Benarkah Kepemimpinan Itu Tidak Berbicara Masalah Agama?

Iklan Advertisement
Benarkah Kepemimpinan Itu Tidak Berbicara Masalah Agama?
Majelissirah.com - Benarkah Kepemimpinan Itu Tidak Berbicara Masalah Agama? (Tanggapan Terhadap Pendapat Ustadz Maulana di Acara “Islam itu Indah” Trans TV) Oleh :  H. Ahmad Zamroni, SS, M.Pd, MA (Kandidat Doktor, Universitas Islam Negeri  Malang).

Hakikat Kekuasaan Dalam Islam

Dalam Islam hakikat kekuasaan adalah amanat Allah SWT yang diberikan kepada manusia, yang kemudian manusia boleh mengembankan amanat kekuasaan tersebut kepada pihak-pihak yang ahli. Sebagaimana termaktub dalam al-Quran:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al-Baqarah:30).

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. (al-Ahzab: 72)

Suksesi dan Demokrasi

Dalam mengangkat pemimpin, sejarah Islam mencontohkan dengan beberapa alternatif cara;  Pemilihan langsung seperti terjadi pada pemilihan kholifah Abu Bakar, kaum muhajirin dan anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah dan secara langsung bermusyawarah dan membaiat pemimpin. Penunjukan dari pemimpin sebelumnya seperti dilakukan Khalifah Abu Bakar kepada penggantinya Umar, atau melalui Lembaga perwakilan sebagaimana terjadi ketika Umar membuat lembaga ahlul hal wal aqdi untuk memilih penggantinya.

Hal ini dapat disimpulkan bahwa pengangkatan pemimpin tidaklah harus kaku, tapi mengikuti perkembangan zaman, kalaupun kemudian sejak abad 15 muncul sistem demokrasi, maka itu tiada lain hanyalah modifikasi dan refleksi terhadap sistem-sistem sebelumnya.

Demokrasi hanyalah cara mengatur tatanan hubungan antara rakyat dengan negaranya, ia bersifat teknik bukan subtansial, sedangkan Islam secara subtansi mengatur dasar-dasar melakukan kepemimpinan/kepemerintahan, diantaranya :
1. Al-Syura (Musyawarah): pengambilan keputusan dengan mengikutsertakan pihak-pihak yang berkepentingan, baik secara langsung maupun perwakilan (Ali Imron:159, as-Syura:38).
2. Al-Musawa (kesetaraan): pandangan bahwa setiap manusia mempunyai kedudukan yang setara (al-Hujurat:13)
3.  Al-Adalah (Keadilan): memutuskan sesuatu baik hukum, peraturan, maupun kebijakan secara objektif. (al-Nisa 135, al-Maidah:8)
4. Al-Hurriyah (Kebebasan): jaminan setiap orang untuk hidup secara mandiri, bertanggungjawab dan bermoral. Sebagaimana termaktub dalam surat al-Taubah:105:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Lalu kepada siapakah ketaatan kita berikan? Ketaatan tersebut terhadap ulil amri dan representasi ulil amri (lembaga maupun pejabatnya) selama tidak menyuruh kepada kepada kemaksiatan(لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق) . Sebagaimana juga Rasulullah ketika mengangkat panglima perang dalam peperangan kaum Islam, maka panglima tersebut adalah representasi dari pemberi amanat.
Pemimpin Haruskah Muslim?

Akhir-akhir ini perdebatan haruskah seorang pemimpin itu muslim ramai. Diawali dengan ceramah agama ust. Maulana program “Islam Itu Indah” yang ditayangkan Trans TV. Pada kesempatan tersebut, yang disiarkan pada Senin, (9/11/2015) pagi menyatakan dalam Islam tidak mempermasalahkan perihal agama dalam kepemimpinan:

“Ah, agamanya beda! Ga usah berbicara agama, kepemimpinan itu tidak berbicara masalah agama,”

Selanjutnya, Ustadz Maulana mengibaratkan masalah kepemimpinan pada suatu pesawat.

