Bagaimana Sebenarnya Akhlak Rasulullah ??

Iklan Advertisement
Bagaimana Sebenarnya Akhlak Rasulullah ??
Majelissirah.com - Urwah Ats-Tsaqafi yang menjadi wakil Quraisy untuk berunding dengan Rasulullah Saw pada saat Hudaibiyah terheran-heran. Dia terpesona dengan cara para sahabat memperlakukan wudhu. Hingga saat beliau wudhu, para sahabatnya memperebutkan bekas wudhunya. Bahkan ketika rambut beliau putus, itupun tak lepas dari rebutan sahabat.

Tatkala Urwah kembali ke kaumnya, dia pun berkata, ”Hai orang-orang Quraisy, aku pernah mendatangi Kisra di kerajaannya. Aku pernah menemui kaisar di keratonnya, aku pernah melihat Najasy di istananya. Belum pernah aku melihat orang memperlakukan rajanya seperti sahabat-sahabat Muhammad memperlakukan Muhammad.”

Pertanyaannya sudahkah kita mencintai Nabi? Atau jangan-jangan kita belum kenal dengan Nabi? Apa benar kita telah mengenal utuh pribadinya? Jikalau benar, mengapa sikap kita tidak seperti para sahabat. Atau kita hanya tahu bahwa beliau Nabi dalam Islam namun tidak punya posisi di hati sehingga yang terpikir dalam benak kita he just a prophet?

Penulis buku The Life and Teaching of Muhammad, Annie Besant, berkata, ”Mustahil bai siapapun yang mempelajari kehidupan dan karakter Muhammad Saw hanya mempunyai perasaan hormat saja terhadap Nabi mulia itu. Ia akan melampauinya sehingga meyakini bahwa beliau adalah salah seorang Nabi terbesar dari sang Pencipta”

Segala sirah dan tulisan yang menceritakan mengenai beliau sejatinya tak akan dapat secara utuh melukiskan bagaimana kepribadiannya. Tulisan-tulisan itu hanya secuil saja. Mari kita ingat kembali kisah dari masa Khalifah Umar. Suatu ketika seorang datang menemui khalifah, ”Ceritakan kepadaku tentang akhlak Rasul kalian?” Umar tak sanggup memenuhi permintaannya. Dia menyuruh Yahudi itu menemui Bilal.

Namun ternyata, Bilal pun tidak sanggup. Akhirnya Yahudi itu sampai ke Ali bin Abi Thalib. Bukankah Ali mengenalnya sejak kecil? Bukankah dia sering tidur bersama Rasulullah, sehingga ia berkata, ”Aku masih merasakan harumnya tubuh Nabi”, Bukankah Ali hampir selalu menyertainya kemanapun beliau pergi?” Dan Bukankah Nabi Saw berkata tentang Ali dengan sebuah pernyataan eratnya beliau dengan Ali.

Nabi Saw pernah bersabda, ”Sesungguhnya Ali dariku dan Aku dari Ali.” Singkat cerita, Ali pun bertanya kepada Yahudi itu, ”Lukiskan keindahan dunia ini dan akan aku gambarkan kepada anda tentang akhlak Nabi.”

Lelaki itu berkata, ”Tidak mudah bagiku.” Ali menukas, ”Engkau tidak mampu melukiskan keindahan dunia padahal Allah telah menyaksikan betapa kecilnya dunia ketika berfirman, ”Katakanlah: keindahan dunia itu kecil.” (QS An-Nisa : 77). Nah, bagaimana mungkin aku melukiskan akhlak Rasulullah Saw , padahal Allah Swt bersaksi akhlaknya itu agung, ”Sesungguhnya engkau berada pada akhlak yang agung.” (QS Al-Qalam : 4)

Ali yang sedari kecil bersama Nabi saja tidak mampu menjelaskan ’Biografi’ Rasulullah Saw. Lantas Bagaimana pula dengan jawaban Aisyah saat Sa’d bin Hisyam bertanya tentang akhlak Rasulullah Saw. Maka jawaban Ummul Mukminin cukup ringkas dan sempurna, ”Akhlaknya al-Quran.”

Hal itulah yang harusnya menjadi motivasi bagi ummat untuk mengulang dan membaca sirah-sirah Nabawi. Bukan malah semakin malas. Oleh karena itu, al-Quran dan buku-buku berisi sirah Nabawiyah adalah buku wajib yang dimiliki setiap muslim.[isl]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bagaimana Sebenarnya Akhlak Rasulullah ??"

Post a Comment