Menelisik Orkestra Fals @ Catatan Kudeta Turki

Iklan Advertisement
Menelisik Orkestra Fals @ Catatan Kudeta Turki
Majelissirah.com - Dibawah kepemimpinan Erdogan, Turki sudah bergerak maju baik dari sisi religiusitas maupun ekonomi. Selain itu, Turki juga sudah banyak berkontribusi menjadi pengayom bagi kaum muslimin dibeberapa belahan bumi. Namun jika kita mencermati media sosial, tidak sedikit pula yang masih mencela, mencaci maki dan bersuara sumbang kepada Erdogan. Penyebabnya cukup banyak dan beragam, diantaranya :

Pertama, Ashobiyah Jahiliyah

Bersikap fanatik terhadap islam, itu wajib hukumnya. Dalam arti kita meyakini dengan benar bahwa islam adalah agama yang unggul “Al Islamu ya’lu wala yu’la ‘alaihi”. Bersiap fanatik kepada kelompok, itu tidak boleh. Karena tidak ada jaminan bahwa kelompok kita paling paham terhadap sirah nabawiyah, paling benar dalam menafsirkan Al Qur’an dan paling faqih dalam beristimbath. Sifat ishmah itu diwariskan kepada umat islam secara keseluruhan, bukan kepada satu kelompok tertentu. Yang lebih celaka lagi adalah, ada perbedaan cara pandang dalam perkara yang mubah yang bercorak pelangi, tapi oleh pihak lain diseret pada cara pandang aqidah yang bersifat hitam putih. Runyam sekaligus miris.

Sulit dipungkiri bahwa hubungan antar harakah dakwah lebih banyak didominasi dengan kompetisi dan konflik, ketimbang koalisi. Persoalan dia dari kelompok mana, memakai manhajnya golongan mana, berafiliasi dengan ulama siapa lebih sering mengemuka ketimbang peran, kiprah dan kontribusi yang telah diberikan. Seolah lupa bahwa rasulullah saw menegaskan “The best of you is the most contributing for people”. Mereka yang terjebak pada ashobiyah jahiliyah akhirnya buta terhadap kebenaran karena hatinya sakit dengan capaian prestasi pihak lain. Bukannya termotivasi untuk membuat prestasi serupa, malah mencela dan mencaci maki karena tidak memakai manhaj dakwah dari kelompoknya.

Dititik ini, mudah dipahami bahwa keberhasilan tertentu dari sebuah eksperimen dakwah berpotensi mengancam manhaj, metode dan eksistensi kelompok lain. Misalnya, keberhasilan dakwah dengan menggunakan satu instrumen tertentu (seperti demokrasi, adat dan budaya dll) maka akan mematahkan premis dari kelompok yang mengharamkan instrumen tersebut. Mafhum mukhalafahnya adalah, kegagalan mereka akan menjadi sarana pembuktian dan pembenaran dari kelompok lainnya yang berseberangan. Ini penjelasan yang pertama.

Kedua, Salah Informasi


Orang bijak berkata, kita adalah apa yang kita baca. Maksudnya, informasi yang masuk dan kita yakini, akan berpengaruh kepada cara pandang terhadap suatu persoalan serta cara kita bersikap dan merespon peristiwa. Dimasa sekarang, cara orang memverifikasi, mengkonsumsi dan menyikapi informasi sudah mengalami pergeseran yang signifikan. Dahulu standar verifikasi informasi adalah ittishalus sanad, dari pewarta pertama yang hadir ditempat kejadian. Sekarang standar verifikasi informasi masih ittishalus sanad, tapi dari kelompoknya masing - masing. Jika informasi itu berasal dari channel telegram kelompoknya, laman berita golongannya atau bayanat dari tanzhimnya, maka pasti benar adanya. Sedang informasi dari pihak lain pasti salah atau minimal meragukan.

