Mendoakan Seorang Pemimpin @ Catatan Kudeta Turki

Iklan Advertisement
Mendoakan Seorang Pemimpin @ Catatan Kudeta Turki
Majelissirah.com - Beberapa hari ini, media sosial ramai dengan berita dan analisa seputar percobaan kudeta di Turki. Tanggapannya cukup beragam, baik yang pro maupun kontra. Melihat pola berita dan komentar yang ada, hemat kami ada beberapa konsepsi yang perlu diluruskan. Diantaranya seputar polemik mendoakan seorang pemimpin.

Polemik yang muncul diruang publik adalah “Kita warga negara Indonesia mendoakan banyak kebaikan bagi pemimpin negeri orang. Mengapa kita tidak melakukan hal yang sama kepada pemimpin negeri sendiri (presiden Indonesia)?” Harus dipahami bahwa pemimpin memiliki hak untuk ditaati oleh rakyatnya selama tidak memerintahkan perbuatan dosa dan maksiat. Jika mendapatkan sesuatu yang tidak kita sukai, hendaknya kita bersabar. Inilah doktrin yang dipegang ketat oleh saudara kita, khususnya dari salafi. Dalil dan argumentasinya tentu saja panjang, lebar dan luas.

Sesuatu yang tidak kita sukai dari pemimpin itu banyak jenisnya. Bisa keburukan akhlaknya, bisa keberpihakannya kepada asing, bisa produk peraturan perundangan yang menekan rakyat kecil, bisa kebijakannya untuk menghalangi dakwah dll. Atas semua hal yang tidak disukai ini, doktrin yang dipegang oleh sebagian saudara kita adalah taat dan sabar. Tidak ada protes, tidak ada masukan, tidak ada nasehat. Tentu saja, mereka juga mendoakan kebajikan bagi para pemimpin negeri dari rumah - rumah mereka. Karena model pergerakan dakwahnya memang tidak banyak bersentuhan dengan garis politik dan kebijakan negara.

Salahkah doktrin itu? Tidak, hanya kurang lengkap. Selain mendoakan kebajikan untuk pemimpinnya, rakyat juga berhak (bahkan wajib) mengingatkan pemimpinnya serta memberikan masukan dan nasehat. Caranya beragam, dengan sembunyi maupun didepan umum, dengan suara yang lembut maupun dengan suara keras. Dalilnya pun melimpah ruah, baik pada masa rasulullah saw maupun era khulafaur rasyidin al muhtadin. Artinya, sesuatu yang memiliki landasan dalil dan pengamalan itu jangan diingkari atau disembunyikan. Semua harus dihadirkan secara utuh, agar generasi mendatang memiliki pilihan - pilihan untuk bersikap sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya.

Siapakah pemimpin yang harus kita doakan kebajikan dan petunjuk? Ya semuanya. Tidak harus terbatas pada pemimpin negaranya saja. Doa kebajikan untuk kaum muslimin saja (Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat dll) itu juga bersifat umum, tidak dibatasi sekat negara. Mereka yang senang mendoakan pemimpin dari negara lain bisa jadi karena ber-husnudzan bahwa sebagian saudaranya (terutama pendukung dan pemilihnya) sudah banyak berdoa kebaikan untuk pemimpin dinegerinya. Istilahnya, sekedar berbagi tugas saja. “Kita sama - sama berdoa untuk pemimpin kaum muslimin. Silahkan engkau doakan untuk pemimpin muslim yang ada disana. Untuk pemimpin yang ada disini, biar kami yang mendoakan”.

Situasinya sama persis dengan saat terjadi bencana ditempat yang jauh. Kadangkala mereka yang bergerak untuk membantu bukannya mendapat dukungan dan simpati, malah seringkali mendapat cibiran. “Untuk apa mengurusi yang jauh? Yang dekat saja masih banyak yang membutuhkan bantuan”. Ungkapan ini bisa jadi benar, tapi jelas bukan kalimat khas milik para pejuang dan pemikul tanggung jawab. Karena para pejuang pasti akan berkata “Silahkan engkau bantu yang ada disana. Untuk mereka yang ada disini, biar kami yang mengurusnya”. Ini baru namanya berbagi tanggungjawab.

