Aksi Bela Islam, Momentum Kebangkitan Umat

Iklan Advertisement
Aksi Bela Islam, Momentum Kebangkitan Umat
Majelissirah.com - Sepekan sudah berlalu sejak gelar Aksi Bela Islam jilid ketiga (aksi 212). Kisahnya masih terus ditulis, ibrahnya masih terus dikaji dan efeknya masih terus meluas. Tidak berlebihan jika Aksi Bela Islam (edisi 1, 2 dan 3) dikukuhkan sebagai momentum kebangkitan umat Islam di Indonesia. Ada beberapa alasan yang mendasarinya, diantaranya :

Pertama, Persatuan Umat
Menyatukan gerakan umat islam di Indonesia, sama sekali bukan perkara gampang. Ada perkara dan sentimen 'ashobiyah yang sangat sulit untuk dipadukan. Alhasil, seringkali tersaji tontonan yang kurang pas bagi kalangan awam, mulai dari perang dalil, silang pemahaman hingga berebut kepentingan. Biasanya didasarkan pada perbedaan manhaj pergerakan dan landasan fikih. Contoh yang paling mudah terjadi jelang aksi 212. Disaat energi umat mulai bersatu padu, ada saja persoalan diniyah yang sengaja dilempar ke publik dan memancing kontroversi. Mulai dari perkara shalat jum'at dijalan hingga pro kontra hukum berdemonstrasi.

PR memang masih banyak, tapi progresnya sejauh ini positif. Orang bilang, so far so good. Komunikasi yang intens diantara para ulama menjadi faktor kunci. Minimnya bendera dan atribut organisasi turut menunjang. Kesiapan untuk bergerak dibawah satu komando berperan besar. Terakhir, yakni adanya ijma umat atas isu yang diusung. Melihat fakta - fakta dilapangan, mungkin terlalu utopis juga jika kita berkeinginan untuk menyatupadukan energi umat Islam dibawah satu bendera saja. Yang bisa kita lakukan adalah memperbesar ruang kerjasama atas perkara yang disepakati serta melapangkan dada untuk ruang toleransi atas perkara yang tidak disepakati. Itulah salah satu jalan terbaik untuk menyatukan umat, setidaknya untuk saat ini.

Kedua, Internasionalisasi Gerakan
Jika kita mau jujur, kiprah umat Islam Indonesia di dunia internasional sebenarnya tidak bisa dianggap remeh. Indonesia itu gudangnya qari bertaraf internasional, dari Muammar ZA hingga Musa yang masih bocah. Ulama Indonesia juga diakui kapasitasnya, hingga 3 ulamanya pernah menjadi Imam dan Khatib di Masjidil Haram, yakni Syaikh Junaid Al Betawi, Syaikh Nawawi Al Banteni dan Syaikh Khatib Al Minangkabawi. Namun sampai saat ini, Indonesia seolah berada dipinggiran atau ditepian pergerakan umat Islam Internasional. Kita lebih sering merespon isu yang ada diluar (Palestina, Suriah, Turki, Rohingya) dan lebih nyaman menjadi penonton. Jikapun ada kontribusi, hal itu lebih sering dilakukan oleh aktor - aktor non negara.

Namun pada gelaran aksi 411 dan 212 kemarin, situasinya mulai berubah. Umat Islam dari belahan bumi lain ikut mensupport perjuangan dibumi pertiwi. Salam dari jauh (Salam Mim Ba'id, red) disampaikan oleh saudara kita, dari Amerika, Turki hingga Australia. Ini adalah sinyal positif dimana gerakan Islam di Indonesia siap untuk naik kelas ke gelanggang internasional. Disaat wilayah Timur Tengah tercabik dalam pusaran konflik, Indonesia menunjukkan harapan baru fajar kebangkitan Islam. Efeknya akan semakin besar jika energi kebangkitan umat ini terlegitimasi secara politis oleh negara. Semoga kelak, Indonesia bisa memainkan peran - peran keumatan dilevel internasional. Pada masa Pak Harto, Indonesia bisa memediasi konflik antara MILF dengan Pemerintah Filiphina. Semoga pada pemerintahan mendatang, Indonesia juga bisa berkiprah nyata atas tragedi kemanusiaan yang melanda di Birma.

Ketiga, Perluasan Pengaruh
Bagi kalangan aktivis islam, isu - isu keumatan tentu selalu menjadi makanan harian. Dari maalah pemurtadan, pendangkalan akidah hingga konflik sektarian yang mengarah pada gerakan disintegrasi bangsa. Membicarakan masalah seperti ini dengan pihak non aktivis islam, hanya akan mengundang diskusi tak berkesudahan. Maklum, mereka hidup didunia didunia yang berbeda, dengan asupan informasi yang berbeda serta worldview yang berbeda pula. Ibarat siaran radio, frekuensinya masih belum sama, sehingga banyak terjadi distorsi dan gangguan roaming saat mendiskusikan sebuah masalah. Akhirnya terjebak pada debat kusir dan situasi deadlock.

Namun pada aksi 411 dan 212, yang bergerak dan berpartisipasi bukan hanya kalangan aktivis islam tapi juga masyarakat umum. Bukan hanya mereka yang berasal dari partai islam, tapi juga partai nasionalis. Dari dai, santri, polisi, politisi, aktivis, kaum miskin kota, para pengusaha hingga kalangan artis sekalipun ikut berpartisipasi. Karena berasal dari kesadaran, aksi - aksi herois pun dengan mudah diatraksikan. Dari longmarch oleh para santri hingga jihad bil amwaal dari para aghniya. Inilah salah satu isu keumatan yang direspon secara massif oleh masyarakat umum.

Khatimah
Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemimpin dunia Islam dimasa mendatang. Indonesia negeri muslim terbesar di dunia, jama'ah haji dan umrohnya paling banyak didunia, tentaranya cukup disegani didunia, kekayaan alamnya pun paling melimpah ruah dibanding negeri muslim lainnya. Hanya saja, Indonesia ibarat raksasa yang tertidur lelap dalam bius mimpi indah. Momentum kebangkitan ini baru akan masif dan menggulirkan efek bola salju jika banyak agen - agen perubah yang terus bergerak dan menggelorakan kesadaran publik. Semoga, kami dan kita termasuk diantaranya. [ms]

*Ust. Eko Jun

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aksi Bela Islam, Momentum Kebangkitan Umat"

Post a Comment