Kabari Aku @ Majelis I’tibar

Iklan Advertisement
Kabari Aku @ Majelis I’tibar
Majelissirah.com - Diantara fenomena unik di orde reformasi adalah berita yang tidak sesuai fakta dan berita yang diralat. Jika ditelusuri lebih dalam, penyebabnya sangat beragam. Mulai dari unsur kesengajaan, model copas berita hingga tren jurnalisme abal – abal. Hal seperti ini sangat jarang kita jumpai di masa orde baru.

Meskipun dilacak dan digali oleh wartawan dilapangan, namun berita yang sesungguhnya dipilah, disaring dan diframing di meja redaksi. Alhasil, redaktur dan editor memiliki peranan yang sangat penting dalam menyajikan menu berita apa yang akan dihidangkan ke masyarakat. Lalu, apa yang harus kita lakukan sebagai masyarakat awam?

Pertama, Tidak Reaktif
 
Jangan mudah berkomentar dan berbagi berita. Bisa jadi dalam beberapa hari, akan muncul counter, klarifikasi maupun ralat pemberitaan. Meskipun sumbernya dicantumkan, tetap akan mempengaruhi kredibilitas kita dimata publik.

Mungkin kita menikmati status sosial sebagai perowi berita yang paling update. Dimana kita menjadi perowi pertama dalam suatu sanad berita. Followernya banyak, menjadi sumber rujukan dll. Namun hal itu tidak berarti apa – apa jika pada akhirnya mereka menilai diri kita bukan pembawa kabar yang shahih.

Jika dimasa lalu, ada ilmu “Jarh wa Ta’dil” untuk menilai kualitas para perawi hadits, mungkin dimasa kini perlu juga dikembangkan ilmu serupa. Baik untuk menilai para pewarta, media massa, laman berita, situs online, fanspage hingga para aktivis media sosial.

Kedua, Cek & Ricek
 
Interaksi antara pemain utama dengan pemain bayangan itu cederung dinamis. Kadang berbagi peran, kadang berebut peran. Hal seperti ini bukan hanya terjadi diatas lapangan hijau atau film, tapi juga menjalar ke semua sendi kehidupan.

Dalam suatu tender/lelang, ada yang menjadi kontraktor utama adapula yang hanya berstatus kontraktor pendamping. Dalam kontestasi pilkada, ada yang serius ingin berjuang adapula yang memainkan peran sebagai pemecah suara/dukungan. Ada investor, ada spekulan. Ada tim sukses resmi, ada tim sukses bayangan. Begitulah seterusnya, daftarnya masih banyak.

Pada kasus berita situasinya agak unik, dimana ada laman resmi, ada laman independen dan bahkan adapula laman tandingan. Laman resmi mencerminkan kebijakan organisasi yang resmi dan kaku, laman independen cenderung berafiliasi dan menjadi pemain bebas sedang laman tandingan seringkali mengkonter dan memberikan wacana kritis.

Dalam menikmati berita di media (khususnya media sosial) kita harus memahami pola ini. Kita tidak bisa lagi menggunakan kaidah “Undzur ma qala wala tandzur man qala”. Sebaliknya, kita harus benar – benar tahu siapa yang tengah berbicara. Selain itu, kita juga perlu membandingkan dengan kabar – kabar lain yang masyhur sehingga timbul keyakinan yang kuat atas kebenaran berita. Karena statusnya sebagai kabar yang mutawatir.

Ketiga, Berlepas Diri
 
‘Ali bin Abu Thalib ra berkata “Jika suara terlalu ramai, maka kebenaran akan tersembunyi”. Dalam teori ekonomi, kita mengenal Hukum Gresham “Bad money will drives out good money”. Mau tahu kesamaan atas kedua ucapan itu? Yakni, orang – orang baik cenderung menahan diri (bahkan berlepas diri dan ber-uzlah) jika fitnah semakin pekat.

Jangan mudah terlibat dalam pusaran fitnah jika tidak membawa kompas kebenaran. Lebih baik kita menepi, memenjarakan lidah untuk sementara waktu atau berganti topik dan orientasi yang sudah jelas membawa maslahat.

Kita tidak boleh menyalahkan ijtihad Abdullah bin Umar ra yang memilih untuk ber-tawaqquf saat meletus perang Shiffin. Dan kita harus angkat topi terhadap sikap Amirul Mukminin Umar bin Abdul Azis yang tidak mau membicarakan perselisihan dikalangan shahabat. Dia berkata “Sebagaimana Allah menyelamatkan tanganku dari zaman itu (tidak hidup dimasa itu), maka aku tidak mau mengotori mulutku dari membicarakan mereka”.

Khatimah
 
Kita dibolehkan membicarakan suatu keburukan jika faktanya terpampang secara gamblang tanpa ada keraguan. Itupun dalam kerangka untuk mencari ibrah, memberi peringatan atau merumuskan solusi.

Namun, jika fitnah mulai menimpa orang – orang mulia, ada baiknya kita “rehat” sejenak, hingga benar – benar jelas apa dan bagaimana kondisi yang sebenarnya. Semoga kita semakin bijaksana. Wallahu a’lam.[ms]

Penulis : Eko Jun

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kabari Aku @ Majelis I’tibar"

Post a Comment