Menghargai “Insya Allah” @ Majelis I’tibar

Iklan Advertisement
Menghargai “Insya Allah” @ Majelis I’tibar
Majelissirah.com - Secara prinsip, segala sesuatu yang disandingkan dengan nama Allah maka kedudukannya menjadi tinggi dan mulia. Seperti halnya Kalamullah, Baitullah bahkan hingga ‘Abdullah. Terkecuali jika diberi tone negatif, seperti ‘Aduwullah, Laknatullah dll.

Diantara kalimat yang disandingkan dengan Allah tapi kurang mendapatkan perhatian dan penghargaan yang semestinya adalah kalimat Insya Allah. Kalimat itu begitu mudah terucap, namun seringkali malah membuat lawan bicaranya menjadi ragu. Terlebih dalam beberapa urusan spesifik, seperti janji untuk membayar hutang.

Padahal, nabi yang mulia dan orang shaleh pernah mendapatkan pelajaran yang sangat mahal dengan kalimat Insya Allah. Karena kalimat Insya Allah berhubungan sangat kuat dengan iradah Allah. Apa dan bagaimana pelajaran yang diterima oleh mereka ?

Pertama, Kisah Nabi Sulaiman As
 
Suatu ketika, Nabi Sulaiman berujar “Malam ini aku akan mendatangi 100 istriku. Dari mereka kelak akan lahir 100 mujahid yang berjuang dijalan-Nya”. Nabi Sulaiman lupa mengucapkan “Insya Allah”. Apa yang terjadi?

Dari 100 istri yang didatanginya malam itu, hanya 1 saja yang bisa mengandung. Setelah anaknya lahir, ternyata hanya berwujud setengah manusia. Apakah anaknya terlahir cacat, cebol atau kerdil sehingga digambarkan sebagai setengah manusia? Wallahu a’lam.

Rasulullah saat menyampaikan kisah tersebut berkomentar “Andai Nabi Sulaiman tidak lupa mengucapkan kalimat Insya Allah, niscaya akan lahir 100 anak yang menjadi mujahid berjuang dijalan Allah”.

Inilah kisah nabi Sulaiman yang memiliki 100 istri, dan beliau sanggup mendatangi semua istrinya sekaligus dalam waktu semalam. Dan beliau memiliki mimpi yang besar terhadap calon anak – anaknya kelak, yakni menjadi para mujahid. Namun semua tidak terkabul, hanya karena beliau lupa mengucapkan Insya Allah.

Kedua, Kisah Nabi Muhammad SAW
 
Merasa tidak memiliki ilmu untuk berdiskusi dengan Muhammad, kaum Quraisy mengirim utusan ke Madinah. Untuk bertanya kepada ahli kitab (Yahudi) tentang urusan yang dibawa oleh Muhammad.

“Tanyakan 3 hal kepadanya. Jika bisa menjawabnya, berarti dia memang nabi. Jika tidak bisa, berarti dia hanya mengaku – ngaku saja. Pertama, tentang orang yang berada didalam gua. Kedua, tentang orang yang melakukan perjalanan dari ujung timur hingga ujung barat. Ketiga, tentang ruh” jelas pemuka agama Yahudi kepada utusan Quraisy.

Setelah ditanyakan tentang persoalan tersebut, Nabi Muhammad saw menjawab “Datanglah kesini besok”. Beliau menanti malaikat Jibril turun untuk membawa jawabannya, tapi lupa mengucapkan Insya Allah. Apa yang terjadi?

Wahyu “terlambat turun”. Rasulullah sangat sedih tidak bisa menjawab soal ujian dari kaum yahudi karena wahyu belum turun. Selama beberapa waktu, kaum Quraisy gembira ria karena merasa menang, bisa mematahkan klaim kenabian Muhammad.

Padahal, pada kisah yang lain kita sering mendapati malaikat Jibril turun memberi tahu sebelum kejadian, atau sesaat setelah pertanyaan terlontar. Misalnya saat didatangi oleh Abdullah bin Salam, dia menanyakan 3 perkara yang hanya bisa dijawab oleh seorang nabi, yakni : (1) Tanda pertama terjadinya kiamat, (2) Apa hidangan pertama yang dinikmati oleh ahli surga, dan (3) Mengapa anak kadang mirip bapaknya, kadang mirip ibunya.

Rasulullah tersenyum dan berkata “Baru saja malaikat Jibril datang membawa jawaban atas pertanyaanmu”. Setelah jawaban disampaikan, Abdullah bin Salam pun masuk Islam.

Ketiga, Kisah Ibnu Taimiyah
 
Suatu saat, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengusulkan strategi perang demi mengusir bangsa Tartar dari suatu wilayah. “Jika kita melakukan ini, maka kita akan menang” ujarnya bersemangat.

Salah satu orang yang hadir dalam majelis itu menyela “Wahai syaikh, ucapkanlah Insya Allah”. Lalu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah segera berujar “Insya Allah, dan ini adalah bentuk optimisme” tegas. Apa yang terjadi?

Bi idznillah, Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin.

Khatimah
 
Memahami agungnya sesuatu bisa dilihat dari peristiwa yang berkaitan dengannya. Kalimat Insya Allah telah memberikan pelajaran berharga kepada nabi dan orang shaleh. Maka sudah selayaknya kita memberikan penghargaan yang besar kepada kalimat Insya Allah. Khususnya saat kita mengucapkannya, sebagai penguat janji kepada orang lain. Wallohu a’lam.[ms]

Penulis : Eko Jun

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menghargai “Insya Allah” @ Majelis I’tibar"

Post a Comment