Inilah Beberapa Perkara yang Boleh Dilakukan Kaum Mustadh'afin

Inilah Beberapa Perkara yang Boleh Dilakukan Kaum Mustadh'afin
Majelissirah.com -⁠⁠⁠ Apa yang terjadi pada kaum muslimin di Myanmar memang sangat memilukan. Bisa dibayangkan, dalam waktu 3 hari saja, kurang lebih 3.000 muslim rohingya tewas dibantai. Dengan kekejaman yang sungguh diluar batas perikemanusiaan. Tapi pada kesempatan ini, sejenak kita merenungi beberapa perkara yang terjadi pada golongan mustadh'afin. Semoga bisa jadi pelajaran bersama buat kita.

Pertama, Boleh Berbohong
Pada masa awal islam, kaum Quraiys menyiksa golongan mustadh'afin yang memeluk islam. Mereka tidak memiliki pembela dari qabilahnya. Siksaan itu baru berhenti karena beberapa hal, diantaranya mereka merasa bosan menyiksa, mau mengatakan keluar dari islam atau meninggal. Respon para shahabat ternyata berbeda - beda. Ada yang bersabar atas siksaan sebagaimana Bilal, ada yang mempertahankan iman hingga mati sebagaimana Sumayyah, adapula yang mau menuruti permintaan kaum Quraisy untuk mengucapkan kekafiran, sebagaimana Ammar bin Yasir.

Rasulullah saw tidak menyalahkan perbuatan shahabat Ammar bin Yasir. Karena hanya itulah yang bisa menghentikan siksaan orang Quraisy kepadanya. Lisannya memang mengucapkan kekafiran, namun hatinya mantap dalam keimanan. Rasulullah saw sampai berkata kepadanya "Jika mereka memintamu mengucapkan hal itu lagi, tidak mengapa kau ucapkan". Dalam situasi darurat, dalam posisi nyawa terancam, kaum mustadh'afin bahkan diijinkan untuk berbohong dalam urusan keimanan sekalipun. Karena hanya itulah perkara yang mampu menyelamatkan nyawanya.

Kedua, Membela Diri
Secara umum, fase Makkiyah adalah fase bersabar. Ayat - ayat yang memerintahkan untuk bersabar banyak sekali diturunkan. Meskipun ada juga ayat jihad yang diturunkan, namun tidak dimaksudkan untuk mengangkat senjata (perang) sebagaimana periode Madaniyah, melainkan hanya sebatas membela diri saja. Meskipun periode Makkiyah adalah fase untuk bersabar dan menahan diri, namun kita dapati ada juga bentuk - bentuk pembelaan terhadap islam dan umat islam. Prinsipnya, bagi orang - orang yang memiliki kekuatan, diperbolehkan untuk melakukan jihad defensif. Sedangkan model jihad ofensif, masih belum diperkenankan.

Ada Sa'ad bin Abi Waqqas yang berani memukul kaum Quraisy dengan tulang unta, ada Hamzah bin Abdul Muthalib yang menghajar Abu Jahal dengan menggunakan busur panah, ada juga Umar bin Khathab yang memberikan tantangan terbuka dan mengintimidasi kaum Quraisy yang bertindak sewenang - wenang. Jangan lupa, ada juga Abu Thalib bin Abdul Muthalib yang menyiapkan seluruh pemuda dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib untuk membunuh para pemimpin Quraiys saat mengkhawatirkan nasib Muhammad keponakannya, yang seharian tidak diketahui rimbanya.

Ketiga, Perlindungan Umum
Dari berbagai riwayat sirah nabawiyah, kita bisa menyimpulkan beberapa bentuk perlindungan kepada para pemeluk islam generasi awal. Diantaranya, perlindungan dari keluarganya sendiri. Hal inilah yang terjadi pada Rasulullah, Utsman, Sa'ad dll. Meskipun keluarga besar mereka tidak semuanya masuk islam, namun mereka merasa wajib untuk menjaga kehormatan keluarganya besarnya. Maksudnya, mereka tidak rela jika ada anggota keluarganya yang dipersekusi atau dieksekusi oleh qabilah, suku atau bani pihak lain.

Kedua, perlindungan yang bersifat personal. Rasulullah, Abu Bakar dll pernah mendapatkan perlindungan dari personal kafir Quraisy. Orang kafir quraisy tersebut mau memberikan jaminan perlindungan dan keselamata  karena faktor penghormatan dan penghargaan mereka pada beliau. Rasulullah dan Abu Bakar mau menerima jaminan perlindungan mereka sepanjang tidak mengusik wilayah keimanan. Termasuk dalam konteks ini, adalah perbuatan Abu Bakar yang menghentikan siksaan kaum Quraisy kepada kaum mustadh'afin serta berupaya untuk membeli para budak yang memeluk agama islam.

Keempat, Berhijrah
Hijrah dilakukan karena banyak alasan, diantaranya mencari ilmu, mencari perlindungan, membuka basis dakwah, menyatukan kekuatan dll. Hijrah ke Habasyah dan hijrah ke Madinah bagi kaum mustadh'afin berguna untuk menyelamatkan diri sekaligus menyelamatkan iman. Sedang bagi para dai dan kalangan terhormat, bertujuan untuk membuka basis dakwah yang baru sekaligus menyatukan kekuatan. Hijrah bisa dimaknai sebagai bentuk mengungsi, bisapula dimaknai mencari suaka politik. Bergantung siapa yang berhijrah dan bagaimana koteksnya.

Habasyah menjadi tempat berhijrah karena disana ada raja yang adil, bernama kaisar An Najasy. Kaum mustadh'afin bisa hijrah ke negeri kafir atau non muslim sekalipun, jika disana ada pemimpjn yang adil. Pada akhirnya, kaisar An Najasy juga memeluk islam. Madinah menjadi tempat hijrah karena disana ada golongan yang siap untuk membelanya, yakni kaum Anshar. Mereka sudah memeluk islam serta sudah menyatakan siap berjuang untuk membela dan melindungi nabi (bai'atul aqabah yang kedua). Melihat situasi yang ada saat itu, bai'atul aqabah yang kedua sama saja mendeklarasikan perang kepada kaum Quraiys. Karena itu, kadang disebut bai'atur rijal atau bai'atul harbi.

Khatimah
Inilah beberapa perkara yang terjadi pada kaum mustadh'afin. Mereka boleh berbohong dalam urusan keimanan sekalipun, mereka boleh membela diri meskipun akan dicap sebagai teroris oleh pemerintah setempat, mereka boleh mencari perlindungan dan mereka boleh berhijrah (mengungsi) ke negeri lain. Semoga mereka yang meninggal dalam kondisi teraniaya, dicatat sebagai orang yang mati syahid karena mempertahankan keimanan dan kehormatannya. Amin. [ms]

Penulis : Ust. EKo Jun

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Inilah Beberapa Perkara yang Boleh Dilakukan Kaum Mustadh'afin"

Post a Comment