“Jadi kau tidak mau naik pesawat kalau pilotnya agama lain? Masa kau mau tanya sama pramugari, pilotnya siapa, agamanya apa. Jadi kau tidak mau naik pesawat itu. Tidak usah seperti itu. Adakalanya memang perlu untuk berbicara masalah agama. Betul tidak?”

Pernyataan Ustadz Maulana ini sontak membuat beberapa kalangan muslim marah dan menyuruh Ustadz Maulana bertaubat. Mereka berpendapat bahwa di dalam Alqur’an, Allah SWT melarang kaum mukmin untuk menjadikan orang kafir sebagai wali, pemimpin ataupun orang kepercayaan, yang dikarenakan dikhawatirkan mereka akan berkhianat dan membuat kerusakan dengan berbuat dosa di muka bumi. Dalil-dalil yang dikemukakan adalah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi “pemimpin-pemimpin (mu)”; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Q.S. al-Māidah : 51)

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi “pelindung” bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al-Anfaal:73)

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi “wali” dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). (QS Ali Imran : 28)

Dalam pandangan mereka; Apabila kita diberi kewenangan untuk menentukan/memilih seseorang untuk menduduki jabatan tertentu, yang berpengaruh bagi kemaslahatan umum, maka pilihlah orang islam yang taat sebagai pilihan kita, agar amanah bisa terjaga. Memilih seorang pemimpin di sini menurutnya entah kepala desa, camat, bupati, gubenur ataupun presiden, maka bila memungkinkan pilihlah dari kalangan mukmin yang taat, agar amanah bisa terjaga.
Setuju atau tidak setuju, seharusnya ditelusuri dahulu makna kata وَلِيٌ – أَوْلِيَاء yang dimaksudkan dalam ayat-ayat tersebut.

Pertama penelusurannya adalah secara etimologi, pengertiannya dalam kamus-kamus adalah sebagai berikut:

1. Al-Quran Terjemahan Depag RI sebagai termaktub di atas: Pemimpin dalam QS.al-Maidah 51, pelindung dalam QS. AL Anfaal:73, dan diartikan tetap “wali” pada QS Ali Imran 28 dengan diberi catatan: “Wali jamaknya auliyaa: berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong”.
2. Kamus al-Muhith diterangkan dengan makna sama yaitu teman akrab, yang dicinta, penolong, jika ia menjadi kata benda, apabila menjadi mashdar artinya kekuasaan dan penguasa:

الوَلِيُّ الاسمُ منه، والمُحِبُّ، والصَّدِيقُ، والنَّصيرُ. ووَلِيَ الشيءَ، و عليه وِلايَةً وَوَلايَةً، أَو هي المَصْدَرُ، وبالكسر الخُطَّةُ، والإِمارَةُ، والسُّلطانُ.

Kedua penelusuran terhadap maksud ayat dengan membuka kembali wacana tafsir al-Quran yang ada terhadap ayat pelarangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai auliya’. Dalam QS Al-Maidah : 51 yang berbunyi: لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ ternyata ada perbedaan penafsiran kalangan mufassirin :

1. Kalangan yang menafsirkan larangan berteman akrab, meminta tolong dan perlindungan

Di antara kitab-kitab yang menafsirkan seperti ini adalah :

a. Tafsir ar-Raziy:

ومعنى لا تتخذوهم أولياء : أي لا تعتمدوا على الاستنصار بهم ، ولا تتوددوا إليهم

“Jangan bersandar kalian terhadap pertolongan mereka dan jangan kalian saling berkasih sayang kepada mereka”

b. Tafsir al-Baiḍāwiy

{ ياأيها الذين ءَامَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ اليهود والنصارى أَوْلِيَاء } فلا تعتمدوا عليهم ولا تعاشروهم معاشرة الأحباب

“Jangan bersandar kalian terhadap mereka dan jangan kalian mempergauli mereka seperti mempergauli orang yang dicinta”

c. Tafsir al-Zamakhsyariy

لا تتخذوهم أولياء تنصرونهم وتستنصرونهم وتؤاخونهم وتصافونهم وتعاشرونهم معاشرة المؤمنين

