Pentingnya Membicarakan Urusan Negeri Lain @ Catatan Kudeta Turki

Iklan Advertisement
Pentingnya Membicarakan Urusan Negeri Lain @ Catatan Kudeta Turki
Majelissirah.com - Debat publik lain yang mengemuka di media sosial dalam mensikapi kudeta gagal di Turki adalah tentang membicarakan negeri orang lain. Sederhananya adalah “Untuk apa kita membicarakan urusan negara lain. Urusan dinegara kita saja masih banyak. Apa pentingnya membincangkan kudeta negara lain bagi rakyat biasa?”. Terhadap debat publik seperti ini, kita bisa memberikan beberapa jawaban, diantaranya :

Pertama, Proses Pencerdasan
Dalam masyarakat yang terkoneksi secara luas, apa saja dijafikan bahan obrolan dan perbincangan. Dari urusan publik seperti pilkada, perundangan dan kebijakan negara, hingga urusan privat seperti polah tingkahnya para artis dan kontroversinya selebritis. Dari tema dan kualitas obrolan yang ada, kita bisa mendeteksi tentang siapa dan bagaimana masyarakatnya. Jika yang dibicarakan adalah perkara yang tinggi, besar dan mulia berarti cerminan dari baiknya masyarakat. Namun jika bahan obtolannya adalah perkara yang remeh temeh, menunjukkan rendahnya kapasitas dan kualitas masyarakat.

Kudeta termasuk tema pembicaraan berat, karena didalamnya ada pembahasan tentang sejarah, teori perang, strategi militer, percaturan politik, konspirasi global, rekayasa media, persaingan antar harakah dll. Tentu saja tidak bisa disamakan dengan tema obrolan anak alay yang cenderung melow. Disini sangat terlihat mana yang memiliki kepakaran, mana yang hanya sekedar sharing, mana yang hanya membeo dan mana yang hanya menjadi penonton. Namun andaikan semua golongan itu masuk dalam tema ini sekalipun, satu sama lain akan saling berbagi visi, ilmu dan pengalaman. Alhasil, secara keseluruhan daya pikirnya akan meningkat. Meskipun bagi mereka yang tidak siap sangat rawan berujung fitnah, kedengkian dan sikap apatis.

Kedua, Strategi Dakwah
Dalam konteks sirah nabawiyah, kita paham bahwa rasulullah memiliki wawasan global. Meski hidup dizaman tidak ada internet dan handphone, namun ditahun kelima hijriyah beliau berkata kepada sebagian shahabatnya “Hijrahlah kalian ke Habasyah. Disana ada raja yang adil dan tidak akan berbuat zhalim”. Padahal habasyah tidak terletak dijazirah arab, bahasa dan adatnya berbeda dan untuk mendatanginya harus dengan naik kapal.

Hal itu juga ditunjukkan dalam banyak penyusunan strategi dakwah rasulullah. Rasulullah lebih memilih Madinah sebagai basis gerakan dakwah baru diluar Makkah, ketimbang Habasyah dan Thaif. Rasulullah sangat mengenal karakter para pemimpin dunia yang dikirimi surat dakwah pada fase intisyarul islam fil ardhi. Beliau mengenal watak qabilah - qabilah di Arab, beliau sangat paham tabiat Yahudi dll. Disisinya memang ada Abu Bakar ash Shidiq yang sangat paham dengan nasab bangsa Quraisy, namun jelas rasulullah sendiri juga memiliki pengetahuan yang sangat mumpuni dalam skala global.

Ketiga, Watak Pemimpin
Para pemimpin biasanya berdiri ditempat yang tinggi, karenanya mereka mampu melihat lebih jauh dari yang dipimpinnya. Mereka akan melakukan banyak hal untuk orang lain, sesuai dengan kadar kepemimpinan dan kemampuan yang dimilikinya. Pemimpin dari negara - negara besar tidak pernah berfikir hanya untuk urusan dalam negerinya semata. Ada krisis dimana, mereka berbicara. Ada perang dimana, mereka hadir. Ada bencana bencana dimana, mereka memberikan  bantuan. Semakin besar kapasitas kepemimpinan seseorang, semakin banyak yang masuk dalam kebijakan dan tanggung jawabnya.

Turki pernah jadi pemimpin besar didunia, sebagai penguasa Daulah Utsmani. Proses sekularisasi Kemal Attaturk membuatnya jadi negara yang berwatak kecil yang hanya memikirkan urusan dalam negerinya semata. Sekarang, ada Erdogan yang membawa Turki menjadi negara modern. Wajar jika dia memikirkan tentang kondisi umat islam di Gaza, Aceh, Myanmar dan bahkan China. Memang begitulah tipe dan karakter pemimpin besar, yakni ikut campur tangan negara lain.

Membicarakan kondisi negara lain, adalah satu tahap strategis untuk membentuk mental sebagai pemimpin besar. Bukan untuk menjajah atau berbuat makar, tapi untuk membantu dan membelanya. Indonesia sebenarnya mewarisi kebesaran yang agung dari masa lalu, khususnya kerajaan Majapahit yang berstatus sebagai kerajaan internasional. Layak ditunggu, agar kebesaran dimasa lalu bukan sekedar sejarah tapi bisa dititiskan kepada para pemimpinnya.

Khatimah
Dimasa sekarang ini, semua saling terhubung. Bahkan, untuk sekedar melakukan aksi kudeta, para pemberontak biasanya juga akan meminta ijin dan dukungan dari negeri lain. Kita tahu ternyata jendral Perves Musyaraf juga meminta ijin ke gedung putih sebelum melakukan kudeta di Pakistan. Kita tahu bahwa DN Aidit juga melaporkan rencana kudeta ke Beijing. Sangat mudah mendeteksi bahwa otak dan dalang kudeta dinegara manapun pasti tidak akan berdiri sendiri. Karena pemerintahan hasil kudeta itu butuh pengakuan dan dukungan politik dari negara lain serta butuh polesan dari media dan pengamat.

Jika mereka yang melakukan makar saja senang berkomunikasi dan bekerjasama dengan pihak lain, mengapa kita yang menginginkan kebajikan malah memutus kontak dengan saudara kita diluar? Karena itu, membicarakan urusan negara lain menjadi penting kedudukannya. Bukan sekedar dalam urusan bisnis dan investasi, tapi juga dalam konteks politik dan mewujudkan tatanan global. Wallahu a’lam.[ms]

Penulis : Eko Jun

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pentingnya Membicarakan Urusan Negeri Lain @ Catatan Kudeta Turki"

Post a Comment