Kondisi ini marak terjadi dikalangan aktivis dakwah. Berawal dari standar ganda pers/jurnalistik global dalam memberitakan peristiwa yang menyangkut dengan dunia islam. Akibatnya, mereka membuat satuan - satuan jurnalistik sendiri. Sampai disini kerangkanya masih positif dan konstruktif. Permasalahannya, seringkali ada motif - motif tertentu yang ikut membumbui hidangan sebuah berita, sehingga tidak lagi bersikap netral. Salah satunya adalah penyakit akut, berupa ashobiyah jahiliyah. Karena memberitakan kebaikan kelompok lain sama dengan mendegradasikan citra kelompoknya sendiri. Dan atau sebaliknya.

Jika kita melihat banyak orang shaleh yang ahli ibadah namun memiliki persepsi yang buruk terhadap satu kebaikan tertentu, maka ber-husnudzan-lah bahwa mereka mendapatkan asupan informasi yang salah. Keshalehan beribadah itu satu hal, sedang kefaqihan dalam ber-siyasah itu hal lain. Yang perlu dilakukan adalah dialog dengan membuat standar kebenaran yang disepakati bersama. Jika sudah dirumuskan, baru diverifikasi dengan bukti dan fakta. Maka akan terlihat, siapa yang lebih layak untuk menjafi rujukan, mana yang berstatus berita shahih dan mana yang dhaif, mursal atau matruk. Ini penjelasan yang kedua.

Ketiga, Agen Asing

Agen asing itu bisa berarti kaki tangan asing, karena menjalankan suatu agenda tertentu sesuai dengan apa yang diinstruksikan. Jalurnya bersifat komando, terbatas pada inner circle dan instruksi kebawah penuh dengan rasionalisasi tertentu. Pada kasus ISIS, kita tahu bahwa pendirinya adalah anak didik CIA. Pada kasus kudeta di Turki, kita tahu bahwa jendral yang menjadi otak kudeta ditawari suaka politik oleh Israel. Pada kasus JIL, kita tahu bahwa mereka mendapatkan donasi besar dari USAID. Dan seterusnya. Ini perkara yang mudah dipahami karena terlihat gamblang didepan mata.

Namun, ada juga gerakan atau kelompok islam yang secara tidak sadar menari sesuai irama asing. Pihak asing melakukan pengkondisian sedemikian rupa, sehingga kelompok tersebut secara sadar dan sukarela menikam saudaranya dari belakang, dengan pisau beracun. Proses pengkondisian terjadi misalnya dengan memberikan basis data dan informasi yang sudah dimodifikasi, analisa yang dimanipulasi, mengisolasi jalur informasi dari kelompok lain hingga sedikit iming - iming yang bersifat keduniaan.

Dititik ini, kita harus banyak belajar pada sejarah. Tentang orang - orang hebat yang menempatkan islam diatas kepentingan pribadi dan golongannya. Seperti sikap Mu’awiyah bin Abu Sofyan ra yang menolak bantuan asing untuk mengalahkan pasukan Ali bin Abu Thalib ra. Seperti Ka’ab bin Malik ra yang memilih untuk setia kepada rasulullah meski diboikot dan menampik tawaran untuk berkhianat. Atau seperti Sultan Abdul Hamid 2 yang bersikeras untuk tidak menyerahkan tanah Palestina kepada kaum yahudi meski diancam oleh para bankir yahudi. Sejarah panjang telah memberi banyak pelajaran, tidakkah kita mau berikir?

Khatimah

Kita harus banyak berlapang dada dalam perlombaan kebajikan antar harakah islam. Karena diluar islam, musuh yang membuat makar dan tipu daya sudah banyak, tidak perlu ditambah lagi jumlahnya dari sesama gerakan dakwah. Selain itu, kaidah “Khairun naas, anfa’uhum lin naas” hendaknya juga tidak hanya dipahami pada skala personal, tapi juga diperbesar pada skala harakah dakwah islamiyah. Termasuk kaidah yang harus kita tingkatkan skalanya adalah wasiat dari rasulullah “Al muslimu man salimal muslim, mil lisaanihi, wa yadihi”. Wallahu a’lam bi shawab.[ms]

*Eko Jun

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menelisik Orkestra Fals @ Catatan Kudeta Turki"

Post a Comment