“Jangan kalian menjadikan mereka auliya’ yaitu kalian menolong mereka, meminta tolong mereka, bersaudara dengan mereka, tinggal dan mempergauli mereka seperti pergaulan dengan orang-orang mukmin”.

d. Tafsir al-Alūsiy

لا يتخذ أحد منكم أحداً منهم ولياً بمعنى لا تصافوهم مصافاة الأحباب ولا تستنصروهم

“Jangan kalian tinggal dan mempergauli mereka seperti pergaulan dengan orang-orang tercinta dan meminta tolong kepada mereka”

2. Kalangan yang menafsirkan larangan menjadikannya pemimpin, di samping larangan meminta tolong dan perlindungan.

a. Tafsir al-Khāzin : Larangan menjadikannya pemimpin dan penolong.

فنهى الله المؤمنين جميعاً أن يتخذوا اليهود والنصارى أنصاراً وأعواناً على أهل الإيمان بالله ورسوله وأخبر أنه من اتخذهم أنصاراً وأعواناً وخلفاء من دون الله ورسوله والمؤمنين فإنه منهم وإن الله ورسوله والمؤمنين منه براء

“Allah melarang semua orang-orang mukmin menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai penolong atas ahli iman kepada Allah dan Rasulnya, Allah juga mengabarkan bahwasannya siapa yang menjadikan mereka sebagai penolong dan pemimpin selain Allah, Rasulnya dan orang-orang beriman maka ia telah menjadi bagian dari mereka. Sesungguhnya Allah, Rasulnya dan orang-orang beriman terbebas darinya ”

b. Tafsir Ibnu Katsīr : Larangan menjadikannya penolong, pegawai.

ينهى تعالى عباده المؤمنين عن موالاة اليهود والنصارى، الذين هم أعداء الإسلام وأهله، قاتلهم الله،……….(إلى أن قال)……….. عن عِياض: أن عمر أمر أبا موسى الأشعري أن يرفع إليه ما أخذ وما أعطى في أديم واحد، وكان له كاتب نصراني، فرفع إليه ذلك، فعجب عمر [رضي الله عنه] قال: إن هذا لحفيظ، هل أنت قارئ لنا كتابًا في المسجد جاء من الشام؟ فقال: إنه لا يستطيع [أن يدخل المسجد] فقال عمر: أجُنُبٌ هو؟ قال: لا بل نصراني. قال: فانتهرني وضرب فخذي، ثم قال: أخرجوه، ثم قرأ: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ [بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ}

“Allah melarang hambanya orang-orang beriman menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai penolong, teman dekat, yang mana mereka adalah musuh Islam………….Dari ‘Iyadh diceritakan bahwa Umar memerintahkan Abu Musā al-Asy’ariy untuk menghadap melaporkan apa yang ia lakukan dalam satu waktu, sedangkan ia memiliki seorang sekretaris Nasrani, kemudian ketika ia melapor kepada beliau, Umar heran seraya berkata: sungguh ini terpelihara, apakah engkau pembaca Kitab di masjid yang datang dari Syam?. Abu Musa menjawab: ia tidak bisa masuk masjid, Umar bertanya lagi: apakah ia junub?. Abu Musa menjawab: tidak, ia seorang Nasrani. Umar lalu menghardikku dan memukul pundakku, kemudian berkata: keluarkan ia! Lalu ia membaca ayat QS al-Māidah : 51”.

Keterangan lebih luas, diterangkan dalam tafsir Mafātihul Ghaib karya al-Raziy bahwa Allah SWT menurunkan ayat-ayat yang banyak semakna dengan ayat di atas yaitu:

1– { لاَ تَتَّخِذُواْ بِطَانَةً مّن دُونِكُمْ } [ آل عمران : 118 ]
2- { لاَّ تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بالله واليوم الاخر يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ الله وَرَسُولَهُ } [ المجادلة : 22 ]
3- { ياأيها الذين ءَامَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ عَدُوِّى وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء } [ الممتحنة : 1 ]
4- { والمؤمنون والمؤمنات بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ } [ التوبة : 71 ] .

