Ketika Zaid Memilih Nabi

Iklan Advertisement
Majelissirah.com -

Ketika Rasulullah Saw memulai dakwahnya, setelah turun perintah tepatnya khususnya QS Al-Muddatsir ayat 1-7, Nabi menyampaikan perintah Allah di dalam rentetan ayat tersebut kepada orang-orang yang siap menerimanya.

 Dari kalangan wanita, Khadijah binti Khuwailid ra. ialah orang yang pertama masuk Islam. Sementara dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib, karena ia telah masuk Islam tatkala umurnya baru menginjak sepuluh tahun.

Dari kalangan lelaki, Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang yang pertama masuk Islam. Nama Abu Bakar sendiri sebelum masuk Islam ialah Atiq. Ayahnya bernama Utsman bin Amr At-Taimi al-Quraisyi dan nama kunyah-nya adalah Utsman Abu Quhafah.

Sedangkan dari kalangan budak ialah Zaid ibn Haritsah ibn Syurahbil al-Kalbi. Sosok Zaid sebelumnya merupakan budak Hakim bin Hizam.

Oleh Hakim, Zaid diserahkan pada bibinya, Khadijah binti Khuwailid. Dan dari istrinya itu, Rasulullah meminta budak itu, kemudian dibebaskan dan diangkat jadi anaknya. Hal ini terjadi sebelum beliau diutus jadi Nabi.

Kisah tentang diangkatnya Zaid menjadi anak angkat Nabi menarik untuk diingat. Zaid ketika itu diberi pilihan apakah mau kembali ke ayahnya atau bersama Nabi. Ternyata Zaid memilih bersama Rasulullah.

Ketika berumur delapan tahun, Zaid dibawa ibunya untuk mengunjungi kerabat. Su’ada istri Haritsah (Ibu Zaid) berniat hendak berziarah ke kaum keluarganya di kampung Bani Ma’an. Ia sudah gelisah dan seakan-akan tak sabar lagi menunggu waktu kedatangannya. Pada suatu pagi yang cerah, suaminya (ayah Zaid) mempersiapkan kendaraan dan perbekalan untuk keperluan itu.

Kelihatan Su’ada sedang menggendong anaknya yang masih kecil, Zaid bin Haritsah. Di waktu ia akan menitipkan istri dan anaknya pada rombongan kafilah yang akan berangkat bersama dengan istrinya, karena ia tidak bisa mengantar sendiri akibat pekerjaannya, menyelinapkan rasa sedih. Disertai perasaan aneh agar ia sendiri yang mengantar sang istri dan anak.

Namun perasaan itu perlahan hilang. Haritsah tetap menitipkan Su’ada dan Zaid kecil pada rombongan itu. Kemudian ia diam terpaku sembari meneteskan air mata. Haritsah begitu sedih, terus melamun memandang rombongan kafilah yang lambat laun hilang dari pandangannya.

Zaid dan Ibunya tiba dengan selamat di Kampung Bani Ma’an. Mereka hidup damai di sana, hingga pada suatu hari, kampung itu diserbu oleh gerombolan perampok badui.

Kampung Ma’an porak-poranda oleh ulah perampok itu. Seluruh harta-benda milik penduduk kampung dijarah. Banyak penduduknya disandera dan dijual sebagai budak, termasuk Zaid kecil. Ia ditangkap Bani al-Qain.

Mereka pun menjualnya di pasar Habbasyah. Selanjutnya ia pun dibeli oleh Hakim bin Hizam dengan cara ditukar dengan beberapa budaknya.

Su’ada Ibu zaid selamat dari kebengisan perampok itu. Ia berhasil pulang pada suaminya, mengabarkan bahwa Zaid diculik. Haritsah sangat sedih mendengar kabar ini sampai ia pingsan.

Usai sadarkan diri dan mampu menerima kabar buruk ini. Ia mencari anaknya ke semua penjuru. Kampung demi kampung diselidikinya, padang pasir pun tak luput dari langkah kakinya. Ia juga bertanya pada tiap kabilah yang lewat, kalau-kalau ada dari mereka yang melihat anak kesayangannya, Zaid. Namun para kabilah tak ada satu pun yang tahu keberadaan Zaid.

