untuk berwudhu yang terletak di bagian kamar mandi.

Menariknya, sejak awal pembuatan hingga kini, Masjid Lama tidak memiliki ornament kaligrafi. Tidak adanya ornament kaligrafi tidak perlu dipermasalahkan, namun malah harus diapresiasikan. Sebab perpaduan arsitektur tersebut yang melambangkan adanya interaksi antar kebudayaan terjadi disana dengan damai.
Masjid Lama Gang Bengkok ini juga mengalami perluasan dan renovasi. 

Perluasan dan renovasi Masjid ini di mulai pada tahun 1950-an. Perluasan dan renovasi dilakukan  semakin banyaknya jamaah sehingga perlunya melakukan perluasan dan renovasi. Perluasan mengharuskan halaman sekeliling Masjid di timbun dan akibatnya taman kecil yang terdapat bangku dari batu granit pun harus dihilangkan karena perluasan ini.

Akan tetapi, renovasi yang diadakan di Masjid Lama tidaklah mengurangi nilai Masjid Lama sebagai Masjid bersejarah di kota Medan. 


(dari berbagai sumber)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Masjid Lama Gang Bengkok, Simbol Kerukunan dan Pusat Dakwah"

Post a Comment