Dari ayat ini, al-Raziy memberitahukan bahwa orang beriman ketika menjadi wali bagi orang kafir mengandung 3 macam:

1. Jika si Mukmin ridha dengan kekafirannya dan berhubungan dengan karena ridha tadi, maka dilarang. Karena membenarkan kekafiran menjadi kafir, rela adanya kekafiran adalah kafir. Seorang yang beriman tidak dimungkinkan dengan sifat seperti ini.
2. Jika si Mukmin hanya ingin berhubungan baik saja secara dhahir (tanpa meridhai adanya kekafiran), maka (boleh) tidak dilarang.
3. Ia di tengah-tengah antara dua sikap di atas, yaitu dengan menjadi wali kafir dengan cenderung saling tolong menolong atas dasar kekerabatan maupun saling mencintai, disertai dengan anggapan bahwa agama mereka salah. Sikap seperti ini tidak akan menjadikan kita kafir namun lebih baik dihindari, karena menjadi wali mereka akan mendorong kita menganggap baik cara-cara mereka dan ridha agama mereka, karena Allah SWT memperingatkan dengan ayat:{ وَمَن يَفْعَلْ ذلك فَلَيْسَ مِنَ الله فِي شَىْء } “Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah”.

Bagaimana Kita Bersikap?

Jelas di atas, bahwa dari segi etimologi dan penafsiran terdapat perbedaan dalam memahami larangan menjadikan wali Yahudi dan Nasrani ini, apakah wali ini sebatas pergaulan akrab atau lebih jauh lagi menjadikan mereka pemimpin. Maka ada dua pilihan bagi kita dalam bersikap, tanpa harus menganggap sikap salah satunya salah.
Jikalau ditelusuri lebih lanjut, ternyata setelah larangan menjadikan wali Yahudi dan Nasrani ini ada pengecualian (istintsna) di QS.Ali Imran 28 yaitu ayat yang berbunyi: إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً (kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka).

Jika ditelusuri dalam tafsir-tafsir, pengecualian bolehnya menjadikan wali (dengan segala maknanya: teman akrab, pemimpin, pelindung, penolong) jika dalam kondisi:

1. Jika kaum muslim dalam kekuasaan/pengaruh kuat Nasrani/Yahudi, dikuatirkan keselamatan jiwa kaum muslimin. Maka boleh berteman dekat dan mengakui pemerintahannya dengan lisan kita, sedangkan hati tidak!, serta tidak mengikuti kekafiran mereka. Keterangan ini disebutkan dalam Tafsir al-Ṭabariy sebagai berikut:

“إلا أن تتقوا منهم تقاة”، إلا أن تكونوا في سلطانهم فتخافوهم على أنفسكم، فتظهروا لهم الولاية بألسنتكم، وتضمروا لهم العداوة، ولا تشايعوهم على ما هم عليه من الكفر

“……kecuali kalian dalam kekuasaan mereka, kalian takut mereka karena keselamatan jiwa kalian, maka kalian menunjukkan bagi mereka kedekatan dan kekuasaan dengan lisan kalian sambil menyembunyikan dalam hati permusuhan dan jangan mengikuti kekafiran mereka”.

حدثني المثنى قال، حدثنا عبد الله بن صالح قال، حدثني معاوية بن صالح، عن علي، عن ابن عباس قوله:”لا يتخذ المؤمنون الكافرين أولياء من دون المؤمنين”، قال: نهى الله سبحانه المؤمنين أن يُلاطفوا الكفار أو يتخذوهم وليجةً من دون المؤمنين، إلا أن يكون الكفارُ عليهم ظاهرين، فيظهرون لهم اللُّطف، ويخالفونهم في الدين. وذلك قوله:”إلا أن تتقوا منهم تقاةً”.

“……….dari Ibnu Abbas tentang firman Allah……beliau berkata: Allah melarang orang-orang beriman untuk bersikap lembut terhadap kaum kafir dan menjadikan mereka sahabat karib selain orang mukminin, kecuali orang-orang kafir berkuasa atas mereka, lalu menampakkan sikap lembut dan berbeda dalam beragama”.

