Merajut Asa Persatuan

Iklan Advertisement
Merajut Asa Persatuan
Majelissirah.com - Sekitar 2 tahun lalu, kami pernah menulis resensi tentang buku ini. Buku berjudul "Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara" ini merekam dinamika interaksi antara gerakan  Asy'ariyah dan Wahabiyah di Indonesia. Ada banyak data dan studi kasus yang secara nyata memang menunjukkan ketegangan dilapangan. Kasus terbaru adalah yang terjadi kemarin, di Sidoarjo, Jawa Timur. Kenyataan tersebut bukan untuk diingkari, bukan pula dikompori, tapi untuk dipahami dalam kerangka resolusi konflik. Tema - tema seperti ini memang menjadi tema terbatas dan tertutup dikalangan dai dan mubaligh.

Dinamika (baca : ketegangan) diantara kaum muslimin itu sudah lagu lama. Bahkan pada masa shahabat sekalipun, hal itu sudah terjadi. Saling ejek antara kaum Anshar dan Muhajirin disebuah pasar Madinah berpotensi menjadi konflik sosial, andai tidak cepat - cepat ditangani oleh rasulullah. Pembagian ghanimah pada perang Badar, berpotensi merusak hubungan diantara sesama mujahid, andai tidak segera turun ayat dari langit. Silang pendapat seputar penyikapan terhadap kaum munafik, berpotensi memecah belah golongan shahabat, andai mereka tidak taat terhadap keputusan rasulullah. Contoh lain masih sangat banyak.

Suasana ketegangan dan dinamika seperti itu terjadi, bahkan didalam generasi yang disebut - sebut sebagai generasi terbaik, umat terbaik dll. Jika kita geser waktunya pada masa khulafaur rasyidin, daulah bani umayyah, daulah bani abasiyah hingga daulah utsmani, persoalannya semakin banyak. Tentu saja hal ini tidak dimaksudkan sebagai sarana "melegitimasi" konflik sosial ditengah umat. Namun sekedar sebagai tadzkirah, bahwa perjalanan 14 abad kaum muslimin memang penuh dengan intrik dan ketegangan yang menguras energi umat dan melemahkan daya juang. Ini perlu diantisipasi secara serius, jika kita masih menginginkan umat islam kembali berjaya, khususnya dibumi Indonesia.

Demi menuju kesana, ada beberapa perkara penting yang perlu kita pahami bersama. Pertama, kesiapan kita menerima perbedaan pandangan. Imam Malik bin Anas sangat bijaksana saat menolak permintaan khalifah Harun Al Rasyid yang berkeinginan menggantung kitab Al Muwaththa di Ka'bah (sebagai simbol penyatuan mazhab). Beliau berkata dengan lugas "Sesungguhnya ilmu rasulullah diwariskan kepada banyak shahabat". Padahal, Imam Syafi'i berkata bahwa "Al Muwaththa adalah kitab paling shahih setelah Al Qur'an" (pada masa itu). Inilah sikap yang bijaksana dari para ahli ilmu, yakni mengakui keragaman dan perbedaan penafsiran, selama memiliki sandaran dalil. Meskipun pada periode berikutnya, kita tahu bahwa kaum muktazilah menggunakan kekuatan negara demi menyebarkan mazhabnya.

Kedua, kesediaan kita untuk berkenalan dengan anggota keluarga besar Ahlus Sunnah. Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari (pendiri NU) sudah menyatakan bahwa keempat mazhab fikih (Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali) sebagai bagian dari keluarga besar golongan Ahlus Sunnah. Pada tingkat atau fase tertentu, seorang santri dan mubaligh harus "berkenalan" dengan keluarga besarnya. Baik melalui kitab, tokoh, ceramah dll. Alhamdulillah, kami juga sering mendengar ceramah - ceramah dari ust Abdullah Zen, ust Firanda Andirja, Ust Khalid Basalamah, Ust Syafiq Basalamah, Ust Ahmad Zaenudin dll. Subhanallah, betapa banyak ilmu yang mereka sampaikan. Namun jika pada beberapa perkara kami masih berpegang teguh pada pendapatnya Buya Yahya, Kyai Idrus Ramli dll, maka itu tidak bisa dipaksakan. Namun, interaksi tersebut tentu sangat bermanfaat sebagai upaya untuk "tafahum" dalam rangka mewujudkan ukhuwah islamiyah.

Ketiga, kesigapan kita untuk menjadi juru damai. Jika ada letupan - letupan didalam barisan kaum muslimin, sebisa mungkin kita tidak menjadi "agen kompor" (istilah yang lagi ngetrend). Entah demi membela yang pihak sini, situ maupun sana, terlebih dengan kalimat bernada provokatif. Karena masing - masing pasti memiliki klaim kebenaran versinya sendiri. Memilih diam dari berkomentar adalah bagian dari solusi yang bisa mendinginkan suasana. Syukur - syukur jika kita bisa menjadi "agen kulkas/AC" yang membawa kesejukan. Kita titipkan urusan ini kepada qiyadah masing - masing, agar bisa dicarikan solusi terbaik. Kami sangat yakin, bahwa para ulama dakwah yang hanif itu masih banyak. Tugas kita adalah menguatkan peran dan kedudukan mereka agar bisa menjadi elemen pemersatu umat, bukan pemecah belah. Sedangkan diakar rumput, tugas kita untuk menasehati pihak yang berlebihan dan melampaui batas serta mendamaikan mereka yang bersengketa. Wallahu a'lam. [ms]

*Ust Eko Jun

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Merajut Asa Persatuan"

Post a Comment