Membuka Mata Hati

Iklan Advertisement
Membuka Mata Hati
Majelissirah.com - Ada fenomena yang menarik untuk direnungkan dalam peristiwa Sulhul Hudaibiyah. Yakni sikap dari Suhail bin Amr selaku negosiator dari pihak Quraisy. Dia menolak tulisan Bismillaahirrahmaanirraahiim dan meminta diganti dengan Bismika Allahumma. Dia juga menolak tulisan Muhammad Rasulullah dan meminta diganti dengan Muhammad bin Abdullah. Akhirnya Nabi Muhammad sendiri yang menghapus tulisan dimaksud, karena Ali bin Abu Thalib ra selaku penulis perjanjian (sekretaris) bersikeras tidak mau menghapusnya. Sebagai seorang yang ummy, Muhammad tidak tahu mana tulisan "rasulullah". Karena itu dia bertanya kepada Ali "Mana tulisan rasulullah? Biar aku yang menghapusnya".

Alasan yang dikemukakan oleh Suhail bin Amr sangat mengejutkan. "Jika kami mengetahui bahwa engkau adalah utusan Allah, niscaya kami tidak akan memerangimu". Alasan ini agak mengagetkan, setidaknya karena beberapa hal. Pertama, sudah banyak kesaksian dari para ahli kitab (khususnya kaum yahudi) yang menjelaskan bahwa Muhammad bin Abdullah memang nabi akhir zaman yang dimaksud. Kedua, sudah banyak pula kesaksian dari para pembesar Quraisy bahwa Muhammad memang pribadi yang baik. Dengan sendirinya, hal itu sekaligus pengakuan bahwa mereka salah karena memeranginya. Ketiga, sudah banyak mukjizat dihadirkan sewaktu di Makkah dan sudah banyak ramalan kenabian yang dibuktikan dilapangan. Toh semua hal itu tidak mampu mengubah persepsi Suhail bin Amr.

Suasana seperti ini mungkin sering pula kita alami dimasa sekarang, khususnya pada masalah pro - kontra seputar Ahok di Jakarta. Sekian banyak pakar, praktisi dan para ahli sudah berbicara dan menyampaikan pendapatnya, namun hal itu diabaikan begitu saja. Sekian banyak bukti dan tanda sudah terjadi didepan mata, tapi ditolak dengan angkuhnya. Sekian banyak analisa, sudut pandang dan logika dipaparkan, tapi semuanya hilang tertiup angin. Seolah tak ada satupun yang benar, melainkan pendapatnya dia sendiri. Kita tentu harus banyak merenung, mengapa perilaku seperti ini bisa terjadi dan apa sebab - sebab yang melatarbelakanginya. Hal ini penting agar bisa kita rumuskan pendekatan yang terbaik dan mencari kunci yang paling pas untuk membuka pintu hatinya yang tergembok rapat.

Merubah orang lain itu bukan perkara mudah. Namun merubah situasi memang harus dimulai dari diri kita sendiri. Pertama, kami sungguh berharap agar perdebatan diantara dua kelompok yang berbeda ditengah masyarakat sebaiknya jangan terlalu mengeksploitasi ayat - ayat Al Qur'an. Bukan karena kami tidak sepakat menggunakan Al Qur'an sebagai hujjah, tapi semangatnya untuk menyelamatkan saudara kita yang tengah berbeda pandangan. Karena apabila ayat Al Qur'an sudah dihadirkan, lalu dia tetap saja menolak, maka hukum kafir bisa jatuh kepada dirinya. Meskipun kita tidak mengucapkannya, meskipun dirinya juga tidak mengetahuinya. Jadi, tidak menggunakan ayat Al Qur'an sebagai hujjah dalam sebuah perdebatan sengit, sebenarnya adalah sebagai bentuk kasih sayang kita kepada mereka. Yakni kita tidak ingin hukum - hukum agama yang bersifat fatal jatuh kepada dirinya, tanpa dia sadari.

Sebaliknya, kita harus banyak menghadirkan hujjah dari sudut pandang yang lain. Misalnya seputar peraturan dan perundangan, prestasi dan wanprestasi, idealita dan realita dll. Perdebatan seperti ini lebih produktif dan progresif, baik untuk mengkoreksi paham pemikiran maupun mematahkan dan mengukur klaim - kalim pihak tertentu. Ini seperti Harun Yahya yang membantah teori evolusi, bukan dengan menghadirkan dalil dari Al Qur'an, tapi dengan menggunakan pendekatan sains modern. Pendekatan ini jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan dan menemukan konsensum umum, karena memang ada alat ukurnya, yakni rujukan teori, data statistik dan fakta dilapangan. Alhasil, baik kita maupun mereka akan sama - sama tercerahkan.

Kedua, perbanyak doa kebaikan dan keselamatan bagi mereka. Sebenarnya, kita memiliki dua opsi kepada musuh, yakni mendoakan hidayah maupun mendoakan kebinasaan. Para nabi dan termasuk rasulullah sendiri melakukan keduanya. Rasulullah mendoakan kebaikan kepada penduduk kota Thaif yang menyakitinya, mendoakan keimanan bagi Umar yang sangat keras permusuhannya dan mendoakan keimanan bagi ibundanya Abu Hurairah dll. Tapi disisi lain, rasulullah juga mendoakan kebinasaa bagi pemuka Quraisy dimedan perang Badar, mendoakan kehancuran bagi Kaisar Persia dan memerintahkan untuk membunuh beberapa musuh - musuh yang menyakitinya meski mereka berlindung dibalik tirai Ka'bah sekalipun, yakni pada saat Fathu Makkah.

Selama ini, kita lebih sering melihat doa keburukan dan caci maki penghinaan dari sebagian kelompok masyarakat dan aktivis dakwah kepada kelompok masyarakat lainnya. Mungkin hal ini sebagai peneguhan izzah sekaligus pembalasan atas aksi serupa. Namun hal ini sudah terbukti gagal untuk membuka mata hati musuhnya. Justru sebaliknya, fenomena yang ada adalah penentangan semakin keras, membabi buta dan mendarah daging. Doa - doa rasulullah difase awal dakwah mungkin perlu kita hidupkan lagi secara massif "Allahumaghfir li qaumii, fa-innahum laa ya'lamuun. Allahummahdi li qaumii, fa-innahum la ya'lamuun". Agar mereka diampuni dan diberi petunjuk kebenaran. Bukankan Allah adalah Dzat yang membolak - balik hati? [ms]

Ustadz Eko Jun

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Membuka Mata Hati"

Post a Comment