حدثني المثنى قال، حدثنا قبيصة بن عقبة قال، حدثنا سفيان، عن ابن جريج، عمن حدثه، عن ابن عباس:”إلا أن تتقوا منهم تقاة”، قال: التقاة التكلم باللسان، وقلبُه مطمئن بالإيمان.

“……….dari Ibnu Abbas, إلا أن تتقوا منهم تقاة: takut / tunduk dengan lisan sedangkan hatinya tetap damai dalam iman”.

Dalam Tafsir Ibnu Katsīr juga diterangkan:

وقوله: { إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً } أي: إلا من خاف في بعض البلدان أوالأوقات من شرهم، فله أن يتقيهم بظاهره لا بباطنه ونيته.

“……….kecuali bagi siapa yang kuatir (akan keselamatannya) dari sifat buruk mereka di sebagian negara dan waktu tertentu, ia boleh takut dengan dhahirnya sedangkan bathin dan niatnya tidak”

2. Jika kaum muslim dan Nasrani/Yahudi hidup damai; tidak menumpahkan darah kaum muslim dan tidak menjajah hartanya.

Diterangkan dalam Tafsir al-Ṭabariy:

حدثني المثنى قال، حدثنا إسحاق قال، حدثنا حفص بن عمر قال، حدثنا الحكم بن أبان، عن عكرمة في قوله:”إلا أن تتقوا منهم تقاة”، قال: ما لم يُهرِق دم مسلم، وما لم يستحلّ ماله.

“……….dari Ikrimah, dalam ayat…………:beliau menafsirkan: selama tidak menumpahkan darah muslim dan tidak menjajah hartanya.”

Demikian terjadi perbedaan pendapat yang ada sehingga dalam konteks Indonesia, maka kita serahkan kepada diri kita masing-masing, apakah Indonesia ini masuk dalam kondisi yang pertama atau kondisi yang kedua?

Sebagaimana kita tahu bahwa kondisi kita di Indonesia ini bukan negara islam, bukan negara kafir, bukan negara sekuler, namun menjadi wadah pemersatu antar agama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apalagi kalau kita merefleksikan bahwa negara-negara Arab Islam sampai detik ini masih dalam kondisi perang sesama aliran agama Islam dengan dukungan kaum kafir. Belum ada negara ideal Islam sampai saat ini yang bisa kita contoh 100% dalam kehidupan damai dan beribadah dengan tenang, hanya kita sendiri yang bisa menciptakannya.

Semoga Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika bisa menjadi alternatif kedamaian antar agama.

Wallahu a’lam
————————————————
Rujukan :
Al-Alūsiy, Shihabuddīn Mahmūd, Rūh al-Ma’āniy fī Tafsīr al-Qur’an al-Adzim wa al-Sab’i al-Matsāniy, Maktabah Shamela. Maktabah Shamela.
Al-Baidhawi, ânwârut Tanzîl wa asrârut Ta’wîl, Maktabah Shamela.
Al-Fairuzabadiy, al-Qamus al-Muhith, Maktabah Shamela.
Al-Khazin, Ali ibn Muhammad Ibn Ibrahim. Lubâbut-ta’wîl fî ma’ânit-tanzîl. Maktabah Shamela.
Al-Zamakhsyariy, Abu al-Qāsim Mahmūd, al-Kasyāf, Maktabah Shamela.
Ar-Râzi, Fakhruddin. Mafatihul Ghaib. Maktabah Shamela.
At-Tobary, abu Ja’far Muhammad ibn Jarir, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Ar-Risalah, 310H.
Departemen Agama RI, Terjemah Al-Quran.
Ibnu Katsir, Ismail ibnu Umar. Tafsîrul Qurânil Adzîm, Madinah: Dar Thaybah.1420 h.
Keputusan Munas Alim Ulama NU 1997 dalam H.Imam Ghazali dan A.Ma’ruf Asrori, Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, Surabaya: LTN NU Jatim dan Diantama, 2004, 617.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Benarkah Kepemimpinan Itu Tidak Berbicara Masalah Agama?"

Post a Comment