Mendoakan pemimpin muslim dari negeri lain saat ini sudah menjadi fenomena global diberbagai negara. Contoh mudah, rakyat Palestina dulu turun membawa poster presiden Moursi dan sekarang membawa foto presiden Erdogan. Demikian pula dengan umat islam diberbagai negara. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bisa jadi karena kepemimpinan kaum muslimin dinegerinya sendiri sangat lemah atau bahkan didikte oleh kekuatan asing, ini tanda keputusasaan. Bisa jadi pemimpin itu memberikan dukungan dan support nyata terhadap pemimpin dan rakyat dinegerinya, ini tanda cinta dan persahabatan. Bisa jadi kaum muslimin membutuhkan pemimpin ditingkat global yang mampu mengayomi dan melindunginya seperti halnya di rohingnya, ini wujud pengharapan.

Disisi lain, doa terhadap pemimpin muslim dari negeri lain juga menunjukkan tingginya ukhuwah islamiah yang bersifat ‘alami. Bahwa pemimpin satu negeri muslim juga dianggap sebagai pemimpin oleh kaum muslimin dinegeri lainnya. Dengan demikian, menjadi jelas pula peran dan tanggung jawab seorang pemimpin muslim. Bahwa mereka bukan hanya berkiprah untuk rakyat dan bangsanya semata, namun juga harus ta’awun dan takaful kepada kaum muslimin dari negeri lain.

Fenomena mendoakan kebajikan dari pemimpin dari negeri lain di Indonesia memang dirasa agak sensitif. Pertama, worldview kaum muslimin Indonesia memang dibatasi dengan frase - frase populer seperti idiom islam nusantara, arabisme dll. Kedua, timur tengah dipersepsikan sebagai kawasan yang labil dan pengekspor kekerasan semata (al qaeda, isis dll). Ketiga, pemimpin Indonesia minim keberpihakan dan kontribusinya terhadap dunia islam. Dengan sendirinya, mendoakan pemimpin muslim dari negara lain akan dianggap mendegradasi citra kepemimpinan nasional (presiden).

Apakah dengan mendoakan pemimpin negeri lain, rasa nasionalisme kita luntur? Tidak juga. Ada orang berbuat baik kita puji, ada orang berbuat salah kita nasihati. Hal itu berlaku umum, baik untuk orang biasa maupun pemimpin, baik orang yang senegara maupun beda negara. Saat menyaksikan bigmatch pertandingan bola, kita bahkan sering berdoa agar tim yang didukung menang. Padahal mereka bukan sedang bertanding untuk negeri kita, bahasa dan agamanya pun kadang berbeda. Lalu mengapa kita mengecam mereka yang mendoakan seorang pemimpin muslim yang berkiprah nyata membantu rekonstruksi Aceh pasca tsunami, mengadvokasi minoritas muslim di Myanmar dan berhasil membuka blokade Israel atas jalur Gaza?

Terakhir, mendoakan pemimpin sebenarnya bukan hanya saat mereka sudah terpilih atau dilantik resmi menjadi pemimpin. Bahkan sangat penting agar kita berdoa agar diberikan pemimpin yang baik. Jangan sampai kita tidak bersikap saat pemilihan pemimpin, namun bersikap pasrah (taat dan sabar) atas kebijakan pemimpin yang jauh darikata bijaksana. Bagus sekali senandung sebuah syair lagu untuk dirangkai menjadi doa umum “Tuhan kirimkanlah aku, Pemimpin yang baik hati, Yang mencintai aku, Apa adanya”. Wallahu a’lam.[ms]

Penulis : Eko Jun

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mendoakan Seorang Pemimpin @ Catatan Kudeta Turki"

Post a Comment