Hati Haritsah hancur, bagaimana mungkin anak kesayangannya, Zaid kecil hilang lenyap bagai ditelan bumi. Untuk menghibur dirinya, ia bersyair:

“Kutangisi Zaid, ku tak tahu apa yang telah terjadi,
Dapatkah ia diharapkan hidup, atau telah mati?
Demi Allah ku tak tahu, sungguh aku hanya bertanya.
Apakah di lembah ia celaka atau di bukit ia binasa?
Di kala matahari terbit ku terkenang padanya
Bila surya terbenam ingatan kembali menjelma
Tiupan angin yang membangkitkan kerinduan pula,
Wahai, alangkah lamanya duka nestapa, diriku jadi merana

Selang beberapa waktu, ayah Zaid pergi ke Mekkah. Akhirnya disana ia menemukan anaknya.

Itu bermula tatkala Pada suatu musim haji, sekelompok orang dari kampungnya Haritsah berjumpa dengan Zaid di Mekah. Mereka masih sangat mengenal rupa Zaid, hingga mereka menyampaikan kepada Zaid bahwa ayah dan bundanya di kampung sangat merindukannya.

Zaid yang sepertinya telah memiliki nalar cukup baik dan ingatan baik akan orang tuanya pun menimpali, “tolong beritakan pada orang tuaku, bahwa aku di sini tinggal dengan seorang ayah yang paling mulia.”

Begitu Haritsah tahu bahwasanya Zaid berada di Mekah, maka ia mengadakan perjalanan ke Mekah bersama saudaranya. Di Mekah mereka menanyakan pada orang di mana rumah Muhammad. Maka sampailah mereka di rumah Muhammad dan langsung menghadapnya.

Haritsah berkata, “wahai Ibnu Abdil Mutthalib, wahai putera dari pemimpin kaumnya! Anda termasuk penduduk Tanah Suci yang biasa membebaskan orang tertindas, yang suka memberi makanan pada para tawanan. Kami datang ke sini hendak meminta anak kami. Sudilah kiranya anda menyerahkan anak itu kepada kami dan bermurah hatilah menerima uang tebusannya seberapa adanya?”

Maka Muhammad bin Abdullah pun berkata, “panggillah Zaid itu ke sini, suruh ia memilih sendiri. Seandainya dia memilih anda, maka akan saya kembalikan kepada anda tanpa tebusan. Sebaliknya jika ia memilihku, maka Demi Allah aku tak hendak menerima tebusan dan tak akan menyerahkan orang yang telah memilihku.”

Mendengar perkataan demikian, Haritsah tersentuh hatinya. Betapa murah hatinya sosok laki-laki dihadapannya ini. Hingga ia berujar, “Benar-benar anda telah menyadarkan kami dan anda beri pula keinsafan di balik kesadaran itu.”

Setibanya Zaid dihadapan ayah kandung dan ayah angkatnya. Muhammad menanyakan pada Zaid, “Tahukah engkau siapa orang-orang ini?”

“Ya, tahu. Yang ini adalah ayahku. Sedangkan yang seorang lagi adalah pamanku.” Kata Zaid. Kemudian Muhammad menjelaskan pada anak angkatnya tentang kebebasan memilih, apakah akan ikut ayah kandungnya atau ikut dirinya.

Tanpa pikir panjang, Zaid menjawab, “Tak ada orang pilihanku kecuali anda! Andalah ayah, dan andalah pamanku.”

Mendengar perkataan Zaid tersebut, Muhammad bin Abdullah menangis karena bersyukur dan terharu. Ia langsung membebaskannya dan mengangkatnya sebagai anak..

Haritsah pun sangat gembira. Sebab ia benar-benar telah menyaksikan anaknya bebas merdeka tanpa tebusan dan berada di bawah asuhan bimbingan seorang mulia dari suku Quraisy yang terkenal dengan julukan “Ash-Shadiqul Amin, orang lurus terpercaya.” Keturunan Bani Hasyim yang memiliki pengaruh besar menjadi tumpuan penduduk Mekah.

Maka kembalilah Haritsah dan saudaranya ke kampung. Ia telah rela dan yakin meninggalkan anaknya hidup bersama pemimpin Mekah dalam keadaaan sehat sentosa. Ia bersyukur kini anaknya jelas beradanya, setelah lama ia bingung apakah Zaid celaka terguling di lembah atau binasa terkapar di bukit.

Setelah diadopsi, ia dikenal dengan Zaid bin Muhammad. Namun, setelah Islam mengharamkan adopsi ini, Zaid pun kembali bernama Zaid bin Haritsah.

Demikian kisah dibalik pengangkatan Zaid bin Haritsah sebagai anak angkat Nabi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ketika Zaid Memilih Nabi"

Post a Comment