Fathu Makkah dan Revolusi Damai

Iklan Advertisement
Fathu Makkah dan Revolusi Damai
Majelissirah.com - Dalam Islam memperingati Tahun Baru Masehi dengan segala aktivitas yang tercela adalah dilarang. Seorang muslim seyogyanya menyikapi berjalannya waktu dengan muhasabah. Merenungi diri tentang apa yang telah diperbuat dan apa bekal yang telah ia punya menghadapi hari esok. Sebagai ummat, harus pula mengerti sejarah, paham kondisi saat ini hingga dapat mempersiapkan bekal untuk masa depan nanti.

Tanggal 1 Januari memang tiada kaitan secara khusus dengan penanggalan Islam. Akan tetapi, setidaknya pada tanggal tersebut ada sebuah peristiwa sejarah terhebat ummat Islam yakni 1387 tahun yang lalu, yakni Peristiwa Fathu Makkah.

14 Abad yang lampau,  01 Januari 630 M atau tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, adalah hari yang bersejarah dalam Islam. Pada hari itulah tercatat sebagai hari pertama Fathu Makkah. Dimana Nabi Muhammad SAW beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, sebelum masuk tanggal 02 Januari 630 M.

Fathu makkah artinya pembebasan Mekah dari negeri kufur menjadi negeri Islam. Pada hari itu Allah Swt menolong dan memenangkan tentara-Nya serta memberantas kekafiran (nasrullah wal fathu) sebagaimana dalam surat An-Nashr.

Nabi dan para sahabat kembali menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah.
 
Peristiwa Fathu Makkah ini akhirnya sangat menyejarah karena menyalahi tradisi perang Arab. Dahulu jika sebuah negeri ditaklukkan maka laki-lakinya di bunuh dan perempuannya dijadikan budak. Hari itu betul-betul tidak ada balas dendam. Revolusi Damai. Revolusi tanpa setetes darah. Itulah Revolusi Nabi.

Setidaknya, ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil mengenang Fathu Makkah. Pelajaran-pelajaran tersebut dapat dijadikan landasan semangat perjuangan meretas kebangkitan Islam kembali khususnya di Indonesia.

Pertama, Membela Izzah Islam. Fathu Makkah terjadi bukan karena hawa nafsu atau kesombongan kaum muslim atas jumlahnya yang mayoritas.  Tidak. Akan tetapi, karena  kaum muslimin membela kehormatan dan ‘izzah Islam atas pelanggaran perjanjian al-Hudaibiyyah yang dilakukan bersama kaum kafir Quraisy.

Perjanjian al-Hudaibiyyah adalah kesepakatan damai selama sepuluh tahun yang disepakati Rasulullah SAW dengan kaum kafir Quraisy saat hendak berhaji di Mekah. Namun kaum kafir Quraisy melanggarnya. Hal ini ditandai dengan pembunuhan kaum muslimin yang tinggal tak jauh dari Mekah.

Pengkhianatan atas nilai-nilai dalam perjanjian yang disepakati dengan kaum kafir inilah yang membuat kaum muslimin bergerak. Mereka menyerang karena diserang. Mereka berontak karena dikhianati oleh pihak lain yang melanggar perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.

Kedua, Aksi Damai. Dalam meraih kemenangan, Rasulullah SAW mengupayakan kemenangan yang tidak menimbulkan kerusakan. Selain Mekkah terdapat Masjidil Haram yang diharamkan adanya pertumpahan darah, juga karena menyadari di dalam kota tersebut terdapat keluarga sedarah.

Jangankan kepada keluarga, kepada yang bukan keluarga saja, yang notabene kafir manapun, Rasulullah SAW selalu mewanti-wanti para sahabat yang berperang agar tidak menyerang wanita, anak-anak, orang tua, atau orang-orang yang tidak ikut berperang.

Pada Fathu Mekkah,  kaum kafir kira mereka akan dihabisi dan dibantai. Namun ternyata, mereka diampuni. Bahkan Hari itu pun dinamakan hari kasih sayang (al-yaum yaumul marhamah).

Peristiwa Fathu Makkah ini akhirnya sangat menyejarah karena menyalahi tradisi perang Arab. Dahulu jika sebuah negeri ditaklukkan maka laki-lakinya di bunuh dan perempuannya dijadikan budak.

Ketiga, Lembut Tapi Tegas. Islam mengajarkan sifat lemah lembut. Namun hal itu jangan sampai untuk bertindak tegas terhadap sebuah pelanggaran. Meskipun itu dilakukan oleh kaum muslimin sendiri. Sejarah Fathu Makkah mengajarkan kita demikian. 

Saat Abu Sufyan yang ketika itu masih kafir berangkat menuju ke Madinah untuk memohan maaf kepada Rasulullah Saw dan memperbaiki perdamaian, tetapi sesampainya di Madinah, ia tidak bertemu langsung dengan Rasulullah.

Abu Sufyan menemui Abu Bakar agar beliau menjadi duta atau perantara dirinya dengan Rasulullah Saw, lalu kepada Umar lalu kepada Ali dan Fatimah, tetapi mereka semua menolak. Sikap para sahabat mulia ini menunjukkan sikap tegas dan tidak bertolong-tolongan dengan orang-orang kafir, tepatnya kafir yang telah mengingkari janji. Abu Sufyan kembali ke Mekah dalam keadaan sia-sia.

Begitupula bagaimana ketegasan Rasululah terhadap kesalahan sahabatnya, Hathib bin Abu Balta’ah. Hathib bin Abi Balta’ah ra. melakukan kesalahan dengan mencoba membocorkan informasi rahasia kepada keluarganya yang berada di Mekkah. Rasulullah SAW dengan cepat  mengambil keputusan untuk mengutus ketiga sahabatnya guna mencegah jatuhnya informasi kepada pihak lawan. Demikianlah bahwa ketegasan sangat diperlukan dalam menegakkan kebenaran.

Sampai kemudian, akhirnya setelah Fathu Makkah, berbondong-bondong orang memasuki Islam, dan Islam terus berekspansi seolah tanpa henti. Para pembesar Quraisy yang selama ini memusuhi akhirnya masuk ke dalam Islam, seperti Abu Sofyan dan Abdullah bin Abi Umayyah.

Penutup

Tanggal 1 Januari merupakan hari kasih sayang dalam sejarah Islam. Dalam sejarah, 1 Januari terjadi peristiwa Fathu Makkah. Peristiwa Fath Makkah ialah peristiwa Revolusi Damai. Peristiwa itu mengajarkan kita untuk bertindak saat janji dikhianati demi izzah Islam. Begitujuga dalam meraih kemenangan harus dengan damai, serta islam yang lembut tapi tegas. Wallahua’lam.

Oleh : Islahuddin Panggabean, S.Pd

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Fathu Makkah dan Revolusi Damai"

Post a Comment