Menolong Agama Allah

Iklan Advertisement
Menolong Agama Allah
Majelissirah.com - Satu demi satu, konsepsi yang sudah paten dalam agama Islam mulai digugat. Diantaranya adalah frase “menolong agama Allah”. Gugatan ini sebenarya sudah lama, tapi akhir – akhir ini semakin menguat sering kasus penistaan agama yang terjadi di Jakarta. Jika dahulu teratas dikalangan pemikir islam liberal, sekarang semakin merambah luas ke kalangan awam sekalipun.

Kami ingin menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan frase “menolong agama Allah”. Semoga bisa menjadi bekal dan pegangan yang bermanfaat.

Pertama, Hukumnya Wajib

Menolong agama Allah hukumnya wajib. Ini adalah seruan Allah kepada orang – orag yang beriman (Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu). Shahabat Ibnu Mas’ud menjelaskan bahwa setelah ayat “Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu” biasanya ada perintah yang harus dikerjakan atau ada larangan yang harus ditinggalkan. Secara sederhana, ayat – ayat terebut adalah ayat perintah atau ayat larangan.

Melalui ayat “Yaa Ayyuhallladziina Aamanuu”, Allah mewajibkan amalan – amalan seperti puasa, dzikir, shalawat dll. Melalui ayat “Yaa Ayyuhallladziina Aamanuu” pula, Allah melarang khamr, riba dan memilih pemimpin non muslim. Ini penjelasan secara sederhana, namun prinsipil.

Dalam surat Muhammad (47 : 7) kita mendapatkan penjelasan tentang balasan dari Allah jika kita mau menolong agama-Nya. Dalam surat Ash Shaf (61 : 14) kita diperintahkan secara tegas untuk menolong agama Allah serta diberikan contoh kaum terdahulu yang bersemangat menjadi penolong agama Allah.

Namanya juga hukum wajib, artinya jika dikerjakan berpahala, jika ditinggalkan berdosa, jika diingkari bisa jatuh ke hukum kafir. Apakah hukumnya wajib ‘ain atau wajib kifayah, kita lihat dulu jenis kasus serta situasi dan kondisi yang dihadapi.

Kedua, Allah Maha Kuat

Allah adalah Al Qawiy, Al ‘Azis. Dia adalah Dzat yang tidak butuh sekutu dan penolong. Sebaliknya, kita lah yang butuh pertolongan-Nya. Iyyakana’budu wa Iyyaka nasta’iin. Segala persoalan kehidupan, Allah lah jawabannya. Karena Allah menjadi tempat bergantung semua urusan. Allahush shamad.

Jika demikian kondisinya, lalu kira – kira apa maksud dibalik perintah “membela agama Allah” itu? Bukankah jika seluruh makhluk taat, hal itu tidak akan menambah kemuliaan-Nya. Dan jika seluruh makhluk ingkar, hal itu juga tidak mengurangi kemulian-Nya? Bukankah tanpa dibela sekalipun, Allah pasti akan menunjukkan kuasa-Nya sebagaimana Allah menghukum bangsa Mesir dengan 10 jenis azab dan menghancurkan tentara bergajah? Betul sekali, kita diam dan acuh sekalipun, Allah pasti menang.

Kami memahami frase “menolong agama Allah” sebagai ladang amal yang penuh keutamaan. Berada dibarisan kafilah ini mendatangkan kemuliaan, rahmat, ampunan dan surga. Meninggalkan dan mengingkarinya menjadi sebab kemunduran, kehinaan dan azab. Jadi, menolong agama Allah kadang menjadi perintah, kadang jadi tawaran. Yakni tawaran agar kita bergabung kepada pihak yang pasti akan menang, tanpa perlu disurvei. Fainna hizballaahi humul ghaalibuun.

Kami juga memahami frase “menolong agama Allah” bukan dimaknai karena Allah lemah dan butuh pertolongan. Di akherat kelak, Allah malah menyeru kepada bani Adam dengan sesuatu yang lebih dahsyat, yakni “Aku sakit tapi kalian tidak menjenguk-Ku, Aku lapar tapi kalian tidak memberi-Ku makan, Aku haus tapi kalian tidak memberi-Ku minum”. Tetapi kita sama – sama tahu, bukan itu maksud harfiahnya kan?

Ketiga, Jenis Amalannya

Membela agama Allah bukan amal yang bersifat tunggal. Ada banyak ragam varian amal yang bisa dimasukkan dalam kategori membela agama Allah. Yakni dengan dakwah dan jihad, serta beragam amal turunannya. Termasuk didalamnya adalah saat kita berkhidmat kepada agama islam, menjelaskan tentang keutamaan dan keunggulan islam, meninggikan kalimat Allah hingga pada akhirnya kita menghalau musuh – musuh islam.

Karena ragam variannya banyak, mari kita bergabung dalam kafilah ini sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang kita miliki. Punya ilmu, disebar. Punya harta, dibagi. Punya pengaruh, digunakan. Punya tenaga, diikhlaskan. Demikian dan seterusnya. Mungkin kita tidak mampu melakukan amal – amal tertentu, tapi kita bisa optimal dibeberapa amal yang bersifat khusus.

Mungkin kita juga tidak sependapat dengan pilihan yang diambil sebagian saudara kita, tapi jangan pernah kita berpindah posisi menjadi bersekutu dengan musuh demi menghancurkan saudara kita itu. Dalam situasi banyak fitnah dan ketidakjelasan informasi, sikap terbaik adalah berdiam diri sebagaimana pilihan ibnu Umar. Syukur jika kita diberikan basyirah untuk mengenali kebenaran dan bergerak bersama sebagaimana yang terjadi pada ibnu ‘Abas.

Kami percaya sepenuhnya, kita semua orang pasti ingin terlibat menjadi “penolong agama Allah”. Karena kami mendapati banyak fakta bahwa orang fasik sekalipun, mereka senang berinfaq dan bersedekah ke berbagai lembaga sosial. Bukankah itu juga termasuk amalan menolong agama Allah? Tugas penting bagi kita setidaknya ada dua, yakni menyatukan hati dan menyatukan barisan. Bagaimana caranya? Kami yakin, kita semua tahu jawabannya. [ms]

*Ust.Eko Jun

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menolong Agama Allah"

Post a Comment